Tampilkan postingan dengan label forum keluarga. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label forum keluarga. Tampilkan semua postingan

Senin, September 16, 2019

Membersamai Anak Tumbuh dan Berkembang


LET THEM BRIGHT WITH THEIR OWN LIGHTS

 “Apa yang sebenarnya Aa rasakan, apa yang sebenarnya Aa tidak suka? Apakah tidak suka belajar atau tidak suka sekolah?”
“Aa mau dan suka belajar, tapi di sekolah Aa tidak belajar apa yang Aa butuhkan.”

Bergerak dari hal tersebut, aku menetapkan untuk selalu berusaha fokus dengan apa yang menjadi kebutuhan anak-anak menurut mereka agar mereka dapat berkembang sesuai dengan harapan dirinya, menemukan dirinya dan menjadikan dirinya bermanfaat melalui peran yang dipilihnya.

Semua Ada Waktunya
Anakku memperhatikanku dengan seksama. Kemudian dia berkata,”Nina juga nanti mau nulis jurnal seperti Mamah dan Kakak.”
Aku langsung menjawab spontan, “Hayuk atuh dek, kita mulai.”
Tanpa kuduga dia menjawab,”Nanti Mah, bukan sekarang. Nina tuh masih setengah hati, menulisnya  pun setengah mati.”
Tertegun aku mendengar jawabannya.

Aku kembali mengingat kejadian empat tahun lalu, saat Nina ditantang papahnya untuk belajar membaca dengan janji dia boleh meminta apa yang diinginkannya sebagai hadiah. Hampir setahun berselang, belum ada tanda-tanda putri kecilku ini mulai bisa membaca. Hanya minatnya akan buku yang tetap tinggi, yang menjadikan kami, aku dan kakak-kakaknya, mempunyai tugas membacakan buku secara bergantian setiap hari. Sesekali aku suka mencoleknya dan mengingatkan akan tantangan dari sang ayah. Dengan santai, Nina menjawab,”Adek sedang belajar berhitung Mah, belum belajar baca.”
“Jadi kapan belajar bacanya?” tanyaku
“Nanti kalau sudah belajar berhitung”, balasnya

Memasuki bulan Syawal di tahun tersebut, aku perhatikan Nina selalu asyik dengan komik yang sama. Kemana-mana selalu dibawa, sampai lecek. Tampak serius di satu bagian, terharu di bagian yang lain dan tertawa di bagian yang berbeda lagi. Penasaran aku pun bertanya,”Dek, emang ngerti? Bisa bacanya?”
“Bisa”, jawabnya mantap
“Mau dong Mamah dibacain”, pintaku

Dibacakannya dengan keras komik tersebut dari awal sampai akhir dan lancar. Tercatat 1 jam 20 menit dia membacakannya untukku.
“Sejak kapan bisa baca?” tanyaku penasaran
“Ga tau, Nina lupa”, jawabnya enteng

Belajar dari putri kami, anak mempunyai waktunya sendiri untuk mempelajari sesuatu hal dan mereka paham akan kesiapan dirinya. Ketika anak siap, belajar menjadi lebih mudah. Sayangnya, aku seringkali masih saja gatal untuk mempercepat prosesnya.

Menikmati Proses
Jalan-jalan, jajan dan belanja adalah tiga hal yang disukai Amira. Jalan-jalannya sederhana, yang penting keluar dari rumah. Jalan kaki ke bukit atas atau sekedar berkeliling dengan motor bersama Papah. Apalagi kalau ditambah jajan, wisata kuliner, dan belanja, senyumnya akan semakin mengembang.
Saat jajan, jenis makanan yang diminati pun seperti ada musimnya. Ada musim ayam geprek atau musim ramen. Sebelumnya pernah ada musim pancake, donat,  dan pizza.

Ketika musim pancake tiba, maka hampir setiap hari tepung dan telor menghilang dari stok dapur. Selama belum mendapatkan hasil pancake yang pas menurutnya, maka kami sekeluarga masih akan mendapatkan suguhan pancake, meskipun menurut kami sudah enak.

Di lain waktu datanglah musim donat. Tiap hari oprak oprek resep donat. Setelah menemukan resep yang gue banget dan dirinya puas, tiba waktunya musim berganti.  

Jika ditanya mengapa tidak membuat lagi berbagai makanan yang pernah dicobanya, maka selalu dijawab singkat dengan “lagi ga mau”, dan ditunjukkan dengan kesibukan baru oprak-oprek resep makanan yang berbeda lagi. Pernah kukira dia sedang mencoba resep kukis coklat, eeh ternyata membuat kukis wortel dicampur pellet untuk kelinci…

Eksperimen ini bukan hanya berlaku untuk makanan. Pernah ada slime, yang berlangsung hampir dua tahun sampai menemukan “Original Slime Recipe”. Kali lain membuat template blog yang menghasilkan tampilan blog yang selalu berubah setiap harinya. Itu semua dilakukannya karena suka, mencoba sampai mendapatkan hasil yang diharapkannya.

Menemukan Pola Belajarnya Sendiri
“Nina mau belajar masak” jelas Nina saat menunjukkan rencana belajarnya dua tahun lalu.
Segera aku mencoba menyiapkan program belajar memasak untuknya menurut bayanganku.
Ketika melihatnya selalu asyik dengan buku-buku, aku mengajaknya untuk memasak bersama.
“Mah, sekarang Nina sedang belajar tentang bahan masakan”, jawabnya sambil menunjukkan halaman tentang berbagai macam rempah dan bumbu lainnya di buku yang dibacanya.
Selama setahun pertama, Nina tetap asyik membaca, dari mulai kamus bergambar sampai berbagai buku resep yang dipinjam dari Eninnya. Selain itu dia senang bertanya segala sesuatu yang ada di dapur, menu makan yang sedang kusiapkan, atau mencoba nguleg bumbu dan sekedar memegang sutil serta mengaduk masakan. Tahun kedua, Nina sibuk bertanya tentang kemampuan Mamanya memasak, mengapa masakannya selalu berputar menunya, menu harian keluarga dan pesanan ke Mang Sayur. Lebih tepatnya di tahun tersebut, Nina lebih banyak memotivasi Mama untuk mencoba resep-resep baru hasil bacanya. Dia ikut membantu memasukkan atau mencampur bahan-bahan. Di samping itu dia rajin memberi saran menu harian keluarga dan banyak mencoba makanan-makanan baru yang sebelumnya tidak mau dicobanya. Nina menjadi andalan untuk mencicipi masakanku. Di tahun kedua ini, Nina sudah bisa memasak nasi untuk keluarga dan menggoreng telur untuk sarapannya sendiri.
Memasuki tahun ketiga, Nina mulai praktek memasak. Kalau dia sedang ingin mencoba memasak, maka aku dilarangnya untuk ke dapur. Dia mulai berani mengolah bahan makanan yang tersedia, menunya mulai dari nasi goreng, sop sayuran, sop ikan nila, berbagai variasi orak arik telur, termasuk juga mengolah ayam. Termasuk menyiapkan bekal untuk kegiatan pramuka di hari Rabu, berupa variasi pasta atau omelet, karena bosan dengan bekal yang selalu disediakan Mama-nya yang ga mau susah, nasi dan ayam goreng plus rebus sayuran. Program memasak ini masih berlangsung sampai sekarang.

Satu ketika Nina menemaniku berkebun di halaman depan, dia menyampaikan,”Nina juga mau punya kebun sendiri, nanam-nanam bunga. Boleh Ma?”
“Boleh, Nina mau nanam di sebelah mana?” jawabku bersemangat
“Bukan sekarang Ma. Sekarang Nina sedang belajar tentang tanamannya dulu.” Jawabnya

Belajar dari pengalaman program memasak Nina, aku langsung menahan diri dan menyadari anakku tahu tahapan apa yang ingin dilakukannya.

Be Patient. They’ll tell you
“Kak, gimana ceritanya berangkat sendiri teh?” dengan antusias aku bersiap mendengar cerita perjalanan Amira.
“Biasa aja” jawabnya datar
“Gimana perasaannya? Waktu naik kereta, terus naik KRL…kan Kakak belum pernah”, lanjutku lagi masih dengan penasaran
“Ya ga gimana gimana. Kakak naik kereta, cari tempat duduk terus duduk. Pas harus turun ya turun. Ikut petunjuk yang dikasih aja” jawabnya tetap datar
Aku pun menyerah dan melanjutkan aktivitas
Ketika kami sedang duduk santai, tiba-tiba Amira memulai percakapan,”Mah, tau ga….” Dan meluncurlah berbagai kisah perjalanan dan eksplorasi yang baru dijalaninya.

“Mah, tadi teman Aa curhat…”
“Mah, tadi asyik lho! Nina sama teman-teman main…”
“Mamah lihat ga tadi Kakak latihan…”

Itu adalah beberapa kata kunci awalan ketika anak-anak siap berbagi ceritanya denganku
Anak-anak selalu senang bercerita selama aku tidak terburu ingin mengetahuinya. Bersabar, mau menunggu dan kemudian mendengarkan.
  
Menetapkan Pilihan dan Berkomitmen Menjalankannya
Menekuni dunia menggambar dan menjalankan project membuat boardgame  selama empat tahun terakhir serta melatih Pramuka di dua sekolah dua tahun terakhir merupakan kegiatan si sulung. Di samping itu dia pun magang di sebuah tempat bermain boardgame dalam setahun terakhir. Hal ini membuat sulungku mengambil keputusan yang berbeda dari yang kami bayangkan.

Mah, Aa ga akan ambil Paket C ya, ga kuliah juga. Aa mau ngelanjutin project, magang dan ngajar”, tiba-tiba si sulung menyampaikan keputusannya.
“Yakin?” tanyaku bingung
“Yakin”, jawabnya mantap

Mengobrol dengannya menanyakan berbagai hal tentang keputusannya ini, aku merasakan bahwa anakku benar-benar yakin dengan pilihannya. Sebagaimana dulu dia mengemukakan alasan untuk mencari alternative belajar selain di sekolah, maka kali ini aku bisa melihat kesungguhannya. Sehingga bagianku adalah mendukungnya dan menjadi teman ngobrol yang bersedia mendengarkannya.

Do kNow Think
Pernah ada fase dimana aku tidak ingin melakukan apa-apa. DO NO THING! Mungkin lelah… :D
Namun ternyata aku tidak pernah benar-benar tidak melakukan apa-apa. Terlalu banyak hal yang sayang untuk dilewatkan, apalagi saat bersama anak-anak. Mereka terlalu dinamis dan selalu mendorongku tetap bergerak.
Maka kemudian aku mencoba mengurai kembali semua yang kulakukan (DO) dan mengenali manfaat serta pengaruhnya terhadap diri sendiri, anak-anak dan keluarga (kNOw) serta memikirkan tindak lanjut untuk memperbaiki, mengubah atau membesarkan laku yang telah dijalani (THINk).

Dan aku menemukan siklus penyemangatku untuk terus membersamai anak-anak menemukan peran kehidupannya, cemerlang dengan sinarnya sendiri. 


Bandung, 8 September 2019
Dita Wulandari
@Rumah3Bintang

(Disampaikan dalam Tacit Padhang Mbulan WAG Perak Diaspora, Ahad 15 September 2019)


Rabu, Februari 08, 2017

Presentasi Project Ternak Kelinci

Amira sempat terkejut ketika mengetahui dia mendapat giliran pertama untuk presentasi di depan pasukan penggalang Pramuka HS Bandung. Presentasi ini adalah program baru yang coba kami jalankan sebagai ajang berbagi dan menginspirasi di antara mereka.
Bukan hanya Amira, aku pun terkejut ketika mengetahuinya. Karena Amira baru 3 minggu naik golongan menjadi pramuka penggalang.

Saat Sarapan di Satu Pagi

Seperti biasa kami sarapan pagi berempat saja, aku, suamiku, kakak, dan Nina. Kemana si sulung? Kebiasaan tidur larut malamnya masih menjadi tantangan besar untuk bangun pagi, meskipun dia rutin shalat Subuh berjamaah di masjid...

Ketika Nina bersiap mengambil ayam goreng dan kremesannya sebagai teman nasi, si sulung yang baru bangun duduk di sebelahnya dan berkomentar, "Jangan banyak-banyak!"

Spontan saya turut menyela, "Kalau masih loading jangan komen...", sambil kesal melihatnya melarang adiknya.

Bukannya berhenti, dia malah mendelik menatap sang adik. Wah bahaya nih, kalau dilanjutkan bisa rusak suasana hari itu, apalagi saya pun sudah mulai terpancing untuk mengomel.

Maka aku pun menarik nafas dan meminta si sulung untuk segera mandi. Meskipun disambut dengan wajah ditekuk, dijalankannya juga permintaanku, mungkin instruksi lebih tepatnya.

Setelah mandi, kembali dia ke meja makan dan bersiap sarapan. Melihat ayam dan kremesannya masih ada, ditanyanya aku apakah boleh untuknya.
"Boleh", jawabku.

Dengan tenang dinikmatinya sarapan paginya. Setelah selesai, aku pun bertanya, "Tadi kenapa?"
"Kapan?" Balasnya.
"Tadi itu lho, dateng-dateng kok ngomel...", balasku lagi.
"Lupa", jawabnya.

Ooh...ternyata benar. Anakku masih loading, belum sadar betul dari bangun tidurnya. Setelah mandi dan sarapan, sikapnya biasa-biasa saja. Bersyukur aku tidak memperpanjang komentarku yang bisa berujung pada omelan berkepanjangan. Padahal anaknya mengerti pun tidak karena masih kondisi mengantuk.

#hari6
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip

Selasa, Februari 07, 2017

Ngobrol di Teras

Memiliki teras yang lega dan terlindung dari pandangan orang-orang yang melintas di depan rumah adalah hal yang istimewa

Teras menjadi tempat yang nyaman untuk bercengkerama. Ngobrol di teras sambil minum teh bersama di sore hari adalah kesukaan Amira dan Nina. Keduanya akan bersemangat menyiapkan semua keperluan. Kami cukup duduk manis.

Saat-saat seperti itu adalah saat dimana saya belajar menahan diri untuk tidak mengomentari hasil keduanya. Cukup bersedia menemani keduanya menikmati sore, bercanda bersama dan mendengarkan cerita-ceritanya.

Ketika acaranya berakhir juga merupakan saat untuk menahan pesan sponsor untuk membereskan peralatan yang digunakan. Cukuplah berinisiatif membawa apa yang kugunakan, serta merta keduanya akan bergerak mengambil alih dan menyelesaikannya dengan baik.

#hari5
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip

Membuat Roti Goreng

Membuat roti bersama ternyata melatih diriku untuk berbagi. Berbagi peran dan menerima apapun hasilnya. Memfasilitasi keingintahuan anak-anak dan dorongan untuk mencoba.
Belajar menjelaskan tanpa menggurui apalagi ketika sama-sama merupakan pengalaman pertama.
Dengan begitu kami menikmati kebersamaan.
Hasilnya roti goreng ayam cincang yang mantap!
Alhamdulillah :)

#hari9
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#bunsayiip

Minggu, Januari 29, 2017

Slime Fever by Amira

Amira sedang dilanda demam slime. Sebetulnya hal tersebut sudah berlangsung selama setahun. Tapi demamnya memang naik turun. Kadang adem, kadang berapi-api, namun bertahan masih bertahan sampai sekarang.

Kami dibuatnya geregetan dengan kesukaannya ini. Sering kejadian shampoo menghilang dari kamar mandi, sehingga terdengar teriakan sang papah yang kelimpungan mencarinya. Sabun cuci piring yang tiba-tiba habis, padahal baru sehari sebelumnya kemasan baru kubuka. Belum lagi ada benda asing yang menempel di tembok dan meninggalkan noda. Atau rambut adiknya yang terpaksa digunting karena slime merekat kuat.

Berkali-kali kuminta ia membuat catatan atas aktivitasnya ini, baik keperluannya untuk membuat slime, pengeluarannya, maupun resep campuran slime yang dibuatnya. Catatan tersebut akan berguna untuknya, baik sebagai portofolionya maupun kelak bila ia ingin mengulangi percobaan-percobaannya. Namun hal itu tak jua dilakukannya.

Hari ini, Amira bermaksud menjual slime-slime yang dibuatnya. Dia telah mengemas slime-slime tersebut dalam sebuah toples kecil dan beberapa kantung plastik. Saat aku dan papahnya bertanya mengenai harganya, dia bingung menjawabnya. Dia bahkan balik bertanya kepada kami, berapa sebaiknya harga jual slime tersebut.
Kami tanyakan padanya bahan apa saja yang digunakannya dan berapa banyak. Dia tersipu sambil menjelaskan dengan ragu-ragu dan berusaha mengingat.

Kemudian tanpa kami paksa, dia mencoba untuk menuliskannya resep-resep slime yang dicobanya. Sesekali dilihatnya video yang dibuatnya saat membuat slime untuk melengkapi catatannya. Aku turut menemani saat dia membuat catatan dan kadang-kadang mengajukan pertanyaan padanya.

Hari ini Amira akhirnya mempunyai catatan mengenai berbagai percobaan campuran slimenya, baik bahan maupun takarannya, lengkap dengan foto dan videonya. Kini dia sedang mempersiapkan produk barunya, Slime Fever by Amira.

#hari3
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip

Ceritakan Kisahmu

Setiap akan tidur, aku akan selalu menemani terlebih dahulu kedua putriku.
Kami akan bersama-sama membaca beberapa surat Al Quran, berdzikir dan berdoa sebelum tidur.
Biasanya keduanya tidak serta merta mau langsung melakukannya. Mereka akan memintaku bercerita tentang kisah masa kecilku.
Seperti malam tadi, aku kembali diminta bercerita. "Ayo Ma, cerita lagi waktu Mamah kecil...", desak Nina.

Sepenggal pengalaman tentang membaca puisi dalam acara Hari Kartini dan Perpisahan Kakak Kelas cukup membuat kedua putriku penasaran dan banyak bertanya. Bagaimana aku sampai terpilih? Mengapa aku mengikuti seleksinya? Apakah aku memang suka membaca puisi? Apakah naik di atas panggung? Berapa banyak penontonnya?

Pertanyaan-pertanyaan keduanya kujawab sambil kemudian balik bertanya tentang hal-hal yang mereka sukai dan bagaimana menjalaninya.

Waktu yang singkat menjelang tidur menjadi saat yang berkesan dan bermakna bagi kami, karena setelahnya putri-putriku berpesan, "Besok cerita lagi ya, Ma..." :D

#hari2
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip

Rabu, Januari 25, 2017

Radio Rumah 3 Bintang

Sebetulnya forum ini sudah berlangsung sejak awal tahun lalu dan sampai saat ini masih kujalankan bersama anak-anak di setiap Rabu pagi, dlm perjalanan kami ke tempat latihan Pramuka.

Seperti Rabu pagi tadi. Keadaan yang hampir selalu sama berulang. Saya sibuk menyiapkan sarapan, bekal anak-anak, sekaligus makan siang suami yang ditinggal sendiri di rumah karena memang bekerja di rumah. Sedangkan anak-anak tampak santai mempersiapkan diri, seperti ada rutinitas yang tidak boleh dilewatkan; minum teh dan melamun karena masih "loading". Belum lagi kewajiban mengurus 10 ekor kelinci yang tidak boleh dilupakan.

Sudah beberapa Rabu, kami terlambat berangkat, sehingga tentunya akan terlambat pula sampai ke tempat tujuan.
Kondisi seperti ini seringkali membuatku tidak bisa menahan diri untuk mengomeli anak-anak sepanjang perjalanan, belum lagi anak-anak yang suka mengantuk di mobil.

Radio Rumah3Bintang merupakan aktivitas sepanjang perjalanan dalam mobil. Sebuah cara efektif untukku menahan diri tidak mengomel kepada anak-anak. Kubuat seakan-akan kami sedang melakukan siaran radio.

"Assalamu'alaikum wr.wb.
Selamat pagi para pendengar setia radio Rumah 3 Bintang. Apa kabar semua? Pagi ini kami sedang menyusuri jalan Brigjen Katamso menuju Taman Lansia untuk mengikuti latihan rutin pramuka hs bandung...."
Dst...

Saya biasa mengambil topik obrolan yg terlihat sepanjang jalan. Etika para pengendara, marka jalan yg diterapkan spt yellowbox, dll...

Sebagai jeda iklan, aku akan meminta salah seorang anakku menyanyi atau kl tidak ada yg mau, maka aku yg menyanyi sendiri :D

Kemudian diselingi juga dengan permainan tebak-tebakan. Biasanya Nina yang bersemangat untuk membuat tebakan atau teka-teki.

Memang kami akan tetap terlambat sampai tujuan, dan anak-anak akan menjalani konsekuensi karena keterlambatannya. Namun perjalanan kami tidak lagi diwarnai oleh omelanku yang membuat keruh suasana di pagi hari.

#hari1
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip

Perjalanan Minim Sampah

Minim sampah dalam perjalanan merupakan sebuah tantangan, namun hal tersebut sangat mungkin dilakukan. Memang tidak semua akan ideal seperti...