Tampilkan postingan dengan label kegiatan anak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kegiatan anak. Tampilkan semua postingan

Senin, September 16, 2019

Membersamai Anak Tumbuh dan Berkembang


LET THEM BRIGHT WITH THEIR OWN LIGHTS

 “Apa yang sebenarnya Aa rasakan, apa yang sebenarnya Aa tidak suka? Apakah tidak suka belajar atau tidak suka sekolah?”
“Aa mau dan suka belajar, tapi di sekolah Aa tidak belajar apa yang Aa butuhkan.”

Bergerak dari hal tersebut, aku menetapkan untuk selalu berusaha fokus dengan apa yang menjadi kebutuhan anak-anak menurut mereka agar mereka dapat berkembang sesuai dengan harapan dirinya, menemukan dirinya dan menjadikan dirinya bermanfaat melalui peran yang dipilihnya.

Semua Ada Waktunya
Anakku memperhatikanku dengan seksama. Kemudian dia berkata,”Nina juga nanti mau nulis jurnal seperti Mamah dan Kakak.”
Aku langsung menjawab spontan, “Hayuk atuh dek, kita mulai.”
Tanpa kuduga dia menjawab,”Nanti Mah, bukan sekarang. Nina tuh masih setengah hati, menulisnya  pun setengah mati.”
Tertegun aku mendengar jawabannya.

Aku kembali mengingat kejadian empat tahun lalu, saat Nina ditantang papahnya untuk belajar membaca dengan janji dia boleh meminta apa yang diinginkannya sebagai hadiah. Hampir setahun berselang, belum ada tanda-tanda putri kecilku ini mulai bisa membaca. Hanya minatnya akan buku yang tetap tinggi, yang menjadikan kami, aku dan kakak-kakaknya, mempunyai tugas membacakan buku secara bergantian setiap hari. Sesekali aku suka mencoleknya dan mengingatkan akan tantangan dari sang ayah. Dengan santai, Nina menjawab,”Adek sedang belajar berhitung Mah, belum belajar baca.”
“Jadi kapan belajar bacanya?” tanyaku
“Nanti kalau sudah belajar berhitung”, balasnya

Memasuki bulan Syawal di tahun tersebut, aku perhatikan Nina selalu asyik dengan komik yang sama. Kemana-mana selalu dibawa, sampai lecek. Tampak serius di satu bagian, terharu di bagian yang lain dan tertawa di bagian yang berbeda lagi. Penasaran aku pun bertanya,”Dek, emang ngerti? Bisa bacanya?”
“Bisa”, jawabnya mantap
“Mau dong Mamah dibacain”, pintaku

Dibacakannya dengan keras komik tersebut dari awal sampai akhir dan lancar. Tercatat 1 jam 20 menit dia membacakannya untukku.
“Sejak kapan bisa baca?” tanyaku penasaran
“Ga tau, Nina lupa”, jawabnya enteng

Belajar dari putri kami, anak mempunyai waktunya sendiri untuk mempelajari sesuatu hal dan mereka paham akan kesiapan dirinya. Ketika anak siap, belajar menjadi lebih mudah. Sayangnya, aku seringkali masih saja gatal untuk mempercepat prosesnya.

Menikmati Proses
Jalan-jalan, jajan dan belanja adalah tiga hal yang disukai Amira. Jalan-jalannya sederhana, yang penting keluar dari rumah. Jalan kaki ke bukit atas atau sekedar berkeliling dengan motor bersama Papah. Apalagi kalau ditambah jajan, wisata kuliner, dan belanja, senyumnya akan semakin mengembang.
Saat jajan, jenis makanan yang diminati pun seperti ada musimnya. Ada musim ayam geprek atau musim ramen. Sebelumnya pernah ada musim pancake, donat,  dan pizza.

Ketika musim pancake tiba, maka hampir setiap hari tepung dan telor menghilang dari stok dapur. Selama belum mendapatkan hasil pancake yang pas menurutnya, maka kami sekeluarga masih akan mendapatkan suguhan pancake, meskipun menurut kami sudah enak.

Di lain waktu datanglah musim donat. Tiap hari oprak oprek resep donat. Setelah menemukan resep yang gue banget dan dirinya puas, tiba waktunya musim berganti.  

Jika ditanya mengapa tidak membuat lagi berbagai makanan yang pernah dicobanya, maka selalu dijawab singkat dengan “lagi ga mau”, dan ditunjukkan dengan kesibukan baru oprak-oprek resep makanan yang berbeda lagi. Pernah kukira dia sedang mencoba resep kukis coklat, eeh ternyata membuat kukis wortel dicampur pellet untuk kelinci…

Eksperimen ini bukan hanya berlaku untuk makanan. Pernah ada slime, yang berlangsung hampir dua tahun sampai menemukan “Original Slime Recipe”. Kali lain membuat template blog yang menghasilkan tampilan blog yang selalu berubah setiap harinya. Itu semua dilakukannya karena suka, mencoba sampai mendapatkan hasil yang diharapkannya.

Menemukan Pola Belajarnya Sendiri
“Nina mau belajar masak” jelas Nina saat menunjukkan rencana belajarnya dua tahun lalu.
Segera aku mencoba menyiapkan program belajar memasak untuknya menurut bayanganku.
Ketika melihatnya selalu asyik dengan buku-buku, aku mengajaknya untuk memasak bersama.
“Mah, sekarang Nina sedang belajar tentang bahan masakan”, jawabnya sambil menunjukkan halaman tentang berbagai macam rempah dan bumbu lainnya di buku yang dibacanya.
Selama setahun pertama, Nina tetap asyik membaca, dari mulai kamus bergambar sampai berbagai buku resep yang dipinjam dari Eninnya. Selain itu dia senang bertanya segala sesuatu yang ada di dapur, menu makan yang sedang kusiapkan, atau mencoba nguleg bumbu dan sekedar memegang sutil serta mengaduk masakan. Tahun kedua, Nina sibuk bertanya tentang kemampuan Mamanya memasak, mengapa masakannya selalu berputar menunya, menu harian keluarga dan pesanan ke Mang Sayur. Lebih tepatnya di tahun tersebut, Nina lebih banyak memotivasi Mama untuk mencoba resep-resep baru hasil bacanya. Dia ikut membantu memasukkan atau mencampur bahan-bahan. Di samping itu dia rajin memberi saran menu harian keluarga dan banyak mencoba makanan-makanan baru yang sebelumnya tidak mau dicobanya. Nina menjadi andalan untuk mencicipi masakanku. Di tahun kedua ini, Nina sudah bisa memasak nasi untuk keluarga dan menggoreng telur untuk sarapannya sendiri.
Memasuki tahun ketiga, Nina mulai praktek memasak. Kalau dia sedang ingin mencoba memasak, maka aku dilarangnya untuk ke dapur. Dia mulai berani mengolah bahan makanan yang tersedia, menunya mulai dari nasi goreng, sop sayuran, sop ikan nila, berbagai variasi orak arik telur, termasuk juga mengolah ayam. Termasuk menyiapkan bekal untuk kegiatan pramuka di hari Rabu, berupa variasi pasta atau omelet, karena bosan dengan bekal yang selalu disediakan Mama-nya yang ga mau susah, nasi dan ayam goreng plus rebus sayuran. Program memasak ini masih berlangsung sampai sekarang.

Satu ketika Nina menemaniku berkebun di halaman depan, dia menyampaikan,”Nina juga mau punya kebun sendiri, nanam-nanam bunga. Boleh Ma?”
“Boleh, Nina mau nanam di sebelah mana?” jawabku bersemangat
“Bukan sekarang Ma. Sekarang Nina sedang belajar tentang tanamannya dulu.” Jawabnya

Belajar dari pengalaman program memasak Nina, aku langsung menahan diri dan menyadari anakku tahu tahapan apa yang ingin dilakukannya.

Be Patient. They’ll tell you
“Kak, gimana ceritanya berangkat sendiri teh?” dengan antusias aku bersiap mendengar cerita perjalanan Amira.
“Biasa aja” jawabnya datar
“Gimana perasaannya? Waktu naik kereta, terus naik KRL…kan Kakak belum pernah”, lanjutku lagi masih dengan penasaran
“Ya ga gimana gimana. Kakak naik kereta, cari tempat duduk terus duduk. Pas harus turun ya turun. Ikut petunjuk yang dikasih aja” jawabnya tetap datar
Aku pun menyerah dan melanjutkan aktivitas
Ketika kami sedang duduk santai, tiba-tiba Amira memulai percakapan,”Mah, tau ga….” Dan meluncurlah berbagai kisah perjalanan dan eksplorasi yang baru dijalaninya.

“Mah, tadi teman Aa curhat…”
“Mah, tadi asyik lho! Nina sama teman-teman main…”
“Mamah lihat ga tadi Kakak latihan…”

Itu adalah beberapa kata kunci awalan ketika anak-anak siap berbagi ceritanya denganku
Anak-anak selalu senang bercerita selama aku tidak terburu ingin mengetahuinya. Bersabar, mau menunggu dan kemudian mendengarkan.
  
Menetapkan Pilihan dan Berkomitmen Menjalankannya
Menekuni dunia menggambar dan menjalankan project membuat boardgame  selama empat tahun terakhir serta melatih Pramuka di dua sekolah dua tahun terakhir merupakan kegiatan si sulung. Di samping itu dia pun magang di sebuah tempat bermain boardgame dalam setahun terakhir. Hal ini membuat sulungku mengambil keputusan yang berbeda dari yang kami bayangkan.

Mah, Aa ga akan ambil Paket C ya, ga kuliah juga. Aa mau ngelanjutin project, magang dan ngajar”, tiba-tiba si sulung menyampaikan keputusannya.
“Yakin?” tanyaku bingung
“Yakin”, jawabnya mantap

Mengobrol dengannya menanyakan berbagai hal tentang keputusannya ini, aku merasakan bahwa anakku benar-benar yakin dengan pilihannya. Sebagaimana dulu dia mengemukakan alasan untuk mencari alternative belajar selain di sekolah, maka kali ini aku bisa melihat kesungguhannya. Sehingga bagianku adalah mendukungnya dan menjadi teman ngobrol yang bersedia mendengarkannya.

Do kNow Think
Pernah ada fase dimana aku tidak ingin melakukan apa-apa. DO NO THING! Mungkin lelah… :D
Namun ternyata aku tidak pernah benar-benar tidak melakukan apa-apa. Terlalu banyak hal yang sayang untuk dilewatkan, apalagi saat bersama anak-anak. Mereka terlalu dinamis dan selalu mendorongku tetap bergerak.
Maka kemudian aku mencoba mengurai kembali semua yang kulakukan (DO) dan mengenali manfaat serta pengaruhnya terhadap diri sendiri, anak-anak dan keluarga (kNOw) serta memikirkan tindak lanjut untuk memperbaiki, mengubah atau membesarkan laku yang telah dijalani (THINk).

Dan aku menemukan siklus penyemangatku untuk terus membersamai anak-anak menemukan peran kehidupannya, cemerlang dengan sinarnya sendiri. 


Bandung, 8 September 2019
Dita Wulandari
@Rumah3Bintang

(Disampaikan dalam Tacit Padhang Mbulan WAG Perak Diaspora, Ahad 15 September 2019)


Rabu, Februari 08, 2017

Presentasi Project Ternak Kelinci

Amira sempat terkejut ketika mengetahui dia mendapat giliran pertama untuk presentasi di depan pasukan penggalang Pramuka HS Bandung. Presentasi ini adalah program baru yang coba kami jalankan sebagai ajang berbagi dan menginspirasi di antara mereka.
Bukan hanya Amira, aku pun terkejut ketika mengetahuinya. Karena Amira baru 3 minggu naik golongan menjadi pramuka penggalang.

Selasa, Februari 07, 2017

Membuat Roti Goreng

Membuat roti bersama ternyata melatih diriku untuk berbagi. Berbagi peran dan menerima apapun hasilnya. Memfasilitasi keingintahuan anak-anak dan dorongan untuk mencoba.
Belajar menjelaskan tanpa menggurui apalagi ketika sama-sama merupakan pengalaman pertama.
Dengan begitu kami menikmati kebersamaan.
Hasilnya roti goreng ayam cincang yang mantap!
Alhamdulillah :)

#hari9
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#bunsayiip

Jumat, Mei 13, 2016

Membuat Sponge Cake Anti Gagal

Sponge Cake @Rumah3Bintang
Oleh-oleh Class for Friends PERAK 2016 salah satunya adalah cara membuat Sponge Cake Anti Gagal. Kelas ini digawangi oleh Naila, putri dari mbak Anggrahenny C Putri dan mas Ari Santoso yang jauh-jauh dari Palembang membawa ovennya ke Desa Boro. Meskipun hanya dapat mencicipi segigit dari Nina, rasa yang enak dan pas empuknya membuat nikmatnya terus melekat.

Alhamdulillah, mbak Putri berkenan berbagi resepnya di grup WA keluarga PERAK 2016, karena Amira dan Nina sudah tidak sabar ingin mencoba membuat. Hehehe...dasar emaknya yang ga pernah sedia apa-apa di rumah, proyek eksekusi resep ini tertunda lima hari; ga ada terigu, ga ada margarin, gas oven habis pula...!
Kami akhirnya hanya mencoba setengah resep saja, karena hanya punya telur 5 butir di rumah.
Amira dan Nina melakukan semua prosesnya sendiri. Aku sesekali saja menggantikan pegang mixer kalau anak-anak  sudah pegal-pegal saat mengocok gula dan telur.

Hasilnya...kue mengembang dengan bagus dan saat dipotong serta dimakan benar-benar seperti spons...empuk-empuk gitu!

Terima kasih ya Naila!

Bagi yang ingin mencoba, berikut ini kami sertakan resep dan cara membuatnya, lengkap dengan tips sukses dari Naila.
Bahan: 
8 btr telur
225gr tepung 
200gr gula
100gr mentega/margarin (lelehkan)

Cara: 
1. Panaskan oven. Lalu gula dan telur campur. Masukkan telur satu persatu, mixer dgn kecepatan rendah. Setelah telur tercampur kemudian besarkan kecepatan mixer hingga maksimal. Tujuannya, karena tidak pakai pengembang/pelembut kue, cara ini InsyaAllah membuat cake tetap lembut dan mengembang. 
Mixer hingga telur dan gula mengembang berjejak, berwarna putih. Tanda ngembang berjejak kalau mixer diangkat kayak ada jambulnya tapi kalau dimiringkan baskomnya adonan tetap tumpah. 
2. Masukkan terigu yang sudah diayak sedikit demi sedikit, mixer dengan kecepatan rendah. Cukup sampai tercampur saja tidak usah terlalu lama. 
3. Masukkan mentega cair yang sudah dingin, supaya telur tidak mateng duluan. Campur seperti no 2.
4. Tuangkan ke loyang yang sudah diolesi mentega lalu terigu agar cake tidak lengket saat matang. 
5. Taburi toping suka-suka. Bisa almond, meses, chocochip, kismis, keju. 
6. Masukkan oven dengan suhu kurang lebih 180oC selama 30 menit. Kenali oven masing-masing, untuk oven Naila jadi 190oC supaya matangnya bagus. Biasanya beda merk beda juga suhunya.
7. Kalau sudah kecoklatan lakukan tes tusuk dengan tusuk gigi/sate ke cake, jika setelah ditusuk tidak ada bekas adonan yg menempel berarti cake sudah matang. Kemudian keluarkan dari oven. 
8. Keluarkan cake yang sudah matang dari loyang. Hidangkan.

Tips
- Masukkan telur satu persatu
- pilih telur baru supaya cepat mengembang
- mixer adonan searah.

Kuenya mengembang saat dipanggang! Yeaah...!

Minggu, April 10, 2016

Eksperimen Membuat Slime

"Mah, pergi yuk!", ajak Amira kepadaku.
"Mau ke mana?", aku balas bertanya.
"Mau beli spray untuk nyetrika, lem putih...kalo obat tetes mata belinya dimana?"

Dua minggu berlalu, anakku masih terus sibuk mengaduk-aduk adonan slime dengan resep yang berbeda-beda. Persediaan deterjen, sabun mandi, sabun cuci piring, sabun cuci tangan sering menghilang dari tempatnya. Ya, semua bahan dicobanya untuk mendapatkan adonan slime yang paling pas menurutnya. Sepertinya tidak ada hal lain yang menarik untuk dikerjakan selain membuat slime.

Sungguh mempesona cara anak belajar dan memenuhi keingintahuannya. Semoga tetap terjaga rasa ingin tahumu ya, Nak.

Selamat bersenang-senang sayang! Nikmati petualangan belajarmu!

Memanen Benih Kenikir

Kenikir (Cosmos Caudatus) atau dikenal juga sebagai Sintrong biasa digunakan untuk lalapan. Aku sendiri baru mengenalnya saat di Gresik, ketika ditanya oleh penjual pecel mau pakai kenikir atau tidak. Karena aku bukanlah tipe orang yang suka mencoba jenis sayuran baru, aku menolaknya. Namun namanya kusimpan dalam memori.

Penasaran dengan tumbuhan ini, sengaja kucari benihnya. Paling mudah ya cari via online. Aku mendapatkannya disini. Ternyata benihnya itu bukan berbentuk biji-bijian. Karena bertanam bukanlah keahlianku, saat pertama menyemai benihnya, aku menanamnya terbalik. Hahaha...dasar amatiran dan tidak perhatian! Anakku saja sampai heran melihatnya.

Kalau diingat-ingat, sepertinya aku pernah bertanam tumbuhan dengan benih yang sejenis, tapi namanya Bunga Kosmos. (Hahaha.....kelihatan banget kan...!!!) 

Kembali ke Bandung, aku kembali menyemainya. Alhamdulillah semua semaiannya tumbuh dengan baik. Meskipun dikomentari seorang keponakan untuk apa menanam tanaman liar, aku tidak peduli. Karena meskipun banyak tumbuh liar, sampai seusia ini aku tidak pernah tahu kalau tidak menanamnya sendiri. Pantas saja tanaman ini mudah tumbuh.

Kegiatan menanam ini ada bagusnya juga, selain memperkenalkan kepada anak-anak bagaimana menghasilkan bahan mentah makanan keluarga, mereka juga mau mencicipi sayuran yang baru mereka kenal. Ternyata Amira suka daun kenikir ini. Luar biasa!

Setelah cukup puas mencicipi daunnya sebagai campuran pecel atau disantap sebagai lalapan, aku membiarkan kenikirku tumbuh sampai berbunga. Aku ingin tahu bagaimana memperoleh benihnya.
Beberapa bunga telah mekar namun masih belum ditemukan darimana benihnya berasal. Sampai hari ini, aku mendapat jawabannya. Mau tahu juga?

Lihat dalam foto-fotonya di bawah ini saja ya... :)

Memanen Benih Kenikir
Setelah ini tentunya aku tidak perlu membeli benih kenikir lagi. Asalkan rajin memanennya setelah musim berbunga berlalu, aku akan punya cukup benih untuk memperbanyak tanaman kenikir di kebunku.

Mau coba menanamnya? 

Jumat, Juni 26, 2015

Membuat Origami 3D Angsa Putih

Membuat origami sudah menjadi kegiatan favorit Amira. Dia bisa betah berlama-lama melakukan aktivitas yang satu ini. Bahkan jadwal belajar lain bisa bergeser ketika keinginan untuk berorigami muncul. Seminggu bisa diisi dengan mencoba berbagai bentuk origami.
Kali ini Amira mulai merambah ke bentuk origami 3 dimensi (3D). Apa sih origami 3D itu?
Awalnya aku membayangkan origami 3D itu ya seperti bentuk burung yang selama ini sering dibuatnya kemudian digantung dijadikan hiasan ruangan. Cukup menggunakan selembar kertas origami biasa.
Namun setelah memperhatikan dan ikut menonton tutorial-tutorialnya aku mulai mengerti bahwa origami 3D ini sedikit berbeda, yaitu lebih ke seni menyusun lipatan kertas yang serupa (maaf ya kalau salah... :)

Sebelum mulai menyusun bentuk yang diinginkan, tahapan yang terberat adalah melipat kertas-kertas yang telah dipotong dengan ukuran tertentu. Melipatnya sih sederhana banget, kertas-kertas tersebut dilipat bentuk segitiga, cuma jumlahnya itu lho....

Untuk membuat angsa seperti pada gambar saja diperlukan 100-150 keping lipatan berbentuk segitiga. Sebelum membuat angsa, Amira pernah membuat Hello Kitty dengan 600 keping lipatan segitiga. Bukan hanya lengan yang pegal, jari-jari pun jadi kaku-kaku.

Kami membuatnya dengan membagi kertas ukuran A4 menjadi 16 bagian, sehingga untuk menghasilkan 600 keping segitiga kami membutuhkan 38 lembar kertas. Kalau ingin mencoba, disarankan menggunakan kertas bekas saja, kertas bekas majalah bagian iklan bagus juga kok!

Sayang Hello Kitty 3D nya belum sempat difoto, meskipun sempat dipamerkan saat Expo Karya Anak di PERAK 2015.

Hello Kitty 3D nya kemudian dibongkar oleh Amira, kemudian dia membuat workshop untuk teman-temannya sebagai salah satu aktivitas Ramadhan. Jadilah lima ekor angsa...!

 

Rabu, April 15, 2015

Detektif Kecil


Kali ini kegiatan belajar Amira dan Nina kubuat berbeda. Mereka mempunyai misi yang harus diselesaikan. Pagi hari aku sudah keliling kompleks tempat tinggal kami untuk menempatkan petunjuk-petunjuk yang harus mereka temukan. Sambil pasang senyum setiap kali ada tetangga yang heran melihatku memasang balon di tiang nama jalan, menggantungkan plastik di ranting pohon kersen atau menempelkan amplop di bawah seluncuran di taman kompleks.

detektif kecil

Petunjuk pertama yang mereka temukan adalah sebuah balon dengan gulungan kertas di dalamnya. Lucunya kedua anak itu tidak berani memecahkan balon untuk mengambil petunjuk tersebut. Ketika gulungan dibuka, keduanya terheran-heran karena petunjuknya berisi huruf-huruf acak yang tidak membentuk kata-kata, kecuali mereka membacanya dengan seksama.

Petunjuk kedua berbeda lagi. Kali ini mereka harus membacanya dengan menghadap cermin. Setelah itu pada ketiga mereka harus menyusun kata-kata acak menjadi sebuah kalimat yang bermakna.
Petunjuk terakhir berupa soal matematika yang hasilnya merupakan angka unik nomor rumah kami.

Dari setiap petunjuk-petunjuk tersebut, mereka akan menemukan kepingan-kepingan puzzle yang harus disusun. Di beberapa tempat dimana mereka mendapatkan petunjuk-petunjuk itu ada kejutan-kejutan yang membuat keduanya berteriak gembira.

Di samping menyelesaikan misi menyusun puzzle, keduanya kubekali beberapa lembar tugas yang juga harus dikerjakan.

Selesai berkegiatan, keduanya menyampaikan keinginan untuk belajar dengan cara demikian lagi.
Hehehe....itu berarti sama saja menugaskanku menyusun permainan lagi :)

Selasa, Maret 24, 2015

Eksperimen Gunung Berapi

Eksperimen sains kami kali ini adalah membuat percobaan gunung berapi untuk mengetahui bagaimana proses keluarnya lava dari kepundan gunung berapi. Bahan-bahan yang kami gunakan sebagiannya adalah barang-barang tak terpakai di rumah, seperti kardus bekas pizza dan botol plastik bekas kemasan sambal. 

Selengkapnya bahan yang diperlukan dalam eksperimen ini adalah:

  1. Kardus/karton tebal, dipotong membentuk lingkaran. Kami menggunakan piring makan untuk mencetak lingkarannya. 
  2. Gelas plastik kecil. Kami menggunakan botol plastik bekas sambal yang dipotong atasnya sehingga menjadi menyerupai gelas kecil.
  3. Aluminium foil, digunakan untuk membuat miniatur gunung berapi, membentuk alur-alur di lereng gunungnya.
  4. Selotip
  5. Air 2 sendok
  6. Soda kue 2 sendok
  7. Sabun cair 1 sendok
  8. Cuka masak 2 sendok

Cara percobaannya adalah sebagai berikut:

  1. Botol plastik yang telah dipotong menyerupai gelas kecil ditempel di tengah-tengah lingkaran kardus dengan selotip. 
  2. Tutupi Seluruh bagian gelas berikut kardus dengan aluminium foil dan lipat bagian tepinya ke bagian bawah kardus, kemudian rekatkan dengan selotip.
  3. Buatlah lubang menembus aluminium foil pada mulut gelas untuk membuat "kepundan" gunung.
  4. Campur air, soda kue, dan sabun cair secara merata, kemudian masukkan ke dalam lubang "kepundan".
  5. Kemudian masukkan cuka ke dalam lubang "kepundan".


Eksperimen Gunung Berapi @Rumah3Bintang
Wow! Cairan "lava" keluar dari "kepundan" gunung!

Pada saat cairan keluar, ada gelembung-gelembung yang menyertainya. Gelembung-gelembung itu adalah gas karbondioksida (CO2) yang dihasilkan oleh campuran soda kue dan cuka. Air dan sabun cair pada eksperimen ini adalah untuk menghasilkan efek cairan seolah-olah menyerupai lava.

Saat pertama melakukan eksperimen ini, kami mencampurkan air, soda kue dan sabun cair langsung ke lubang "kepundan", sehingga kesulitan mencampurkannya secara merata. Dan saat memasukkan cuka, efek "lava" yang terjadi tidak terlalu bagus dan memerlukan waktu...."letusan"nya tidak langsung terjadi...

Di kesempatan kedua, kami mencampurkan terlebih dahulu air, soda kue, dan sabun cair pada wadah terpisah. Setelah tercampur merata baru dimasukkan ke dalam lubang "kepundan". Ketika cuka dicampurkan ke dalam cairan tadi, terjadi "letusan" yang WOW! Sampai-sampai kami sempat meloncat ke belakang menghindari cipratan cairan "lava"nya :D

Oh iya, kami menggunakan panduan dalam buku Ayo Bermain Sains 2 dari Seri Eksperimen Kuark untuk percobaan kali ini. 

Jumat, Februari 20, 2015

Membuat Dough Sendiri

Anak-anak selalu suka bermain malam (dough). Kali ini kami mencoba membuatnya sendiri.
Adonan yang kami pakai terbuat dari 500 gram tepung terigu, 250 gram garam, pewarna makanan, air dan minyak goreng.
Tepung terigu dan garam diaduk rata, kemudian dibagi menjadi tiga bagian untuk diberi warna berbeda.
Pewarna makanan; kami memakai warna kuning, merah dan pink, dicampurkan ke dalam air, kemudian masing-masing dimasukkan ke dalam campuran tepung terigu dan garam. Aduk sampai rata, lalu masukkan minyak goreng, aduk sampai adonan kalis.
Anak-anak sangat senang saat membuatnya, apalagi ketika doughnya jadi....wow, kami mendapatkan dough yang sangat banyak!
Dough buatan sendiri ini cukup awet, anak-anak sangat puas memainkannya. Asalkan disimpan dalam wadah yang tertutup baik, dough tetap bagus kondisinya sampai dengan sebulan.

Kamis, Februari 05, 2015

Membuat Jam Matahari Sederhana

membuat jam matahariBagaimana awal mulanya petunjuk waktu digunakan? Bentuknya seperti apa? Bagaimana cara kerjanya?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut mengawali kegiatan kami kali ini.

Setelah membaca sejarah mengenai penunjuk waktu pertama berupa jam matahari, kami mencoba membuatnya. Bahan-bahan yang kami gunakan adalah benda-benda tak terpakai yang ada di rumah, yaitu kardus bekas pizza, tusuk satu dan potongan gabus. Kemudian jam tersebut diberi hiasan gambar supaya lebih menarik.

Kami mencobanya dengan menaruh jam tersebut di ruang terbuka yang tidak terhalang baik oleh pohon-pohon maupun bangunan. Setelah mencocokkan dengan waktu yang tertera di jam pada HP, jam tersebut kami tinggalkan beberapa waktu.

Saat kami kembali membaca waktu dari jam matahari tersebut, waktu yang ditunjukkan dari bayangan tusuk sate hampir sama dengan waktu pada HP.

Sebenarnya untuk membuat jam matahari banyak hal-hal lain yang harus diperhitungkan. Tidak sekedar melihat bayangan sebuah benda seperti yang kami lakukan. Namun percobaan ini cukup memberikan gambaran kepada anak mengenai cara mengetahui waktu.



Sabtu, Agustus 09, 2014

Hari Pertama Mengikuti Pramuka HS

Kamis, 7 Agustus 2014

Hari ini adalah hari pertama Amira mengikuti kegiatan pramuka homeschooler. Sebenarnya sejak Ramadhan lalu, dia sudah sangat bersemangat untuk ikut serta. Tetapi karena kondisi kesehatannya yang sedang menurun, niat tersebut urung dilaksanakan.
Kami mengajak serta teman Amira, Agna, yang juga baru menjalani pendidikan rumah, karena keluarganya akan pindah ke Garut bulan September yang akan datang.

Pada kegiatan pramuka HS kali ini, yang dilaksanakan di Taman Lansia, banyak peserta baru yang berusia di atas 11 tahun, sehingga mulai dibagi berdasarkan kelompok usia, pramuka Siaga dan pramuka Penggalang. Amira masuk ke pramuka Siaga, sedangkan Fauzi masuk ke pramuka Penggalang....hehehe, kakaknya bisa menarik nafas lega karena tidak jadi sekelompok dengan si adik :D

Kegiatan hari itu adalah mempelajari mengenai sandi. Anak-anak terlihat bersemangat mengikutinya dan antusias dalam menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan, apalagi saat masing-masing kelompok berlomba memecahkan soal yang diberikan oleh kelompok lawannya.

kali ini regu laki-laki pramuka Penggalang yang harus jongkok berdiri karena tidak bisa memecahkan sandi yang diberikan oleh regu perempuan....

Upacara sebelum latihan

Pembacaan janji Pramuka


Senin, Mei 26, 2014

Semur Bola-bola Daging Cincang

Fauzi sering memintaku mengijinkannya memasak. Biasanya dia hanya mengambil bagian saat mencampur bahan-bahannya saja. Kali ini Fauzi berkesempatan melakukannya semua prosesnya. Dia tidak mengizinkanku untuk membantunya.


Langkah pertama untuk membuat semur bola-bola daging cincang adalah membuat bola-bola dagingnya terlebih dahulu. Pada tahap awal ini, Fauzi harus memotong dagingnya kecil-kecil agar mudah saat menggiling. Proses menggiling daging menggunakan blender kering sehingga Fauzi harus pandai-pandai mengatur volume dagingnya agar blender tidak macet.


Daging giling dibumbui garam dan merica kemudian dibuat bulatan-bulatan kecil dengan dua buah sendok teh. Langsung dengan tangan juga boleh, tapi pastikan tangan dalam keadaan bersih ya...

Setelah bola-bola daging siap, tumis bawang merah dan bumbu halus (bawang putih, kemiri, dan garam) sampai harum. Tambahkan air secukupnya kemudian masukkan bola-bola daging, biarkan sampai air daging keluar.









Beri kecap dan masukkan tomat yang telah disaring. Beri garam dan merica sesuai selera. Masak sampai daging matang .











Begitu semur bola-bola daging cincang ini matang, Fauzi dan adik-adiknya langsung menyantapnya. Seperti sedang menikmati semangkok bakso... 
Semua menyukainya dan Fauzi terlihat sangat puas dengan hasil kerjanya.



Keren Fauzi! Semua tahapannya berhasil kaulakukan dengan sangat baik.


Jumat, Desember 06, 2013

Membuat Kartu Cerita

Kesukaan Nina adalah menggunting dan menempel. Dengan kesukaannya tersebut, kucoba mengajaknya membuat kartu cerita. Biasanya dia akan menggunting apa saja, koran, majalah atau kertas-kertas yang sudah digambarinya sendiri. Hasil-hasil guntingannya seringkali terbuang setelahnya.

membuat kartu cerita



Kali ini kuajak dia untuk menempelkan hasil-hasil guntingannya ke kartu-kartu kecil yang telah kusediakan sebelumnya. Kartu-kartu tersebut kubuat dari kalender bekas yang cukup tebal kertasnya.
Gambar-gambarnya kami ambil dari majalah bekas. Nina yang memilih sendiri gambar-gambarnya.

Setelah kartu-kartunya selesai dibuat, kami bersama-sama membuat cerita bebas dari kartu-kartu tersebut. Rame juga...ceritanya ga habis-habis, selalu berubah dan berkembang. Selain itu, bisa disimpan untuk digunakan kembali di lain waktu.



Jumat, Mei 17, 2013

Cerita Pelangi

Suatu sore setelah hujan menyiram kota kami, sebuah pelangi yang indah muncul menghias langit yang telah kembali terang. Kedua putri kecil dengan gembira memanggilku untuk ikut menikmati indahnya pelangi.
"Pelanginya indah ya, Ma", komentar Nisrina, putri kecilku.
"Aku ingin dekat ke pelangi....tapi aku kan ga bisa terbang ya, Ma", lanjutnya
"Kalau aku jadi peri....tiba-tiba aku menjadi kecil! Ga bisa kan...", lanjutnya lagi
Aku terpesona dengan keindahan warna-warna yang menghias di angkasa, dan mendengar komentar putri kecilku yang berusia tiga tahun membuatku tidak dapat berkata-kata, hanya senyuman lebar tersungging di bibirku. Kemudian akhirnya menimpali komentarnya dengan sebuah anggukan dan berkata, "Iya..."
"Aku sangat sukaa pelangi... Oh, betapa indahnya", katanya lagi sambil menangkupkan kedua tangannya di depan dada.
Subhanallah, sungguh tiada yang dapat menciptakan keindahan luar biasa ini selain Allah Azza wa Jalla.

Perjalanan Minim Sampah

Minim sampah dalam perjalanan merupakan sebuah tantangan, namun hal tersebut sangat mungkin dilakukan. Memang tidak semua akan ideal seperti...