Saat itu Amira, putri keduaku, sedang menghafal Al Qur'an Surah An Naba di sekolahnya. Saat dia menghafalkan satu ayat setiap harinya, aku pun melakukannya di rumah. Hal itu kulakukan untuk memotivasi anakku dan juga aku, di samping akupun ingin bisa hafal dan paham Al Qur'an. Aku memacu diriku sendiri untuk selalu bisa selangkah di depannya, meskipun di hadapannya aku tidak menunjukkan bahwa aku lebih dulu darinya.
Ketika Amira mengulang hafalannya di rumah, aku mengikutinya tanpa suara. Sesekali jika dia lupa atau terpeleset, aku membantunya. Terkadang Amira suka bertanya,"Mama udah ayat berapa?" Saat dia tahu aku selangkah di depan, raut wajahnya berubah. Kalau sudah begitu, aku akan beralasan,"Sabtu Minggu kakak kan libur, jadi ga nambah hafalan. Mama kan ga ada libur, jadi lebih cepat dua ayat."
Sampai suatu hari Amira sudah menyelesaikan hafalannya sampai dengan ayat terakhir, namun dia masih lupa di beberapa bagian ayat tersebut. Sambil berpanduan pada Al Qur'an aku membimbingnya untuk memperlancar hafalannya. Setelah lancar ayat terakhir, kuminta ia mengulangnya dari ayat pertama dan permintaanku dipenuhinya dengan baik. Begitu selesai, tiba-tiba dia melihatku dengan pandangan menyelidik dari sudut matanya,"Mama apal ga dari ayat pertama? Jangan liat Qur'an!"
Sedikit kaget aku menanggapinya sikap galaknya dengan tertawa geli. Namun lanjutnya,"Coba kalo apal...!"
Meskipun merasa sedikit keki, tanpa menunggu lama aku lantunkan Surah An Naba dari ayat pertama. Alhamdulillah aku dapat terus melanjutkannya tanpa hambatan sampai dengan ayat terakhir.
Penutup lantunanku langsung disambutnya dengan senyum manis yang terkembang dari bibir mungilnya sambil memujikan,"Iya bener...Mama memang apal ya..."
Aku balas tersenyum sambil mengucap Alhamdulillah. Hatiku senang karena bisa membuatnya percaya bahwa mamanya tidak hanya mendorongnya untuk belajar menghafal Al Qur'an tapi turut melakukannya juga.
Alhamdulillah, dengan ijin-Nya kami masih terus melakukannya sampai saat ini. Sesekali sebelum tidur Amira melantunkan hafalan-hafalannya dan kemudian bertanya kepadaku mengenai hafalanku. Ketika dia mendapati aku lebih cepat darinya dia berkomentar bahwa dia akan bisa mendahuluiku.
Terima kasih sayang, semangatmu menjadi motivasi untuk mama.
Love you always!
Tampilkan postingan dengan label amira. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label amira. Tampilkan semua postingan
Kamis, April 04, 2013
Kamis, Juli 12, 2007
Delapan Bulan
Putri kecil kami sekarang sudah berumur delapan bulan. Sudah bisa didudukkan, senang berceloteh dan sedikit galak. Hobinya adalah melihat kucing. Setiap bangun tidur di pagi hari, kata pertama yang keluar dari mulutnya adalah "mpuh", maksudnya "pus"... itu artinya "mama, ayo kita keluar lihat pus!"
Mia juga paling senang kalau saat mandi tiba, dia bisa berendam, satu lagi hobinya yang kalau tidak diturut bisa membuatnya menangis sangat keras dan airmatanya berurai deras.
Makannya sudah tambah banyak dan sering, bisa sampai 4 kali dalam sehari, tentunya diluar minum susu mama!
Jalan-jalan keliling kompleks atau meninjau lapangan golf tidak luput masuk daftar kegiatan sehari-harinya. Apalagi kalau papa pulang ke Bandung...bisa 3 kali sehari!!!
Mia juga paling senang kalau saat mandi tiba, dia bisa berendam, satu lagi hobinya yang kalau tidak diturut bisa membuatnya menangis sangat keras dan airmatanya berurai deras.
Makannya sudah tambah banyak dan sering, bisa sampai 4 kali dalam sehari, tentunya diluar minum susu mama!
Jalan-jalan keliling kompleks atau meninjau lapangan golf tidak luput masuk daftar kegiatan sehari-harinya. Apalagi kalau papa pulang ke Bandung...bisa 3 kali sehari!!!
Selasa, April 17, 2007
Tak Mau Susu Formula
Amiraku sudah berumur lima bulan sekarang. Tambah lucu, tambah cantik dan tentunya tambah pintar. Sampai dengan saat ini aku masih memberinya ASI, semampuku. Tiap sore sepulang kerja aku selalu menampung ASI dalam botol untuk bekalnya esok hari. Sayang, ASIku tidak banyak sehingga bekalnya hanya cukup untuk dua kali minum saja. Apa boleh buat, susu formula jalan keluarnya. Tapi apa yang terjadi?...bayi mungilku memilih menahan lapar dan menungguku pulang daripada harus minum susu formula. Usahanya patut diacungi jempol karena dia mengunci mulutnya rapat-rapat agar tidak setetespun susu formula masuk ke dalam mulutnya!!!
Akhirnya kucoba memberinya pisang dan air jeruk sebagai pelipurnya laparnya selagi aku bekerja. Tidak tega rasanya dan selalu gelisah perasaanku saat membayangkan cantikku kelaparan selagi aku di kantor... semoga langkah mama tidak salah, ya Sayang!
Akhirnya kucoba memberinya pisang dan air jeruk sebagai pelipurnya laparnya selagi aku bekerja. Tidak tega rasanya dan selalu gelisah perasaanku saat membayangkan cantikku kelaparan selagi aku di kantor... semoga langkah mama tidak salah, ya Sayang!
Langganan:
Postingan (Atom)
Perjalanan Minim Sampah
Minim sampah dalam perjalanan merupakan sebuah tantangan, namun hal tersebut sangat mungkin dilakukan. Memang tidak semua akan ideal seperti...
-
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh Salam kenal teman-teman semua. Apa yang akan saya sampaikan di sini merupakan pengalaman kelua...
-
"Mah, udah lihat videonya kakak belum?" Tanya Amira saat aku sedang duduk sendiri di ruang makan sambil menikmati segelas teh han...
