Tampilkan postingan dengan label edukasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label edukasi. Tampilkan semua postingan

Minggu, Desember 13, 2015

Mengenali Gaya Belajar Anak

Apakah belajar itu? Bagaimana kita belajar? Bagaimana suasana belajar yang optimal? Dengan siapa kita belajar? Di mana tempat terbaik untuk belajar? Darimana sumber belajarnya? Apa yang dipelajari? Apa manfaat belajar? ...

Daftar pertanyaan di atas bisa terus bertambah setiap kita berbicara mengenai belajar. Hal tersebut wajar mengingat belajar pada dasarnya adalah kebutuhan setiap orang, bahkan kita diwajibkan untuk menuntut ilmu (belajar juga kan, ya... :D)
Hasil belajar yang terbaik tentunya menjadi harapan setiap orang, baik bagi dirinya maupun bagi anak-anaknya. Belajar merupakan suatu proses yang kompleks, banyak faktor yang terkait dengan aktivitas ini. Salah satu yang menentukan kemudahan prosesnya adalah mengenali bagaimana kita belajar.

Bagaimana cara kita belajar supaya proses belajar tersebut memberikan hasil yang optimal dikenal sebagai GAYA BELAJAR.

Gaya belajar adalah cara seseorang menyerap, mengatur dan mengolah informasi (DePorter, 1992). Berdasarkan definisi tersebut, DePorter membagi dua tinjauannya menjadi, pertama, bagaimana seseorang menyerap informasi dengan mudah dipengaruhi oleh modalitasnya; kedua, bagaimana mengatur dan mengolah informasi yang berkaitan dengan dominasi otaknya.

Sumber dari connectionacademy
Teori gaya belajar yang paling sederhana dan paling populer adalah V-A-K, yaitu gaya belajar Visual, Auditorial, dan Kinestetik. Berdasarkan tinjauan DePorter klasifikasi ini disebut sebagai MODALITAS BELAJAR.
Seseorang dikatakan mempunyai gaya belajar visual jika dia belajar terbaik dengan melihat (seeing), mengakses citra visual; gaya belajar auditorial jika belajar terbaiknya dengan cara mendengar (hearing), mengakses segala jenis bunyi dan kata, dan gaya belajar kinestetik jika belajar terbaiknya dengan cara melakukan (doing), mengakses segala jenis gerak dan emosi.


Teori lain yang cukup dikenal adalah klasifikasi gaya belajar diturunkan dari Teori Multiple Intellegences Gardner. Gaya belajar dalam hal ini dibedakan menjadi 7 jenis, yaitu:
- Visual (Spasial), memilih menggunakan gambar-gambar, skema, grafik, dan pemahaman spasial
- Aural (Auditoral-Musikal), memilih menggunakan suara dan musik
- Verbal (Linguistik), memilih menggunakan kata-kata baik dalam bentuk lisan maupun tulisan
- Kinestetik (Fisik), memilih menggunakan gerak tubuh, tangan, dan indera peraba
- Logika (Matematika), memilih menggunakan logika, pemikiran, dan sistem
- Sosial (Interpersonal), memilih belajar secara berkelompok atau dengan orang lain
- Soliter (Intrapersonal), memilih belajar/bekerja sendiri

Sumber dari sini

Gaya belajar berdasarkan dominasi otak mengikuti model yang awalnya dikembangkan oleh Anthony Gregorc profesor di bidang kurikulum dan pengajaran di Universitas Connecticut, dibedakan menjadi:
- persepsi konkret dan abstrak
- kemampuan pengaturan secara sekuensial (linear) dan acak (nonlinear)

Sehingga didapatkan empat kelompok perilaku (gaya berpikir) yaitu Sekuensial Konkret (SK), Sekuensial Abstrak (SA), Acak Konkret (AK), dan Acak Abstrak (AA).

Sumber dari sini
Pemikir sekuensial konkret berpegang pada realitas dan memproses informasi secara teratur, linear dan sekuensial. Realitas bagi mereka adalah apa yang dapat mereka ketahui melalui indera fisik mereka. Mereka mengingat fakta-fakta, informasi, rumus-rumus, dan aturan-aturan khusus dengan mudah. Mereka juga menyukai pengarahan dan prosedur khusus.

Pemikir acak konkret berpegang pada realitas namun mempunyai sikap eksperimental (melakukan pendekatan coba-salah) yang diiringi dengan perilaku yang kurang terstruktur. Cenderung tidak memedulikan waktu dan lebih berorientasi pada proses drpd hasil.

Pemikir acak abstrak menyerap ide-ide, informasi, dan kesan dan mengaturnya dengan refleksi serta berkiprah di dalam lingkungan yang tidak teratur yang berorientasi pada orang.
Mereka perlu melihat gambaran besar, bukan tahapannya, sehingga akan sangat membantu jika mereka mengetahui bagaimana hubungan segala sesuatunya secara keseluruhan sebelum masuk ke detail.

Pemikir sekuensial abstrak suka berpikir dalam konsep dan menganalisis informasi, sangat menghargai orang-orang dan peristiwa-peristiwa yang teratur rapi. Proses berpikir mereka logis, rasional, dan intelektual. Aktivitas favoritnya adalah membaca, lebih suka bekerja sendiri daripada berkelompok. Mereka ingin mengetahui sebab-sebab di balik akibat dan memahami teori serta konsep.

Apakah satu modalitas atau gaya berpikir lebih baik dari modalitas atau gaya berpikir yang lain?
Satu modalitas tidak lebih baik daripada modalitas lainnya, hanya memerlukan cara yang berbeda. Demikian pula dengan gaya berpikir.

Tidak setiap orang harus masuk ke dalam salah satu klafikasi identifikasi V-A-K, namun kebanyakan kita cenderung pada yang satu daripada yang lainnya.

Bagaimana mengenali gaya belajar anak?
Cara mengenali gaya belajar yang paling efektif adalah dengan mengamati dan membuat pencatatan. Paling tidak begitulah yang saya lakukan pada ketiga anak saya. Mengenali gaya belajar membantu kita untuk memberikan metode yang paling cocok kepada anak untuk melalui proses belajarnya.
Lalu apa yang kita amati? Beberapa contoh di bawah ini dapat kita lakukan sebagai langkah mengenali modalitas belajar anak:
- Sikap anak ketika dibacakan, apakah anak mendengarkan dan menikmati, lebih asyik dengan gambar-gambar yang ada dalam buku sehingga cenderung tidak sabar dalam mendengarkan atau malah sibuk bergerak ke sana ke mari.
- Respon anak saat melihat gambar-gambar/tanda-tanda, apakah mereka tertarik atau acuh tak acuh.
- Reaksi ketika diperdengarkan lagu/musik atau terhadap suara-suara, apakah merasa terganggu atau tidak.
- Aktivitas fisik yang dilakukan oleh anak dan kemampuan untuk duduk tenang untuk selang waktu tertentu.

Pengalaman belajar bersama ketiga anak saya, sebelum usia mereka mencapai 7 tahun, modalitas yang dominan cenderung pada auditorial dan kinestetik sehingga saya banyak membacakan pada mereka, memperdengarkan murottal, menggubah/menyanyikan lagu dan beraktivitas di luar dengan permainan-permainan fisik.
Seiring dengan bertambahnya umur dan berkembangnya kemampuan membaca, modalitas dominan yang kemudian muncul adalah visual, meskipun demikian kedua modalitas lainnya masih mewarnai gaya belajar mereka. Berdasarkan keadaan tersebut, saya selalu memasukkan ketiga modalitas dalam setiap kegiatan belajar mereka. Apalagi ketika pada beberapa subjek pembelajaran, modalitas dominan yang muncul berbeda-beda. Sebagai contoh,
- saat belajar matematika dan fisika kecenderungan gaya belajarnya adalah kinestetik, mereka harus melakukan/memeragakan sesuatu untuk mendukung pemahamannya,
- ketika mempelajari/menemukan suatu topik baru, mereka membutuhkan lawan bicara yang bersedia mendengarkan "siaran ulang" hasil bacaan mereka
- jika menemukan bacaan menarik, mereka betah menghabiskan waktu berjam-jam setiap harinya untuk menuntaskan bacaan tersebut
- kesukaan ketiganya pun serupa, mereka sangat senang menggambarkan ide-idenya atau topik yang sedang dipelajari.
- sangat senang menggubah lagu dan melakukan pertunjukan dengan tema tertentu

Sumber gambar di sini
Fasilitas belajar yang meliputi berbagai gaya belajar pada dasarnya akan membantu anak-anak mencapai hasil optimalnya karena dengan demikian kegiatan belajar dapat mencakup keterlibatan baik pasif maupun aktif dari pesertanya. Hal tersebut digambarkan dalam Cone of Learning dari Edgar Dale sebagai berikut:
- keterlibatan pasif meliputi kegiatan membaca, mendengarkan, dan melihat serta mendengar-melihat, hanya akan memberikan pemahaman sampai dengan 50%.
- keterlibatan aktif meliputi kegiatan menyampaikan dan melakukan dapat memberikan sampai dengan 90% pemahaman.

Salah satu kegiatan belajar yang pernah kami lakukan dengan memasukkan ketiga modalitas belajar adalah Detektif Kecil, mengikuti instruksi dan memecahkan tantangan untuk menyelesaikan sebuah misi.

Lalu bagaimana cara belajar efektif jika dikaitkan dengan gaya berpikirnya? Sebaiknya dilanjutkan dalam tulisan berikutnya saja ya... ;)



Bahan Bacaan:
DePorter, Bobbi, Quantum Learning, Kaifa, 1999
DePorter, Bobbi, Quantum Teaching: mempraktikkan quantum learning di ruang-ruang kelas, Kaifa, 2002
Learning Styles, http://teach.com/what/teachers-teach/learning-styles
Learning Styles, https://unh-ed604.wikispaces.com/Learning+Styles
Influential Learning Theories: Multiple Intelligences and Learning Styles, www.connectionsacademy.com

Kamis, April 16, 2015

Bahasa Tubuh, Bahasa Komunikasi Yang Tak Pernah Dusta

Resume kulwapp#3 IIP Surabaya 1
Selasa, 14 April 2015, pk. 20.00 - 21.00
Nara sumber: Septi Peni Wulandani


Menurut Albert Mihrabian, dalam komunikasi, bahasa tubuh menempati peran 55%, intonasi suara 38% dan bahasa verbal hanya 7%. Tapi sayang, banyak diantara kita hanya puas mempelajari bahasa verbal, itupun juga asal, sehingga banyak orangtua yang sekedar "berbicara" ke anaknya, tapi mereka tidak pernah "berkomunikasi".

Sedangkan untuk intonasi suara dan bahasa tubuh, banyak diantara kita yang menganggapnya tidak perlu dipelajari sehingga muncullah gagal paham antara komunikasi anak dan orangtua.

Komunikasi memang tidak selamanya harus berbicara, bahkan kadang kita bisa saling paham yang dimaksud pasangan kita atau anak kita dengan perubahan roman mukanya, atau justru dengan diam. Perubahan roman muka tanpa suara sudah memberikan seribu arti buat yg melihatnya.

Rabu, April 15, 2015

Detektif Kecil


Kali ini kegiatan belajar Amira dan Nina kubuat berbeda. Mereka mempunyai misi yang harus diselesaikan. Pagi hari aku sudah keliling kompleks tempat tinggal kami untuk menempatkan petunjuk-petunjuk yang harus mereka temukan. Sambil pasang senyum setiap kali ada tetangga yang heran melihatku memasang balon di tiang nama jalan, menggantungkan plastik di ranting pohon kersen atau menempelkan amplop di bawah seluncuran di taman kompleks.

detektif kecil

Petunjuk pertama yang mereka temukan adalah sebuah balon dengan gulungan kertas di dalamnya. Lucunya kedua anak itu tidak berani memecahkan balon untuk mengambil petunjuk tersebut. Ketika gulungan dibuka, keduanya terheran-heran karena petunjuknya berisi huruf-huruf acak yang tidak membentuk kata-kata, kecuali mereka membacanya dengan seksama.

Petunjuk kedua berbeda lagi. Kali ini mereka harus membacanya dengan menghadap cermin. Setelah itu pada ketiga mereka harus menyusun kata-kata acak menjadi sebuah kalimat yang bermakna.
Petunjuk terakhir berupa soal matematika yang hasilnya merupakan angka unik nomor rumah kami.

Dari setiap petunjuk-petunjuk tersebut, mereka akan menemukan kepingan-kepingan puzzle yang harus disusun. Di beberapa tempat dimana mereka mendapatkan petunjuk-petunjuk itu ada kejutan-kejutan yang membuat keduanya berteriak gembira.

Di samping menyelesaikan misi menyusun puzzle, keduanya kubekali beberapa lembar tugas yang juga harus dikerjakan.

Selesai berkegiatan, keduanya menyampaikan keinginan untuk belajar dengan cara demikian lagi.
Hehehe....itu berarti sama saja menugaskanku menyusun permainan lagi :)

Selasa, Maret 24, 2015

Eksperimen Gunung Berapi

Eksperimen sains kami kali ini adalah membuat percobaan gunung berapi untuk mengetahui bagaimana proses keluarnya lava dari kepundan gunung berapi. Bahan-bahan yang kami gunakan sebagiannya adalah barang-barang tak terpakai di rumah, seperti kardus bekas pizza dan botol plastik bekas kemasan sambal. 

Selengkapnya bahan yang diperlukan dalam eksperimen ini adalah:

  1. Kardus/karton tebal, dipotong membentuk lingkaran. Kami menggunakan piring makan untuk mencetak lingkarannya. 
  2. Gelas plastik kecil. Kami menggunakan botol plastik bekas sambal yang dipotong atasnya sehingga menjadi menyerupai gelas kecil.
  3. Aluminium foil, digunakan untuk membuat miniatur gunung berapi, membentuk alur-alur di lereng gunungnya.
  4. Selotip
  5. Air 2 sendok
  6. Soda kue 2 sendok
  7. Sabun cair 1 sendok
  8. Cuka masak 2 sendok

Cara percobaannya adalah sebagai berikut:

  1. Botol plastik yang telah dipotong menyerupai gelas kecil ditempel di tengah-tengah lingkaran kardus dengan selotip. 
  2. Tutupi Seluruh bagian gelas berikut kardus dengan aluminium foil dan lipat bagian tepinya ke bagian bawah kardus, kemudian rekatkan dengan selotip.
  3. Buatlah lubang menembus aluminium foil pada mulut gelas untuk membuat "kepundan" gunung.
  4. Campur air, soda kue, dan sabun cair secara merata, kemudian masukkan ke dalam lubang "kepundan".
  5. Kemudian masukkan cuka ke dalam lubang "kepundan".


Eksperimen Gunung Berapi @Rumah3Bintang
Wow! Cairan "lava" keluar dari "kepundan" gunung!

Pada saat cairan keluar, ada gelembung-gelembung yang menyertainya. Gelembung-gelembung itu adalah gas karbondioksida (CO2) yang dihasilkan oleh campuran soda kue dan cuka. Air dan sabun cair pada eksperimen ini adalah untuk menghasilkan efek cairan seolah-olah menyerupai lava.

Saat pertama melakukan eksperimen ini, kami mencampurkan air, soda kue dan sabun cair langsung ke lubang "kepundan", sehingga kesulitan mencampurkannya secara merata. Dan saat memasukkan cuka, efek "lava" yang terjadi tidak terlalu bagus dan memerlukan waktu...."letusan"nya tidak langsung terjadi...

Di kesempatan kedua, kami mencampurkan terlebih dahulu air, soda kue, dan sabun cair pada wadah terpisah. Setelah tercampur merata baru dimasukkan ke dalam lubang "kepundan". Ketika cuka dicampurkan ke dalam cairan tadi, terjadi "letusan" yang WOW! Sampai-sampai kami sempat meloncat ke belakang menghindari cipratan cairan "lava"nya :D

Oh iya, kami menggunakan panduan dalam buku Ayo Bermain Sains 2 dari Seri Eksperimen Kuark untuk percobaan kali ini. 

Jumat, Maret 20, 2015

Mengelola Emosi dalam Mendidik Anak

Resume Kulwapp#2 IIP Surabaya 1
Kamis, 19 Maret 2015 pk. 20.00-21.00
Nara Sumber: Septi Peni Wulandani

Tidak bisa dipungkiri, mendidik anak kadang memancing emosi kita. Rasanya sulit ditahan, karena semakin ditahan justru semakin ingin diledakkan. Sehingga yang muncul akhirnya adalah luapan kemarahan. Tapi ngat bunda, amarah seringkali mendekatkan diri kita kepada hal-hal yang berbahaya.Tanpa kita sadari terkadang anak akan menjadi sasaran kemarahan kita.Hal ini akan sangat tidak baik terhadap perkembangan perilakunya. Karena anak akan banyak belajar dari apa yang mereka lihat dan dengarkan.

Kamis, Februari 05, 2015

Membuat Jam Matahari Sederhana

membuat jam matahariBagaimana awal mulanya petunjuk waktu digunakan? Bentuknya seperti apa? Bagaimana cara kerjanya?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut mengawali kegiatan kami kali ini.

Setelah membaca sejarah mengenai penunjuk waktu pertama berupa jam matahari, kami mencoba membuatnya. Bahan-bahan yang kami gunakan adalah benda-benda tak terpakai yang ada di rumah, yaitu kardus bekas pizza, tusuk satu dan potongan gabus. Kemudian jam tersebut diberi hiasan gambar supaya lebih menarik.

Kami mencobanya dengan menaruh jam tersebut di ruang terbuka yang tidak terhalang baik oleh pohon-pohon maupun bangunan. Setelah mencocokkan dengan waktu yang tertera di jam pada HP, jam tersebut kami tinggalkan beberapa waktu.

Saat kami kembali membaca waktu dari jam matahari tersebut, waktu yang ditunjukkan dari bayangan tusuk sate hampir sama dengan waktu pada HP.

Sebenarnya untuk membuat jam matahari banyak hal-hal lain yang harus diperhitungkan. Tidak sekedar melihat bayangan sebuah benda seperti yang kami lakukan. Namun percobaan ini cukup memberikan gambaran kepada anak mengenai cara mengetahui waktu.



Senin, September 01, 2014

Jalan jalan di Surabaya #1

Ini merupakan kunjungan pertama kami ke kota Surabaya, Ibu Kota Provinsi Jawa Timur. Awalnya kunjungan ini kami maksudkan sebagai orientasi medan menyusul wacana rencana kepindahan kami mengikuti papah yang sudah lebih dulu bertugas di sana. Sebagai persiapan, aku dan Amira telah membuat daftar tempat-tempat menarik untuk dikunjungi sebagai tujuan belajar anak-anak. Tempat-tempat tersebut di antaranya adalah Tugu Pahlawan, House of Sampoerna, Hutan Mangrove Wonorejo, Monumen Kapal Selam (Monkasel), Pantai Kenjeran, Masjid Cheng Ho Surabaya, Ciputra Waterpark, dan Jembatan Suramadu. Meskipun begitu tidak semua destinasi berhasil kami kunjungi.

Hari Minggu ternyata bukanlah hari libur untuk papah, beliau harus berangkat ke site untuk memenuhi tugasnya, sehingga kami berempat harus berkegiatan tanpa ditemani olehnya. Ternyata setiap hari Minggu ada Car Free Day di sepanjang jalan Tunjungan tepat di sebrang tempat kami menginap. Asyik juga menikmati jalan Tunjungan yang sehari-harinya padat dengan kendaraan bermotor sambil berjalan kaki. Kami melewati Hotel Majapahit, yang pada jaman jepang bernama hotel Yamato, tempat terjadinya perobekan bendera Belanda oleh arek-arek Suroboyo pada peristiwa 10 November 1945. Kami menyusuri jalan Tunjungan, melewati jalan Praban ke arah jalan Blauran untuk kemudian ke jalan Embong Malang kembali ke hotel. Nina berkali-kali mengatakan kalau dia sudah capek, sehingga beberapa kali kami beristirahat di emper-emper toko yang masih tutup. Sebelum kembali ke hotel, kami mampir di warung soto ayam Cak Pardi untuk membungkus bekal makan siang. Warungnya sangat ramai, sehingga kami harus menunggu cukup lama.

Sehari sebelumnya kami berjalan sepanjang jalan Embong Malang sampai jalan Tidar untuk menikmati ayam goreng Pemuda. Ayam goreng yang enak dengan sambal pedas yang nikmat.
Kemudian kami mengunjungi Monkasel di jalan Pemuda tepat di sisi Kali Mas untuk belajar ejarah Angkatan Laut TNI dengan kapal selam pertamanya yang diberi nama Pasopati. Tepat setelah gerbang terdapat loket penjualan tiket. Untuk masuk ke dalam monumen pengunjung dikenakan biaya Rp. 8000,00. Ternyata di dalam area monumen terdapat kolam renang dengan biaya terpisah dengan besaran yang sama.

Di kedua sisi tangga menuju pintu masuk terdapat informasi mengenai spesifikasi kapal selam Pasopati dan tugu peresmian monumen. Di dalam kapal selam, kami melihat persenjataan yang melengkapi kapal selam tersebut, peralatan-peralatannya, tempat para perwira dan prajurit berkumpul sampai dengan dapur dan kamar mandinya.

Fauzi, Amira, dan Nisrina berkesampatan mencoba periskop kapal selam.

Keterbatasan fasilitas di dalam kapal selam membuat kami takjub akan perjuangan para prajurit.

Semoga Allah SWT melimpahkan kebaikan dan keberkahan kepada para pejuang dan keluarga yang ditinggalkannya. Aamiin.

Sabtu, Agustus 09, 2014

Hari Pertama Mengikuti Pramuka HS

Kamis, 7 Agustus 2014

Hari ini adalah hari pertama Amira mengikuti kegiatan pramuka homeschooler. Sebenarnya sejak Ramadhan lalu, dia sudah sangat bersemangat untuk ikut serta. Tetapi karena kondisi kesehatannya yang sedang menurun, niat tersebut urung dilaksanakan.
Kami mengajak serta teman Amira, Agna, yang juga baru menjalani pendidikan rumah, karena keluarganya akan pindah ke Garut bulan September yang akan datang.

Pada kegiatan pramuka HS kali ini, yang dilaksanakan di Taman Lansia, banyak peserta baru yang berusia di atas 11 tahun, sehingga mulai dibagi berdasarkan kelompok usia, pramuka Siaga dan pramuka Penggalang. Amira masuk ke pramuka Siaga, sedangkan Fauzi masuk ke pramuka Penggalang....hehehe, kakaknya bisa menarik nafas lega karena tidak jadi sekelompok dengan si adik :D

Kegiatan hari itu adalah mempelajari mengenai sandi. Anak-anak terlihat bersemangat mengikutinya dan antusias dalam menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan, apalagi saat masing-masing kelompok berlomba memecahkan soal yang diberikan oleh kelompok lawannya.

kali ini regu laki-laki pramuka Penggalang yang harus jongkok berdiri karena tidak bisa memecahkan sandi yang diberikan oleh regu perempuan....

Upacara sebelum latihan

Pembacaan janji Pramuka


Rabu, Januari 08, 2014

Hadiah Kecil dari Nisrina

Image courtesy of digitalart
at FreeDigitalPhotos.net
"Mama bisa tolong temani Nina?" pinta putri kecilku saat aku sedang mengikuti kuliah online Bunda Cekatan dari Ibu Profesional pagi ini.
"Bisa tunggu sebentar, Sayang? Mama sebentar lagi selesai", balasku meminta waktu padanya karena saat itu memang kuliah tinggal beberapa menit lagi.
"Baiklah", jawabnya menyetujui permohonanku.

Segera kumatikan laptopku begitu kuliah berakhir, kemudian kuhampiri putri kecilku di ruang bermainnya, yang sebenarnya merupakan teras belakang rumah kami. Melihat kedatanganku, tampak raut ceria di wajahnya.
"Ayo Ma, kita main!" ajaknya sambil menyodorkan karakter stiker bongkar pasang kepadaku.
"Kita main apa, Dek?" tanyaku
"Pasang pasang baju. Orangnya Mama yang ini ya...", jawabnya.

Baru sebentar kami bermain, kulihat jam telah menunjukkan pukul setengah dua belas, sudah waktunya untuk menyiapkan makan siang. Dengan hati-hati, aku mengatakan pada putriku bahwa aku harus mulai memasak. Dengan polosnya dia menunjukkan padaku meja belajarnya yang pura-pura dianggapnya sebagai dapur, dikiranya aku masih bermaksud bermain dengannya.
Kemudian kujelaskan padanya apa yang kumaksud sambil mengajaknya turut serta ke dapur menemaniku memasak.

"Mama mau masak apa?" tanyanya
"Mau masak capcay", jawabku
"Pakai sosis ga?" tanyanya lagi
"Pakai baso, sosisnya ga ada", kujawab lagi pertanyaannya
"Aku boleh bantu Mama masak?" akhirnya dia mengutarakan keinginannya
"Boleh", kujawab permintaannya.

Begitu banyak pertanyaan yang diajukannya sepanjang proses memasak capcay, seperti mengapa basonya dibelah dua bukan dipotong dua, mengapa apinya tidak kecil saja, apa itu menumis, apa itu bawang daun, mengapa buncisnya belum boleh dimasukkan, mengapa harus pakai gula, untuk apa diberi merica, apakah garam rasanya asin, dan masih banyak lagi pertanyaan lainnya.
Sambil bertanya, tangannya ikut membantuku memasukkan bahan-bahan ke dalam wajan mengikuti petunjukku. Dengan antusias dia pun turut mencicipi rasa capcay dan mengomentari masih kurang garam serta memberi saran supaya airnya tidak perlu ditambah lagi.

Setelah capcay matang, aku melanjutkan memasak menu berikutnya, dan ternyata putri kecilku masih bersemangat untuk turut serta. Kembali pertanyaan-pertanyaan meluncur dari mulut mungilnya sembari memperhatikanku memasak.

Begitu semua makanan telah siap, dia langsung meminta makan, karena menurutnya aku memasak makanan kesukaannya. Tidak seperti biasa, dia bersikukuh untuk melakukan semuanya sendiri, mengambil lauk sampai memotong ayam dengan sendok garpu menjadi potongan kecil, dan dia menyelesaikan makan siang sampai piringnya bersih. Ditutupnya acara makan siang dengan minum air putih dan doa setelah makan.

Selesai makan, azan Dzuhur berkumandang. Kuajak dia untuk shalat. Biasanya dia akan berkilah dirinya masih kecil dan belum bisa shalat. Tapi kali ini dia menerima ajakan sambil berkata, "Aku mau belajar shalat, Ma!"
Subhanallah walhamdulillah. Sungguh bahagia mendengar jawabannya.
Diambilnya sendiri mukena dari dalam lacinya, kubantu memakainya, kemudian dia berdiri di sampingku bersiap shalat berjamaah. Selesai shalat, kuajarkan dia membaca istigfar, tasbih, tahmid dan takbir. Semua diikutinya dengan tertib.

Putri kecilku akan genap berumur empat tahun besok. Dan hari ini begitu banyak hadiah yang dia berikan untukku.
"Nina, Mama sayang Nina", begitu ucapku setiap akan tidur, dan dia akan selalu membalasnya,
"Nina juga sayang Mama. Aku bahagia bersama Mama."

Minggu, Januari 05, 2014

Sebuah Cerita "Segitiga"

Suatu malam, saat kami bertiga sudah bersiap untuk tidur, Nina bertanya padaku,
"Mama, tau cerita segitiga ga?
"Cerita segitiga? Apa itu?" balasku, balik bertanya.
"Iya, cerita segitiga...", katanya lagi

Terheran-heran aku dan Amira dibuatnya, tidak mengerti maksud perkataan putri kecilku itu.
Amira tersenyum geli, sambil terus melirik padaku mengirimkan kode-kode untuk bertanya lagi.
"Memangnya Nina tau cerita segitiga?" pancingku
"Tau", jawabnya yakin
"Boleh tolong ceritakan?" pintaku akhirnya
"Boleh", jawabnya.
"Segitiga, lingkaran, belah ketupat, jajar genjang, trapesium, segilima, persegi, persegi panjang."
"Begitu ceritanya...", Nina tersenyum menutup ceritanya.

Aku dan Amira tertawa geli mendengar penuturannya. Kemudian Amira berkomentar,"Bagus ya, Dek, cerita segitiganya!"
Nina tersenyum bangga mendengar komentar kakaknya, merasa bahwa dia berhasil menceritakan pengetahuannya kepada kami.

Jumat, Desember 06, 2013

Membuat Kartu Cerita

Kesukaan Nina adalah menggunting dan menempel. Dengan kesukaannya tersebut, kucoba mengajaknya membuat kartu cerita. Biasanya dia akan menggunting apa saja, koran, majalah atau kertas-kertas yang sudah digambarinya sendiri. Hasil-hasil guntingannya seringkali terbuang setelahnya.

membuat kartu cerita



Kali ini kuajak dia untuk menempelkan hasil-hasil guntingannya ke kartu-kartu kecil yang telah kusediakan sebelumnya. Kartu-kartu tersebut kubuat dari kalender bekas yang cukup tebal kertasnya.
Gambar-gambarnya kami ambil dari majalah bekas. Nina yang memilih sendiri gambar-gambarnya.

Setelah kartu-kartunya selesai dibuat, kami bersama-sama membuat cerita bebas dari kartu-kartu tersebut. Rame juga...ceritanya ga habis-habis, selalu berubah dan berkembang. Selain itu, bisa disimpan untuk digunakan kembali di lain waktu.



Jumat, Mei 31, 2013

Sudahkah Kaucuci Piring Makanmu?


Setiap selesai makan, selalu kupesankan pada anak sulungku untuk mencuci piringnya sendiri. Meskipun sedikit mengeluh, dia tetap melaksanakan pesanku itu. Tetapi selalu ada saja barang yang disisakan untuk dicuci oleh orang lain, yaitu sendok dan garpunya. Di samping itu, piring yang dicucinya seringkali masih menyisakan bekas nasi atau minyak.

Mungkin baginya mencuci piring bukanlah sebuah pekerjaan yang penting. Namun dalam kenyataannya mencuci piring menyimpan proses pembelajaran dan pembentukan karakter di dalamnya.

Cerita berikut ini kukutip dari buku berjudul Mendidik Karakter dengan Karakter, karya Ida S. Widayanti;

Alkisah, pada suatu masa ada seorang pemuda yang mencari guru terbaik di negerinya. Ia mendengar bahwa guru yang paling hebat tinggal di sebuah tempat yang jauh dan sulit untuk ditempuh. Karena tekadnya sudah sangat kuat, maka berangkatlah pemuda itu dengan membawa perbekalan secukupnya.

Setelah menempuh perjalanan jauh, tibalah sang pemuda di tempat sang guru.

“Apa yang membuatmu tiba di tempat ini, anak muda?” Tanya sang guru.

“Saya ingin berguru agar saya menjadi orang yang arif bijaksana serta menjadi seorang pemimpin masyarakat.”

“Baiklah, sebelum saya bisa menerimamu, saya ingin bertanya, apakah engkau mencuci piring bekas sarapanmu tadi pagi?”

“Tentu saja tidak sempat, Guru. Berangkat ke sini bagi saya merupakan hal yang sangat penting, jangan sampai terganggu oleh hal yang sepele.”

“Kamu salah, sekarang pulanglah dulu. Cucilah piringmu dulu! Bagaimana mungkin engkau bisa menjadi pemimpin yang bertanggung jawab terhadap masyarakat dan negeri, sedangkan engkau tidak bertanggung jawab terhadap barang yang telah engkau pergunakan.”

Sifat tanggung jawab harus dibangun dari hal-hal yang kecil dan dari dalam dirinya sendiri, demikian hikmah yang dapat dipetik dari kisah di atas. Seorang anak sudah sewajarnya diajak untuk menyelesaikan tanggung jawabnya terhadap barang-barang yang dipergunakannya sebelum dia diminta bertanggung jawab untuk hal-hal yang lebih besar di luar rumahnya, baik itu lingkungan sekolah atau masyarakat.  

Melipat selimut, menjemur handuk, menempatkan baju kotor dalam keranjang cucian, mencuci piring bekas makan, dan memasukkan kotak bekal ke dalam tas sekolah hanyalah beberapa contoh hal kecil yang sering dilewatkan begitu saja oleh anak-anakku sebelum berangkat ke sekolah. Agar anak bertanggung jawab akan hal-hal kecil tersebut, orang tua hanya tidak boleh bosan untuk terus mengingatkan dan jangan selalu mengambil alih tanggung jawab tersebut, karena sesungguhnya rumah adalah tempat belajar utama bagi anak.

Kamis, April 04, 2013

Ketika Hafalanku Diuji Amira

Potret Amira
Saat itu Amira, putri keduaku, sedang menghafal Al Qur'an Surah An Naba di sekolahnya. Saat dia menghafalkan satu ayat setiap harinya, aku pun melakukannya di rumah. Hal itu kulakukan untuk memotivasi anakku dan juga aku, di samping akupun ingin bisa hafal dan paham Al Qur'an. Aku memacu diriku sendiri untuk selalu bisa selangkah di depannya, meskipun di hadapannya aku tidak menunjukkan bahwa aku lebih dulu darinya.

Ketika Amira mengulang hafalannya di rumah, aku mengikutinya tanpa suara. Sesekali jika dia lupa atau terpeleset, aku membantunya. Terkadang Amira suka bertanya,"Mama udah ayat berapa?" Saat dia tahu aku selangkah di depan, raut wajahnya berubah. Kalau sudah begitu, aku akan beralasan,"Sabtu Minggu kakak kan libur, jadi ga nambah hafalan. Mama kan ga ada libur, jadi lebih cepat dua ayat."

Sampai suatu hari Amira sudah menyelesaikan hafalannya sampai dengan ayat terakhir, namun dia masih lupa di beberapa bagian ayat tersebut. Sambil berpanduan pada Al Qur'an aku membimbingnya untuk memperlancar hafalannya. Setelah lancar ayat terakhir, kuminta ia mengulangnya dari ayat pertama dan permintaanku dipenuhinya dengan baik. Begitu selesai, tiba-tiba dia melihatku dengan pandangan menyelidik dari sudut matanya,"Mama apal ga dari ayat pertama? Jangan liat Qur'an!"
Sedikit kaget aku menanggapinya sikap galaknya dengan tertawa geli. Namun lanjutnya,"Coba kalo apal...!"

Meskipun merasa sedikit keki, tanpa menunggu lama aku lantunkan Surah An Naba dari ayat pertama. Alhamdulillah aku dapat terus melanjutkannya tanpa hambatan sampai dengan ayat terakhir.
Penutup lantunanku langsung disambutnya dengan senyum manis yang terkembang dari bibir mungilnya sambil memujikan,"Iya bener...Mama memang apal ya..."
Aku balas tersenyum sambil mengucap Alhamdulillah. Hatiku senang karena bisa membuatnya percaya bahwa mamanya tidak hanya mendorongnya untuk belajar menghafal Al Qur'an tapi turut melakukannya juga.

Alhamdulillah, dengan ijin-Nya kami masih terus melakukannya sampai saat ini. Sesekali sebelum tidur Amira melantunkan hafalan-hafalannya dan kemudian bertanya kepadaku mengenai hafalanku. Ketika dia mendapati aku lebih cepat darinya dia berkomentar bahwa dia akan bisa mendahuluiku.
Terima kasih sayang, semangatmu menjadi motivasi untuk mama.

Love you always!

Selasa, Februari 26, 2013

Anakku, Darimu Aku Belajar

Gaya FauziKetika kehadirannya melengkapi hidupku

Bahagia yang kurasakan sungguh tiada hingga

Menatapnya bagai melihat harapan

Meski rasa khawatir itu turut ada


Fauzi belajar sepeda
Langkah kecilnya sudah tak ada

Berlari, berlari dan selalu berlari

Melompat, berguling tak kenal henti

Bagai tak ada lelah di diri



Sabarku sering tak bersisa

Menuntutnya untuk sempurna

Padahal diri selalu bertambah baik

Melangkah mantap dari hari ke hari



Engkau selalu membuatku berpikir

Mencari dan terus mencari

Mencoba tak kenal henti

Belajar bagai tak bertepi



Karenamu sabarku teruji

Mendidikmu ikhlasku terasah

Turut pula iman dan taqwaku tertempa

Tempuh jalan melaksanakan amanah-Nya



Anakku,

Tak sedikit salahku padamu

Andai maaf dapat menghapus semua

Sungguh hanya yang terbaik ingin kuberi

Agar hidupmu mantap penuh berkah


Senyum Fauzi

Terima kasihku sungguh tak terhitung

Tak cukup bibir ini hanya mengucap

Namun baru ini yang dapat kuberi

Mendidikmu tak lelah tak henti



Anakku,

Darimu aku belajar

Ilmu yang tak pernah kujumpa

Dari pakar dan para ahli

Menjadi diri seorang ibu yang sejati



Terinspirasi oleh Fauzi Dhiya Arshaad, Juni 2008

Rabu, Januari 16, 2013

Ijinkan Aku Belajar Bersamamu

Potret FauziSetiap anak selalu dalam keadaan belajar sejak dilahirkannya. Mereka selalu belajar dan belajar telah menjadi hidupnya. Belajar bagi mereka seolah bagaikan bernafas. Seiring tumbuh kembangnya mencapai usia sekolah, banyak anak-anak yang tidak lagi menjadikan belajar sebagai hidupnya. Seakan-akan belajar adalah keterpaksaan, kekangan terhadap kebebasannya mengembangkan dirinya sebagaimana yang dialami oleh anak sulungku.

Putra pertamaku mendapatkan pembelajaran pertamanya di lingkungan rumah bersama orang-orang terdekatnya, aku-mama, papa dan pengasuhnya, serta nenek dan paman-pamannya. Hari-harinya selalu diisi dengan kegiatan belajar yang terjadi secara spontan sebagaimana anak/bayi lainnya. Kegiatan yang sering kami lakukan adalah bermain, bernyanyi dan membaca, serta mengulang doa-doa sehari-hari.

Alasan keterbatasan waktu karena bekerja mendorongku untuk menyekolahkannya di usia dini, dua tahun, di sebuah kelompok bermain di dekat rumah. Bayanganku sebuah kelompok bermain tentunya berisi sejumlah anak yang bermain bersama. Seandainya pun ada kegiatan belajar maka hal tersebut dilakukan sambil bermain sebagaimana yang kulakukan di rumah.
Pada kenyataannya tidaklah demikian, anak telah diajak untuk duduk di dalam kelas dan melakukan kegiatan terstruktur seperti mewarnai, menggunting dan menempel di waktu-waktu yang telah ditentukan. Selain itu, ada pembatasan waktu bermain untuk anak-anak tersebut. Anakku yang sangat gembira melihat banyaknya mainan di halaman sekolah, seolah tidak pernah bosan untuk bisa mencoba semuanya, namun keinginannya tersebut harus pupus karena harus mengikuti program yang telah dibuat. Lama kelamaan, dia enggan mengikuti kegiatan di sekolahnya, hari-harinya hanya diisi dengan bermain tanpa mau mengikuti ketentuan yang diterapkan di sekolahnya sehingga dalam laporan hasil pendidikannya penilaiannya dirinya tidaklah baik. Hasil-hasil karya yang dibawanya ke rumah selalu dikatakannya sebagai pekerjaan gurunya bukan dirinya, mungkin itu hanyalah sebagai bukti adanya kegiatan yang dilaksanakan. 
Hal tersebut pada akhirnya menimbulkan kebosanan pada anakku. Dia mulai terlihat tak bersemangat pergi ke sekolah, sampai pada suatu hari, dia berkata padaku,
“Ma, katanya mama orang pintar…”
“Orang pintar gimana?”
“Iya, mama kan bisa ngajar mahasiswa…, tp kenapa mama ga bisa ngajarin Aa? Aa ga mau sekolah lagi, ga mau belajar sama bu guru, mau belajar sama mama aja. Boleh ya..”

Tidak pernah terpikir olehku, setelah sembilan tahun berlalu, keinginannya di masa kecil itu masih tersimpan hingga kini ketika usianya sudah 11 tahun. Di saat dia sudah harus mulai memilih dan menentukan ke sekolah mana dia akan meneruskan pendidikannya di jenjang lanjutan, dia menangis karena sebenarnya dia tidak mau bersekolah di tempat yang telah dipilihnya yang telah kami ikuti prosedur pendaftarannya. Di tengah isaknya, dia bercerita bahwa sebenarnya dia hanya ingin belajar bersamaku, dia ingin belajar di rumah bersamaku.
Teringat olehnya situasi menyenangkan yang dialaminya saat kami membahas suatu topik bersama, mencari informasi-informasi di berbagai literatur dan membaca bersama. Kegiatan yang paling disukainya adalah saat aku membacakan untuknya, baik itu cerita atau puisi-puisi dari buku-buku.

Saat kutanyakan padanya mengapa dia ingin belajar di rumah bersamaku, dia menjelaskan bahwa banyak hal yang menjadi minatnya dan ingin dipelajarinya tetapi tidak dapat dilakukannya saat sekolah, karena harus mengikuti pelajaran-pelajaran yang sudah ditentukan.

Yang menyentuh perasaanku sebagai ibunya adalah ketika kuketahui bahwa dia masih suka menangis saat di sekolah karena ide-ide yang diajukannya tidak pernah diterima oleh teman-temannya. Suatu kejadian saat di tahun kelimanya, para siswa diminta untuk menilai dirinya sendiri dengan salah satu poin penilaian berupa kontribusi terhadap kelompok, anakku menilai dirinya sendiri dengan angka 2 dari skala 1 sampai dengan 10. Ketika kutanyakan alasannya kepadanya, dia menjawab bahwa memang demikian adanya. Kemudian kutanyakan lagi, tidakkah pernah walau hanya sekali dia menyampaikan ide ketika berada dalam kelompok, dijawabnya dengan sering tetapi tidak pernah diterima oleh anggota kelompok yang lain bahkan sebelum ide itu disampaikannya. Sejak itu dia menarik diri dan tidak mau lagi untuk menyampaikan ide-idenya. 

Terus terang aku bingung menghadapi keadaan ini dan memikirkan langkah apa yang harus diambil. Kembali kutanyakan pada anakku, apa sebenarnya yang dia inginkan? Sebuah jawaban sederhana disampaikannya kepadaku, bahwa dia hanya ingin belajar.

Jika kuperhatikan kesehariannya, anak sulungku adalah anak yang aktif dan kreatif. Kegiatan kesukaannya adalah menggambar, menulis, bermain Lego, dan membaca serta bermain games komputer. Dia menyukai musik dan hobinya adalah menyanyi. Dia sangat suka merancang permainan yang dijabarkannya dalam bentuk gambar dan skenario dalam bahasa Inggris.
Dia sangat senang membaca, buku-buku yang dibacanya sangat beragam, terutama sebuah kamus tebal berjudul Visual Dictionary. Dia mempelajari banyak hal dari buku tersebut mulai dari astronomi, anatomi tubuh manusia, hewan, tumbuhan sampai ke perkembangan persenjataan di dunia. Selain itu ketika dia berminat mempelajari sesuatu, dia akan dengan senang hati mencari sumber dari berbagai buku, seperti saat dia sangat tertarik dengan laba-laba, dibacanya buku Harun Yahya, Pustaka Sains Populer Islami tentang Menjelajah Dunia Laba-laba.
Karya Legonya sangatlah unik, tanpa melihat contoh sering dia membuat bentuk-bentuk yang bagus, seperti dinosaurus, pesawat tempur dan karakter orang dua dimensi. Permaianan Lego memang telah menjadi kegemarannya sejak dia berusia dua tahun dan hingga kini dia bisa menghabiskan waktu berjam-jam untuk berkreasi dan bermain dengannya.
Kegemarannya bermain games komputer kuarahkan untuk mempelajari cara membuat game komputer sendiri. Dia mempelajari sendiri program untuk membuat animasi dan karakter tiga dimensi dengan membaca buku-buku. Kini dia telah dapat membuat karakter-karakter sederhana serta menjalankan animasinya meskipun banyak trik yang belum dia kuasai sehingga dia membujukku untuk mengijinkannya mengikuti kursus.
Ketika dia tertarik untuk belajar bermain biola, tidak ada kesulitan baginya untuk menguasai pelajaran-pelajaran yang diberikan. Semangatnya terutama timbul jika ada pertunjukan-pertunjukan yang harus dia ikuti.  

Sayangnya dia tidak telaten mengumpulkan hasil-hasil karyanya, tidak tekun dalam proses penyelesaian pekerjaan, mudah bosan terhadap suatu bidang jika target yang ditetapkannya sendiri telah tercapai, mudah menyerah dalam bidang-bidang di luar minatnya, dan minatnya sangat mudah berubah sehingga ketika dia mempunyai ide atau minat baru dengan cepat dia akan beralih dari pekerjaan lamanya.

Aku mengenal anakku sebagai seorang pembelajar. Ketika belajar menimbulkan perasaan tertekan kepadanya, membuatnya kehilangan motivasi, merasa kebebasannya mengembangkan ide-ide hilang, dan kehilangan kepercayaan diri maka wajarkah jika aku merasa ada ketidakberesan dalam proses belajar yang diikutinya? Mungkin bukan programnya yang salah, tetapi karakter anakku tidak tepat dengan cara belajar dan tuntutan yang ditetapkan. Bila demikian yang terjadi, maka tugasku pulalah untuk mencari jalan keluar agar dengan potensi yang dimiliki berikut segala keterbatasan yang ada padanya, dia mendapatkan kesempatan terbaik mengembangkan kemampuan dirinya.

Berkali-kali kutanyakan pada anakku, bagaimana aku dapat membantunya dan apa yang diinginkannya. Jawabannya masih tetap sama, bahwa yang diinginkannya adalah belajar dan pintanya aku mengijinkannya untuk belajar denganku. 

Pilihan harus dibuat, kumantapkan hatiku dan kuyakinkan diriku bahwa aku akan mampu memenuhi permintaan anakku meskipun tantangan dan hambatan yang akan kuhadapi tidak sedikit. Pendidikan utamanya adalah tanggungjawab orangtua. Ketika seorang anak tidak mendapatkan kesesuaian dalam memenuhi kebutuhannya akan belajar, mengapa orangtua tidak mencoba untuk kembali kepada dirinya karena semestinya orangtualah yang paling mengenal anak-anaknya.

Jumat, Oktober 24, 2008

Rumah Tanpa Televisi

Televisi sudah menjadi kebutuhan yang “penting” dalam setiap keluarga pada masa sekarang ini. Rasanya sangat jarang dan akan sulit sekali menemukan rumah tanpa sebuah televisi. Bahkan dalam sebuah rumah bukan merupakan suatu keanehan terdapat lebih dari satu televisi. Begitu pula dalam keluarga kami, televisi telah menjadi sahabat yang selalu setia menemani hari-hari kami di rumah.
Fauzi sangat suka menonton film-film kartun terutama di Global TV. Pada awalnya kami tidak terlalu khawatir dengan film-film yang ditontonnya, karena masih sesuai untuk anak-anak seperti Dora the Explorer, Diego, dan Backyarddiggans. Kemudian film favoritnya berubah seiring dengan perkembangan umurnya. Jika kuperhatikan, film-film kartun yang ditonton oleh sulungku tidak cocok untuk anak-anak karena mengandung unsur kekerasan, permusuhan dan hal-hal negatif lainnya. Di samping itu, film-film tersebut selalu diulang, tidak hanya sekali dua kali tetapi tak terhitung lagi. Kucoba membatasi jadwal menonton anakku, secara bertahap kukurangi waktunya sampai akhirnya dia boleh menonton dua jam saja dalam satu hari, satu jam di pagi hari dan sejam lagi di sore hari. Saat itu, aku sudah tidak pernah menonton TV lagi, karena Fauzi selalu beralasan untuk menemaniku menonton saat jatah menonton miliknya telah habis hari itu.
Sudah sering kubaca mengenai pengaruh TV terutama bagi anak-anak, bahwa TV dengan tayangannya diyakini dapat meningkatkan agresivitas anak, menjadikan anak tidak kreatif, meningkatkan kemungkinan obesitas, dan masih banyak hal negatif lainnya. Aku juga tidak memungkiri bahwa tayangan televisi ada yang bagus dan menambah pengetahuan bagi anak, seperti acara Si Bolang yang memang menjadi favorit anakku, tetapi persentasenya sangat kecil. Berdasarkan pengamatanku, saat menonton, anakku sangat sulit untuk diajak berkomunikasi, tidak kooperatif menjalankan kewajiban-kewajibannya bahkan mengabaikan kebutuhan dirinya, seperti makan dan mandi. Dia paling tidak suka disela saat menonton, tidak suka jika kuajak bicara, serta mudah marah.
Tidak terbayangkan olehku akan mengambil langkah yang kontroversial. Setelah kukonsultasikan dengan mama dan kudiskusikan dengan suamiku, aku bertekad melaksanakan rencanaku. Akhirnya, di suatu pagi yang cerah di hari Sabtu, kuhapus peran “kotak bergambar” ini dari rumah kami, kuturunkan dia dari tahtanya, kursi kebesaran yang tidak pernah terusik selama lima tahun. Aku tidak berani membayangkan apa yang akan dilakukan oleh anakku saat mengetahui sahabat karibnya tidak lagi menemaninya. Aku hanya berdoa bahwa apa yang kulakukan adalah sesuatu yang baik dan tepat untuk kami sekeluarga. Kemudian kutinggalkan rumah untuk pergi ke kampus karena harus memberi kuliah pengganti. Kutitipkan kedua anakku yang masih tidur kepada pengasuhnya.
Siang hari begitu tiba di rumah kembali, pengasuh anakku memberi laporan mengenai apa yang terjadi selama aku pergi. Sungguh tidak terduga dan aku sangat bersyukur tidak terjadi sesuatu yang buruk terhadap buah hatiku. Saat dia bangun tidur, seperti biasa, dibawanya bantal ke sofa di ruang TV. Begitu dia membuka lemari TV yang biasanya tidak pernah tertutup, dia sangat terkejut, TIDAK ADA TV di dalamnya! TV-nya kemana, tanyanya kepada pengasuhnya. Dibawa mama, ga tau kemana, jawab pengasuhnya. Anakku termenung dan sangat kecewa. Setelah dibujuk, dia mandi seperti biasa. Tetapi saat berpakaian, anakku sangat lama berada di kamarnya, tidak keluar-keluar meskipun telah dipanggil berulang kali. Akhirnya pengasuh anakku menyusul ke kamar, dan kaget melihat yang sedang dilakukan olehnya. Anakku sedang menempelkan lampu belajar ke tubuhnya! Kejadian lain yang cukup menyulitkan adalah dia melemparkan berbagai mainannya ke atas, ke langit-langit ruang keluarga yang memang sangat tinggi. Tutup ember wadah Lego, dijadikannya piring terbang, yang hampir menyambar kepala adiknya. Meskipun demikian, dia melakukannya tidak sambil marah,bahkan cenderung tanpa ekspresi, begitu laporan pengasuhnya padaku. Mungkin karena capek dan kecewa, aku mendapatinya tertidur di sofa.
Semula aku khawatir, keadaan ini akan berlanjut cukup lama. Tapi ternyata tidak. Hari Minggu keadaannya sudah membaik. Fauzi tidak melakukan sesuatu hal yang mengkhawatirkan. Dia hanya minta diijinkan bermain komputer dan kemudian bermain keluar bersama teman-temannya.

“Ma, TV-nya dikemanain?”, tanyanya tiba-tiba.
Aku menatapnya, kemudian kujawab,”Mama singkirin”.
“Disingkirin ke mana?”,tanyanya lagi. “Dikasihin ke yang butuh”.
“Kenapa?”
“Karena mama ga mau Fauzi rusak”
“Rusak kenapa?”, anakku terus mengejar dengan pertanyaan-pertanyaannya
“Gara-gara nonton TV terus, Fauzi jadi susah mandi, susah makan, sering marah-marah, ga mau ngapa-ngapain….”, kujawab panjang lebar.
“Oooo….”
“Kapan kita punya TV lagi?”, lanjutnya.
“Mama ga bisa jawab sekarang, sayang.” Kusudahi percakapan kami.

Hari ini enam bulan telah berlalu. Televisi masih berada dalam persembunyiannya, entah berapa lama lagi. Aku masih bertahan dengan keputusanku, tidak menghadirkan televisi di tengah-tengah keluarga kami. Meskipun keinginan Fauzi untuk memiliki kembali TV masih tinggi, tetapi dia tidak pernah memaksa. Dia hanya bertekad bisa membeli TV dari hasil usahanya sendiri, apakah itu dari tabungannya maupun pencarian hadiah kuis kue-kue kesukaannya.
Adakah yang berubah? Banyak sekali. Fauzi jadi lebih menekuni hobi menggambarnya, semakin tertarik untuk bisa membaca, mau berlatih menulis atas keinginannya sendiri, semakin kreatif dengan mainan Legonya, dan semakin sering berinteraksi dengan adik semata wayangnya. Intensitas marahnya juga semakin berkurang, jauh lebih kooperatif dan lebih sehat tentunya.
Tetapi saya tidak melarangnya untuk menonton jika ada kesempatan. Seperti jika dia di rumah Eninnya. Dan itupun tidak lama, selain karena waktu yang singkat, dia juga harus mau berbagi tayangan TV dengan Enin atau Oomnya. Dari hal ini kulihat, kesediaannya untuk berbagi juga menjadi lebih baik.
Sebuah rumah tanpa televisi sangat mungkin untuk diwujudkan. Mungkin ada ruginya tetapi manfaat yang kami rasakan ternyata jauh lebih banyak. Masih ada media lain yang bisa kami gunakan sehingga kamipun tidak perlu khawatir ketinggalan berita.



Perjalanan Minim Sampah

Minim sampah dalam perjalanan merupakan sebuah tantangan, namun hal tersebut sangat mungkin dilakukan. Memang tidak semua akan ideal seperti...