Jumat, Mei 31, 2013

Sudahkah Kaucuci Piring Makanmu?


Setiap selesai makan, selalu kupesankan pada anak sulungku untuk mencuci piringnya sendiri. Meskipun sedikit mengeluh, dia tetap melaksanakan pesanku itu. Tetapi selalu ada saja barang yang disisakan untuk dicuci oleh orang lain, yaitu sendok dan garpunya. Di samping itu, piring yang dicucinya seringkali masih menyisakan bekas nasi atau minyak.

Mungkin baginya mencuci piring bukanlah sebuah pekerjaan yang penting. Namun dalam kenyataannya mencuci piring menyimpan proses pembelajaran dan pembentukan karakter di dalamnya.

Cerita berikut ini kukutip dari buku berjudul Mendidik Karakter dengan Karakter, karya Ida S. Widayanti;

Alkisah, pada suatu masa ada seorang pemuda yang mencari guru terbaik di negerinya. Ia mendengar bahwa guru yang paling hebat tinggal di sebuah tempat yang jauh dan sulit untuk ditempuh. Karena tekadnya sudah sangat kuat, maka berangkatlah pemuda itu dengan membawa perbekalan secukupnya.

Setelah menempuh perjalanan jauh, tibalah sang pemuda di tempat sang guru.

“Apa yang membuatmu tiba di tempat ini, anak muda?” Tanya sang guru.

“Saya ingin berguru agar saya menjadi orang yang arif bijaksana serta menjadi seorang pemimpin masyarakat.”

“Baiklah, sebelum saya bisa menerimamu, saya ingin bertanya, apakah engkau mencuci piring bekas sarapanmu tadi pagi?”

“Tentu saja tidak sempat, Guru. Berangkat ke sini bagi saya merupakan hal yang sangat penting, jangan sampai terganggu oleh hal yang sepele.”

“Kamu salah, sekarang pulanglah dulu. Cucilah piringmu dulu! Bagaimana mungkin engkau bisa menjadi pemimpin yang bertanggung jawab terhadap masyarakat dan negeri, sedangkan engkau tidak bertanggung jawab terhadap barang yang telah engkau pergunakan.”

Sifat tanggung jawab harus dibangun dari hal-hal yang kecil dan dari dalam dirinya sendiri, demikian hikmah yang dapat dipetik dari kisah di atas. Seorang anak sudah sewajarnya diajak untuk menyelesaikan tanggung jawabnya terhadap barang-barang yang dipergunakannya sebelum dia diminta bertanggung jawab untuk hal-hal yang lebih besar di luar rumahnya, baik itu lingkungan sekolah atau masyarakat.  

Melipat selimut, menjemur handuk, menempatkan baju kotor dalam keranjang cucian, mencuci piring bekas makan, dan memasukkan kotak bekal ke dalam tas sekolah hanyalah beberapa contoh hal kecil yang sering dilewatkan begitu saja oleh anak-anakku sebelum berangkat ke sekolah. Agar anak bertanggung jawab akan hal-hal kecil tersebut, orang tua hanya tidak boleh bosan untuk terus mengingatkan dan jangan selalu mengambil alih tanggung jawab tersebut, karena sesungguhnya rumah adalah tempat belajar utama bagi anak.

Sabtu, Mei 25, 2013

Belajar Digital Scrapbooking

Melihat hasil digiscrap karya teman-temanku di grup fb membuatku penasaran ingin mencobanya. Belajar dari ibu teman anakku melalui blognya Nadia Scraps, aku iseng-iseng mulai membuatnya. Karena aku belum rajin mengikuti perkembangan, dengan kata lain masih timbul tenggelam semangatnya, maka aku masih memakai freekits yang itu-itu saja, yang kudapatkan dari FreeDigiScrap setahun yang lalu mungkin. Selain itu aku juga menggunakan kit Tuesday Morning by Aly De Moraes dan Plentiful dari Shabby Princess. Ditambah lagi kemampuanku yang tidak meningkat dalam menggunakan Adobe Photoshop CS3, karena selalu lupa perintah-perintah yang harus digunakan. Meskipun demikian, saat mencoba membuat sendiri scrapbooking ini, aku selalu bersemangat dan bisa setia di depan komputer dalam waktu yang lama. Berikut ini adalah hasil coba-coba seorang pemula:


Saat bermain bersama di halaman depan rumah 
Sekolahku pilihanku
Want to be a popstar



Jumat, Mei 17, 2013

Cerita Pelangi

Suatu sore setelah hujan menyiram kota kami, sebuah pelangi yang indah muncul menghias langit yang telah kembali terang. Kedua putri kecil dengan gembira memanggilku untuk ikut menikmati indahnya pelangi.
"Pelanginya indah ya, Ma", komentar Nisrina, putri kecilku.
"Aku ingin dekat ke pelangi....tapi aku kan ga bisa terbang ya, Ma", lanjutnya
"Kalau aku jadi peri....tiba-tiba aku menjadi kecil! Ga bisa kan...", lanjutnya lagi
Aku terpesona dengan keindahan warna-warna yang menghias di angkasa, dan mendengar komentar putri kecilku yang berusia tiga tahun membuatku tidak dapat berkata-kata, hanya senyuman lebar tersungging di bibirku. Kemudian akhirnya menimpali komentarnya dengan sebuah anggukan dan berkata, "Iya..."
"Aku sangat sukaa pelangi... Oh, betapa indahnya", katanya lagi sambil menangkupkan kedua tangannya di depan dada.
Subhanallah, sungguh tiada yang dapat menciptakan keindahan luar biasa ini selain Allah Azza wa Jalla.

Kamis, April 04, 2013

Ketika Hafalanku Diuji Amira

Potret Amira
Saat itu Amira, putri keduaku, sedang menghafal Al Qur'an Surah An Naba di sekolahnya. Saat dia menghafalkan satu ayat setiap harinya, aku pun melakukannya di rumah. Hal itu kulakukan untuk memotivasi anakku dan juga aku, di samping akupun ingin bisa hafal dan paham Al Qur'an. Aku memacu diriku sendiri untuk selalu bisa selangkah di depannya, meskipun di hadapannya aku tidak menunjukkan bahwa aku lebih dulu darinya.

Ketika Amira mengulang hafalannya di rumah, aku mengikutinya tanpa suara. Sesekali jika dia lupa atau terpeleset, aku membantunya. Terkadang Amira suka bertanya,"Mama udah ayat berapa?" Saat dia tahu aku selangkah di depan, raut wajahnya berubah. Kalau sudah begitu, aku akan beralasan,"Sabtu Minggu kakak kan libur, jadi ga nambah hafalan. Mama kan ga ada libur, jadi lebih cepat dua ayat."

Sampai suatu hari Amira sudah menyelesaikan hafalannya sampai dengan ayat terakhir, namun dia masih lupa di beberapa bagian ayat tersebut. Sambil berpanduan pada Al Qur'an aku membimbingnya untuk memperlancar hafalannya. Setelah lancar ayat terakhir, kuminta ia mengulangnya dari ayat pertama dan permintaanku dipenuhinya dengan baik. Begitu selesai, tiba-tiba dia melihatku dengan pandangan menyelidik dari sudut matanya,"Mama apal ga dari ayat pertama? Jangan liat Qur'an!"
Sedikit kaget aku menanggapinya sikap galaknya dengan tertawa geli. Namun lanjutnya,"Coba kalo apal...!"

Meskipun merasa sedikit keki, tanpa menunggu lama aku lantunkan Surah An Naba dari ayat pertama. Alhamdulillah aku dapat terus melanjutkannya tanpa hambatan sampai dengan ayat terakhir.
Penutup lantunanku langsung disambutnya dengan senyum manis yang terkembang dari bibir mungilnya sambil memujikan,"Iya bener...Mama memang apal ya..."
Aku balas tersenyum sambil mengucap Alhamdulillah. Hatiku senang karena bisa membuatnya percaya bahwa mamanya tidak hanya mendorongnya untuk belajar menghafal Al Qur'an tapi turut melakukannya juga.

Alhamdulillah, dengan ijin-Nya kami masih terus melakukannya sampai saat ini. Sesekali sebelum tidur Amira melantunkan hafalan-hafalannya dan kemudian bertanya kepadaku mengenai hafalanku. Ketika dia mendapati aku lebih cepat darinya dia berkomentar bahwa dia akan bisa mendahuluiku.
Terima kasih sayang, semangatmu menjadi motivasi untuk mama.

Love you always!

Selasa, Februari 26, 2013

Anakku, Darimu Aku Belajar

Gaya FauziKetika kehadirannya melengkapi hidupku

Bahagia yang kurasakan sungguh tiada hingga

Menatapnya bagai melihat harapan

Meski rasa khawatir itu turut ada


Fauzi belajar sepeda
Langkah kecilnya sudah tak ada

Berlari, berlari dan selalu berlari

Melompat, berguling tak kenal henti

Bagai tak ada lelah di diri



Sabarku sering tak bersisa

Menuntutnya untuk sempurna

Padahal diri selalu bertambah baik

Melangkah mantap dari hari ke hari



Engkau selalu membuatku berpikir

Mencari dan terus mencari

Mencoba tak kenal henti

Belajar bagai tak bertepi



Karenamu sabarku teruji

Mendidikmu ikhlasku terasah

Turut pula iman dan taqwaku tertempa

Tempuh jalan melaksanakan amanah-Nya



Anakku,

Tak sedikit salahku padamu

Andai maaf dapat menghapus semua

Sungguh hanya yang terbaik ingin kuberi

Agar hidupmu mantap penuh berkah


Senyum Fauzi

Terima kasihku sungguh tak terhitung

Tak cukup bibir ini hanya mengucap

Namun baru ini yang dapat kuberi

Mendidikmu tak lelah tak henti



Anakku,

Darimu aku belajar

Ilmu yang tak pernah kujumpa

Dari pakar dan para ahli

Menjadi diri seorang ibu yang sejati



Terinspirasi oleh Fauzi Dhiya Arshaad, Juni 2008

Rabu, Januari 16, 2013

Ijinkan Aku Belajar Bersamamu

Potret FauziSetiap anak selalu dalam keadaan belajar sejak dilahirkannya. Mereka selalu belajar dan belajar telah menjadi hidupnya. Belajar bagi mereka seolah bagaikan bernafas. Seiring tumbuh kembangnya mencapai usia sekolah, banyak anak-anak yang tidak lagi menjadikan belajar sebagai hidupnya. Seakan-akan belajar adalah keterpaksaan, kekangan terhadap kebebasannya mengembangkan dirinya sebagaimana yang dialami oleh anak sulungku.

Putra pertamaku mendapatkan pembelajaran pertamanya di lingkungan rumah bersama orang-orang terdekatnya, aku-mama, papa dan pengasuhnya, serta nenek dan paman-pamannya. Hari-harinya selalu diisi dengan kegiatan belajar yang terjadi secara spontan sebagaimana anak/bayi lainnya. Kegiatan yang sering kami lakukan adalah bermain, bernyanyi dan membaca, serta mengulang doa-doa sehari-hari.

Alasan keterbatasan waktu karena bekerja mendorongku untuk menyekolahkannya di usia dini, dua tahun, di sebuah kelompok bermain di dekat rumah. Bayanganku sebuah kelompok bermain tentunya berisi sejumlah anak yang bermain bersama. Seandainya pun ada kegiatan belajar maka hal tersebut dilakukan sambil bermain sebagaimana yang kulakukan di rumah.
Pada kenyataannya tidaklah demikian, anak telah diajak untuk duduk di dalam kelas dan melakukan kegiatan terstruktur seperti mewarnai, menggunting dan menempel di waktu-waktu yang telah ditentukan. Selain itu, ada pembatasan waktu bermain untuk anak-anak tersebut. Anakku yang sangat gembira melihat banyaknya mainan di halaman sekolah, seolah tidak pernah bosan untuk bisa mencoba semuanya, namun keinginannya tersebut harus pupus karena harus mengikuti program yang telah dibuat. Lama kelamaan, dia enggan mengikuti kegiatan di sekolahnya, hari-harinya hanya diisi dengan bermain tanpa mau mengikuti ketentuan yang diterapkan di sekolahnya sehingga dalam laporan hasil pendidikannya penilaiannya dirinya tidaklah baik. Hasil-hasil karya yang dibawanya ke rumah selalu dikatakannya sebagai pekerjaan gurunya bukan dirinya, mungkin itu hanyalah sebagai bukti adanya kegiatan yang dilaksanakan. 
Hal tersebut pada akhirnya menimbulkan kebosanan pada anakku. Dia mulai terlihat tak bersemangat pergi ke sekolah, sampai pada suatu hari, dia berkata padaku,
“Ma, katanya mama orang pintar…”
“Orang pintar gimana?”
“Iya, mama kan bisa ngajar mahasiswa…, tp kenapa mama ga bisa ngajarin Aa? Aa ga mau sekolah lagi, ga mau belajar sama bu guru, mau belajar sama mama aja. Boleh ya..”

Tidak pernah terpikir olehku, setelah sembilan tahun berlalu, keinginannya di masa kecil itu masih tersimpan hingga kini ketika usianya sudah 11 tahun. Di saat dia sudah harus mulai memilih dan menentukan ke sekolah mana dia akan meneruskan pendidikannya di jenjang lanjutan, dia menangis karena sebenarnya dia tidak mau bersekolah di tempat yang telah dipilihnya yang telah kami ikuti prosedur pendaftarannya. Di tengah isaknya, dia bercerita bahwa sebenarnya dia hanya ingin belajar bersamaku, dia ingin belajar di rumah bersamaku.
Teringat olehnya situasi menyenangkan yang dialaminya saat kami membahas suatu topik bersama, mencari informasi-informasi di berbagai literatur dan membaca bersama. Kegiatan yang paling disukainya adalah saat aku membacakan untuknya, baik itu cerita atau puisi-puisi dari buku-buku.

Saat kutanyakan padanya mengapa dia ingin belajar di rumah bersamaku, dia menjelaskan bahwa banyak hal yang menjadi minatnya dan ingin dipelajarinya tetapi tidak dapat dilakukannya saat sekolah, karena harus mengikuti pelajaran-pelajaran yang sudah ditentukan.

Yang menyentuh perasaanku sebagai ibunya adalah ketika kuketahui bahwa dia masih suka menangis saat di sekolah karena ide-ide yang diajukannya tidak pernah diterima oleh teman-temannya. Suatu kejadian saat di tahun kelimanya, para siswa diminta untuk menilai dirinya sendiri dengan salah satu poin penilaian berupa kontribusi terhadap kelompok, anakku menilai dirinya sendiri dengan angka 2 dari skala 1 sampai dengan 10. Ketika kutanyakan alasannya kepadanya, dia menjawab bahwa memang demikian adanya. Kemudian kutanyakan lagi, tidakkah pernah walau hanya sekali dia menyampaikan ide ketika berada dalam kelompok, dijawabnya dengan sering tetapi tidak pernah diterima oleh anggota kelompok yang lain bahkan sebelum ide itu disampaikannya. Sejak itu dia menarik diri dan tidak mau lagi untuk menyampaikan ide-idenya. 

Terus terang aku bingung menghadapi keadaan ini dan memikirkan langkah apa yang harus diambil. Kembali kutanyakan pada anakku, apa sebenarnya yang dia inginkan? Sebuah jawaban sederhana disampaikannya kepadaku, bahwa dia hanya ingin belajar.

Jika kuperhatikan kesehariannya, anak sulungku adalah anak yang aktif dan kreatif. Kegiatan kesukaannya adalah menggambar, menulis, bermain Lego, dan membaca serta bermain games komputer. Dia menyukai musik dan hobinya adalah menyanyi. Dia sangat suka merancang permainan yang dijabarkannya dalam bentuk gambar dan skenario dalam bahasa Inggris.
Dia sangat senang membaca, buku-buku yang dibacanya sangat beragam, terutama sebuah kamus tebal berjudul Visual Dictionary. Dia mempelajari banyak hal dari buku tersebut mulai dari astronomi, anatomi tubuh manusia, hewan, tumbuhan sampai ke perkembangan persenjataan di dunia. Selain itu ketika dia berminat mempelajari sesuatu, dia akan dengan senang hati mencari sumber dari berbagai buku, seperti saat dia sangat tertarik dengan laba-laba, dibacanya buku Harun Yahya, Pustaka Sains Populer Islami tentang Menjelajah Dunia Laba-laba.
Karya Legonya sangatlah unik, tanpa melihat contoh sering dia membuat bentuk-bentuk yang bagus, seperti dinosaurus, pesawat tempur dan karakter orang dua dimensi. Permaianan Lego memang telah menjadi kegemarannya sejak dia berusia dua tahun dan hingga kini dia bisa menghabiskan waktu berjam-jam untuk berkreasi dan bermain dengannya.
Kegemarannya bermain games komputer kuarahkan untuk mempelajari cara membuat game komputer sendiri. Dia mempelajari sendiri program untuk membuat animasi dan karakter tiga dimensi dengan membaca buku-buku. Kini dia telah dapat membuat karakter-karakter sederhana serta menjalankan animasinya meskipun banyak trik yang belum dia kuasai sehingga dia membujukku untuk mengijinkannya mengikuti kursus.
Ketika dia tertarik untuk belajar bermain biola, tidak ada kesulitan baginya untuk menguasai pelajaran-pelajaran yang diberikan. Semangatnya terutama timbul jika ada pertunjukan-pertunjukan yang harus dia ikuti.  

Sayangnya dia tidak telaten mengumpulkan hasil-hasil karyanya, tidak tekun dalam proses penyelesaian pekerjaan, mudah bosan terhadap suatu bidang jika target yang ditetapkannya sendiri telah tercapai, mudah menyerah dalam bidang-bidang di luar minatnya, dan minatnya sangat mudah berubah sehingga ketika dia mempunyai ide atau minat baru dengan cepat dia akan beralih dari pekerjaan lamanya.

Aku mengenal anakku sebagai seorang pembelajar. Ketika belajar menimbulkan perasaan tertekan kepadanya, membuatnya kehilangan motivasi, merasa kebebasannya mengembangkan ide-ide hilang, dan kehilangan kepercayaan diri maka wajarkah jika aku merasa ada ketidakberesan dalam proses belajar yang diikutinya? Mungkin bukan programnya yang salah, tetapi karakter anakku tidak tepat dengan cara belajar dan tuntutan yang ditetapkan. Bila demikian yang terjadi, maka tugasku pulalah untuk mencari jalan keluar agar dengan potensi yang dimiliki berikut segala keterbatasan yang ada padanya, dia mendapatkan kesempatan terbaik mengembangkan kemampuan dirinya.

Berkali-kali kutanyakan pada anakku, bagaimana aku dapat membantunya dan apa yang diinginkannya. Jawabannya masih tetap sama, bahwa yang diinginkannya adalah belajar dan pintanya aku mengijinkannya untuk belajar denganku. 

Pilihan harus dibuat, kumantapkan hatiku dan kuyakinkan diriku bahwa aku akan mampu memenuhi permintaan anakku meskipun tantangan dan hambatan yang akan kuhadapi tidak sedikit. Pendidikan utamanya adalah tanggungjawab orangtua. Ketika seorang anak tidak mendapatkan kesesuaian dalam memenuhi kebutuhannya akan belajar, mengapa orangtua tidak mencoba untuk kembali kepada dirinya karena semestinya orangtualah yang paling mengenal anak-anaknya.

Jumat, Oktober 05, 2012

Lagu Tidur untuk Mama


“Ayo semua tidur, jangan lupa baca doa dulu…”, kataku kepada ketiga anakku dengan cemas melihat jarum-jarum jam dinding kami terus bergerak melewati waktu tengah malam.

“Aa dan kakak kan besok harus sekolah”, lanjutku.

Tanpa banyak membantah kedua anakku menuruti kata-kataku, setelah membaca doa tidur bersama-sama, keduanya memejamkan mata dan berusaha untuk tidur.
Tapi tidak demikian dengan putri kecilku yang berumur 2 tahun 8 bulan, dia malah merengek minta dibacakan buku cerita Franklin dan Hujan Badai.

“Sudah malam, De..Bacanya besok lagi ya, tadi kan udah dibacakan dua buku..”, aku menolak permintaannya

“Mama Ita…ga bisa bacanya..”, dia terus merengek

Aku pejamkan mataku dan pura-pura tidur serta berusaha untuk tidak memperdulikan rengekannya, meskipun hati kecilku tidak tega.

“…petir…kata Franklin…”, kudengar dia pura-pura membaca. Kemudian diulanginya lagi kata-kata tersebut sampai tiga kali.

“Mama Itaa….Nina ga bisa bacanya…”, rengeknya lagi masih berusaha membujukku menuruti permintaannya.

Aku tetap diam berusaha tidak menanggapi tingkahnya, sambil mengintip untuk melihat apa yang sedang dilakukannya. Dari sudut mataku, kulihat ia sedang membuka buka sambil berbaring seakan-akan sedang membaca. Kulirik jam dinding, jarum panjangnya sudah melewati angka enam dan jarum pendeknya ada diantara angka 12 dan satu. Oh tidak…sudah setengah satu, keluhku dalam hati.
Tidak lama kemudian, rengekannya sudah berganti dengan senandung lagu nina bobo, berikutnya kudengar dia menyanyi,

”Mamah bobo..ooh..mamah bobo…kalo tidak bobo digigit..KEBOO
ooh..KEBOO..”

Tidak tahan mendengarnya, tak sengaja aku tersenyum, kemudian terdengar tawa geli kakaknya.
Mendengar ada respon dari kami, dia tersenyum lebar dan melanjutkan nyanyinya:

“Aa bobo…ooh…Aa bobo…kalo tidak bobo digigit..KEBOO
KEBOO…”

Tidak tahan menahan geli, akhirnya kami berdua tertawa dan dia pun ikut tertawa melihat kami masih terjaga. Kemudian kupeluk dia, dan berkata,”Ayo bobo…mamah ga mau digigit kebo!”
Dia tersenyum dan balas memelukku. 

Kamis, Juni 02, 2011

Martabak Mini ala Rumah

Martabak mini merupakan cemilan yang bergizi dan cukup mengenyangkan terutama untuk anak-anak usia sekolah yang sedang doyan-doyannya makan. Sebagai ibu tentunya kita harus selalu menyediakan makanan yang sehat dan bergizi agar bisa memenuhi kebutuhannya. Hal tersebut memerlukan kreativitas kita dalam mengolah makanan. Apalagi jika ketertarikan anak untuk makan adalah makan cemilan alias tidak mau makan nasi.
Martabak mini ini kesukaan Amira, anak keduaku. Sayangnya jika kita membelinya di toko, martabak mini tersebut kebanyakan hanya berisikan adonan tepung dan irisan daun bawang, sedangkan dagingnya hampir tidak ada, kecuali kalau kita rela merogeh kocek lebih dalam.
Membuka-buka kembali koleksi kumpulan resep punya mama, kutemukan resep martabak mini. Dengan sedikit variasi menyesuaikan dengan bahan-bahan yang bisa diperoleh di tukang sayur langganan, martabak mini ala rumah kuhidangkan untuk anak-anakku tersayang.
Mau coba, boleh ikuti resep berikut: kulit lumpia 30 lembar (biasanya di tukang sayur langgananku, kulit lumpia ini dijual per sepuluh lembar), daging cincang 250 gr, bawang Bombay yang sedang besarnya 2 buah (sekitar 100 gr) dicincang halus, telur ayam 6 butir, daun bawang 5 batang diiris halus, merica halus, gula pasir dan garam secukupnya, margarine untuk menumis dan minyak goreng secukupnya.

Terlebih dahulu tumislah bawang Bombay yang telah dicincang halus dengan margarine, kemudian masukkan daging cincang sampai keluar airnya. Setelah itu beri gula pasir, merica halus dan garam sesuai selera, aduk rata dan masak hingga matang. Kocoklah telur dan masukkan tumisan daging cincang beserta irisan daun bawang, aduk hingga rata. Siapkan lembaran-lembaran kulit lumpia. Taruh sesendok makan adonan isi ke atas kulit lumpia kemudian lipat. Oleskan sedikit kocokan telur supaya lipatan tidak terbuka. Panaskan minyak goreng dan masukkan martabak. Goreng sampai matang, angkat dan tiriskan.

Pada saat membuat martabak seperti resep di atas, saya sempat menambahkan irisan daun bawang kurang lebih tiga batang karena ternyata kocokan telur dan tumisan daging cincang masih cukup banyak, sehingga pas dengan tigapuluh lembar kulit lumpia. Tidak perlu kuatir adonan isi tidak terbagi rata untuk setiap martabak, karena setiap gigitan dari ujung sampai pangkal, daging cincangnya sangat terasa.

Minggu, Mei 29, 2011

Gehu Pedas Isi Daging

Suka makan gorengan? Pisang goreng, bala-bala, atau gehu alias tahu isi? Itu semua makanan kesukaanku. Murah, enak, dan praktis. Jenis gorengan yang paling aku suka adalah gehu. Tahu dengan isi toge dan sayuran lainnya, dibalut adonan tepung kemudian digoreng, yang selagi panas dimakan ditemani cabai rawit...eehm, selangit enaknya! Sekarang ada lagi jenis lain, mungkin sebagai akibat harga cabai yang sempat melambung tinggi jauh ke awan, dan untuk tetap memanjakan lidah para penggemar gehu, yaitu gehu pedas. yang satu ini tidak perlu pakai cabai lagi saat memakannya karena sudah all in di dalam campuran sayuran dan rasanya...nendang banget! Apalagi bagi pemilik perut sensitif tapi ga tau diri! Dijamin deh perut panas!Tapi bukan itu yang mau kuceritakan....
Ceritaku ini lebih karena merasa keki akibat termakan iming-iming yang ada di counter penjualan gehu pedas di depan sebuah minimarket di daerah bandung utara. Sudah lama sebenarnya aku ingin mencicipi gehu pedas di tempat tersebut tapi karena berbagai alasan keinginan tersebut selalu tertunda.
Satu waktu saat dalam perjalanan menjemput putriku dari sekolahnya, aku mampir di minimarket tersebut. kemudian saat keluar, kulihat tulisan yang tertempel di kaca counter gehu pedas "isi daging Rp. 2000"...eehm, enak nih kayaknya! pikirku. Langsung kukeluarkan selembar uang dua ribu dan kubeli satu. karena masih sangat panas, kulanjutkan perjalananku. Sesampainya di tempat parkir, aku memutuskan untuk memakannya dulu sebelum turun menjemput putriku. Gigitan pertama rasa pedas langsung menyerbu lidahku, tapi tidak ada tanda-tanda daging di dalamnya. Gigitan kedua dan berikutnya dan berikutnya...belum juga ada tanda-tanda potongan daging akan muncul. Penasaran kutengok gehu yang semakin mengecil setiap kali akan kugigit, hanya tampak irisan toge dan kol. Pasrah sudah tak kunjung kudapatkan potongan daging di dalam gehu pedas tersebut sambil terselip prasangka kurang baik terhadap penjualnya. "Wah...nipu nih!"begitu prasangkaku. Tapi apa yang terjadi, saat kuhabiskan suapan terakhir, sepotong kecil daging sapi terasa nikmat di mulut...Spontan aku tertawa sendiri...Ya, iyalah!!! Memangnya dengan harga duaribu rupiah saja, mau potongan daging seperti apa yang kuharapkan ada di dalam gehu pedas itu!!! Harapan yang terlalu tinggi.. :-)

Selasa, Mei 03, 2011

Steak dan Pasta di Warung Laos Dago


Makan siang di Warung Laos Dago, Bandung, enaknya pas lagi sepi apalagi kalau sama anak-anak, nyaman banget...putri kecil kami yang berusia 15 bulan bebas berlari-lari ke sana ke mari. Kami memilih tempat duduk di lantai dua. Pemandangan bebas ke arah kota Bandung, meskipun merupakan hal yang biasa karena rumah kami pun punya yang satu itu, menambah asyiknya suasana. Untungnya angin bertiup dengan bersahabat sehingga suasana ruang terbuka sangat pas untuk acara keluarga kali ini.
Acara makan siang diawali dengan secangkir hot lemon tea yang dilengkapi sekeping biskuit jahe untukku dan suamiku, segelas ice chocolate favorit Fauzi dan segelas besar strawberry juice kesukaan Amira.
Hidangan utama dengan menu Spaghetti Bolognaise pesanan Amira yang pertama kali datang dengan porsi cukup banyak untuk seorang anak perempuan berusia 4 tahun. Wah..ga bakalan habis nih, pikirku. Sebelum memesan, saya sedikit membujuk Amira untuk memesan Baked Spaghetti Bolognaise, karena kabarnya menu tersebut istimewa. Sayang anakku tidak termakan rayuan ibunya. Padahal saya berharap mendapat sisanya..:-)
Fauzi memilih Sirloin Steak dengan sedikit terpaksa, karena biasanya dia selalu memilih menu Chicken Steak bila kami makan di restoran sejenis, sayangnya menu itu tidak tersedia di sini. Meskipun sudah kutawari dia untuk memesan pizza tapi dia menolaknya, mungkin sedang tidak selera. padahal kabarnya sekali lagi (!), pizza di sini asyik punya....
Aku dan suamiku memesan menu yang hampir serupa dengan Fauzi, hanya bedanya pesananku dilengkapi dengan spaghetti sedangkan untuk suamiku dengan blackpepper fried rice. Kami bertiga sangat puas dengan menu pesanan kami. Fauzi makan dengan sangat lahap, semuanya habis kecuali jamur gorengnya karena memang dia tidak suka. Blackpepper fried rice-nya gurih, bahkan putri kecil kami pun semangat menunggu suapan kecil lagi dari papanya setelah mencoba, tentunya butiran-butiran blackpepper kami bersihkan terlebih dahulu. Cuma sayangnya menurut suamiku, karena dihidangkan dengan piring biasa, steak-nya jadi cepat dingin...maklum, kami berdua harus bergiliran makan untuk menjaga si kecil yang sangat senang bisa berlarian sehingga tidak mau diajak duduk.Oya, kalau memesan steak di sini, jangan lupa untuk menyampaikan kebiasaan atau kegemaran anda menikmati makanan tersebut, apakah senang dimasak setengah matang atau matang, daripada kecewa setelahnya.
Pengalaman kali ini membuat kami ingin datang lagi dan menikmati suasana serta menu di tempat tersebut. Pada kesempatan lain, aku ingin mencicipi pizzanya....

Jumat, Oktober 24, 2008

Rumah Tanpa Televisi

Televisi sudah menjadi kebutuhan yang “penting” dalam setiap keluarga pada masa sekarang ini. Rasanya sangat jarang dan akan sulit sekali menemukan rumah tanpa sebuah televisi. Bahkan dalam sebuah rumah bukan merupakan suatu keanehan terdapat lebih dari satu televisi. Begitu pula dalam keluarga kami, televisi telah menjadi sahabat yang selalu setia menemani hari-hari kami di rumah.
Fauzi sangat suka menonton film-film kartun terutama di Global TV. Pada awalnya kami tidak terlalu khawatir dengan film-film yang ditontonnya, karena masih sesuai untuk anak-anak seperti Dora the Explorer, Diego, dan Backyarddiggans. Kemudian film favoritnya berubah seiring dengan perkembangan umurnya. Jika kuperhatikan, film-film kartun yang ditonton oleh sulungku tidak cocok untuk anak-anak karena mengandung unsur kekerasan, permusuhan dan hal-hal negatif lainnya. Di samping itu, film-film tersebut selalu diulang, tidak hanya sekali dua kali tetapi tak terhitung lagi. Kucoba membatasi jadwal menonton anakku, secara bertahap kukurangi waktunya sampai akhirnya dia boleh menonton dua jam saja dalam satu hari, satu jam di pagi hari dan sejam lagi di sore hari. Saat itu, aku sudah tidak pernah menonton TV lagi, karena Fauzi selalu beralasan untuk menemaniku menonton saat jatah menonton miliknya telah habis hari itu.
Sudah sering kubaca mengenai pengaruh TV terutama bagi anak-anak, bahwa TV dengan tayangannya diyakini dapat meningkatkan agresivitas anak, menjadikan anak tidak kreatif, meningkatkan kemungkinan obesitas, dan masih banyak hal negatif lainnya. Aku juga tidak memungkiri bahwa tayangan televisi ada yang bagus dan menambah pengetahuan bagi anak, seperti acara Si Bolang yang memang menjadi favorit anakku, tetapi persentasenya sangat kecil. Berdasarkan pengamatanku, saat menonton, anakku sangat sulit untuk diajak berkomunikasi, tidak kooperatif menjalankan kewajiban-kewajibannya bahkan mengabaikan kebutuhan dirinya, seperti makan dan mandi. Dia paling tidak suka disela saat menonton, tidak suka jika kuajak bicara, serta mudah marah.
Tidak terbayangkan olehku akan mengambil langkah yang kontroversial. Setelah kukonsultasikan dengan mama dan kudiskusikan dengan suamiku, aku bertekad melaksanakan rencanaku. Akhirnya, di suatu pagi yang cerah di hari Sabtu, kuhapus peran “kotak bergambar” ini dari rumah kami, kuturunkan dia dari tahtanya, kursi kebesaran yang tidak pernah terusik selama lima tahun. Aku tidak berani membayangkan apa yang akan dilakukan oleh anakku saat mengetahui sahabat karibnya tidak lagi menemaninya. Aku hanya berdoa bahwa apa yang kulakukan adalah sesuatu yang baik dan tepat untuk kami sekeluarga. Kemudian kutinggalkan rumah untuk pergi ke kampus karena harus memberi kuliah pengganti. Kutitipkan kedua anakku yang masih tidur kepada pengasuhnya.
Siang hari begitu tiba di rumah kembali, pengasuh anakku memberi laporan mengenai apa yang terjadi selama aku pergi. Sungguh tidak terduga dan aku sangat bersyukur tidak terjadi sesuatu yang buruk terhadap buah hatiku. Saat dia bangun tidur, seperti biasa, dibawanya bantal ke sofa di ruang TV. Begitu dia membuka lemari TV yang biasanya tidak pernah tertutup, dia sangat terkejut, TIDAK ADA TV di dalamnya! TV-nya kemana, tanyanya kepada pengasuhnya. Dibawa mama, ga tau kemana, jawab pengasuhnya. Anakku termenung dan sangat kecewa. Setelah dibujuk, dia mandi seperti biasa. Tetapi saat berpakaian, anakku sangat lama berada di kamarnya, tidak keluar-keluar meskipun telah dipanggil berulang kali. Akhirnya pengasuh anakku menyusul ke kamar, dan kaget melihat yang sedang dilakukan olehnya. Anakku sedang menempelkan lampu belajar ke tubuhnya! Kejadian lain yang cukup menyulitkan adalah dia melemparkan berbagai mainannya ke atas, ke langit-langit ruang keluarga yang memang sangat tinggi. Tutup ember wadah Lego, dijadikannya piring terbang, yang hampir menyambar kepala adiknya. Meskipun demikian, dia melakukannya tidak sambil marah,bahkan cenderung tanpa ekspresi, begitu laporan pengasuhnya padaku. Mungkin karena capek dan kecewa, aku mendapatinya tertidur di sofa.
Semula aku khawatir, keadaan ini akan berlanjut cukup lama. Tapi ternyata tidak. Hari Minggu keadaannya sudah membaik. Fauzi tidak melakukan sesuatu hal yang mengkhawatirkan. Dia hanya minta diijinkan bermain komputer dan kemudian bermain keluar bersama teman-temannya.

“Ma, TV-nya dikemanain?”, tanyanya tiba-tiba.
Aku menatapnya, kemudian kujawab,”Mama singkirin”.
“Disingkirin ke mana?”,tanyanya lagi. “Dikasihin ke yang butuh”.
“Kenapa?”
“Karena mama ga mau Fauzi rusak”
“Rusak kenapa?”, anakku terus mengejar dengan pertanyaan-pertanyaannya
“Gara-gara nonton TV terus, Fauzi jadi susah mandi, susah makan, sering marah-marah, ga mau ngapa-ngapain….”, kujawab panjang lebar.
“Oooo….”
“Kapan kita punya TV lagi?”, lanjutnya.
“Mama ga bisa jawab sekarang, sayang.” Kusudahi percakapan kami.

Hari ini enam bulan telah berlalu. Televisi masih berada dalam persembunyiannya, entah berapa lama lagi. Aku masih bertahan dengan keputusanku, tidak menghadirkan televisi di tengah-tengah keluarga kami. Meskipun keinginan Fauzi untuk memiliki kembali TV masih tinggi, tetapi dia tidak pernah memaksa. Dia hanya bertekad bisa membeli TV dari hasil usahanya sendiri, apakah itu dari tabungannya maupun pencarian hadiah kuis kue-kue kesukaannya.
Adakah yang berubah? Banyak sekali. Fauzi jadi lebih menekuni hobi menggambarnya, semakin tertarik untuk bisa membaca, mau berlatih menulis atas keinginannya sendiri, semakin kreatif dengan mainan Legonya, dan semakin sering berinteraksi dengan adik semata wayangnya. Intensitas marahnya juga semakin berkurang, jauh lebih kooperatif dan lebih sehat tentunya.
Tetapi saya tidak melarangnya untuk menonton jika ada kesempatan. Seperti jika dia di rumah Eninnya. Dan itupun tidak lama, selain karena waktu yang singkat, dia juga harus mau berbagi tayangan TV dengan Enin atau Oomnya. Dari hal ini kulihat, kesediaannya untuk berbagi juga menjadi lebih baik.
Sebuah rumah tanpa televisi sangat mungkin untuk diwujudkan. Mungkin ada ruginya tetapi manfaat yang kami rasakan ternyata jauh lebih banyak. Masih ada media lain yang bisa kami gunakan sehingga kamipun tidak perlu khawatir ketinggalan berita.



Perjalanan Minim Sampah

Minim sampah dalam perjalanan merupakan sebuah tantangan, namun hal tersebut sangat mungkin dilakukan. Memang tidak semua akan ideal seperti...