Saat itu Amira, putri keduaku, sedang menghafal Al Qur'an Surah An Naba di sekolahnya. Saat dia menghafalkan satu ayat setiap harinya, aku pun melakukannya di rumah. Hal itu kulakukan untuk memotivasi anakku dan juga aku, di samping akupun ingin bisa hafal dan paham Al Qur'an. Aku memacu diriku sendiri untuk selalu bisa selangkah di depannya, meskipun di hadapannya aku tidak menunjukkan bahwa aku lebih dulu darinya.
Ketika Amira mengulang hafalannya di rumah, aku mengikutinya tanpa suara. Sesekali jika dia lupa atau terpeleset, aku membantunya. Terkadang Amira suka bertanya,"Mama udah ayat berapa?" Saat dia tahu aku selangkah di depan, raut wajahnya berubah. Kalau sudah begitu, aku akan beralasan,"Sabtu Minggu kakak kan libur, jadi ga nambah hafalan. Mama kan ga ada libur, jadi lebih cepat dua ayat."
Sampai suatu hari Amira sudah menyelesaikan hafalannya sampai dengan ayat terakhir, namun dia masih lupa di beberapa bagian ayat tersebut. Sambil berpanduan pada Al Qur'an aku membimbingnya untuk memperlancar hafalannya. Setelah lancar ayat terakhir, kuminta ia mengulangnya dari ayat pertama dan permintaanku dipenuhinya dengan baik. Begitu selesai, tiba-tiba dia melihatku dengan pandangan menyelidik dari sudut matanya,"Mama apal ga dari ayat pertama? Jangan liat Qur'an!"
Sedikit kaget aku menanggapinya sikap galaknya dengan tertawa geli. Namun lanjutnya,"Coba kalo apal...!"
Meskipun merasa sedikit keki, tanpa menunggu lama aku lantunkan Surah An Naba dari ayat pertama. Alhamdulillah aku dapat terus melanjutkannya tanpa hambatan sampai dengan ayat terakhir.
Penutup lantunanku langsung disambutnya dengan senyum manis yang terkembang dari bibir mungilnya sambil memujikan,"Iya bener...Mama memang apal ya..."
Aku balas tersenyum sambil mengucap Alhamdulillah. Hatiku senang karena bisa membuatnya percaya bahwa mamanya tidak hanya mendorongnya untuk belajar menghafal Al Qur'an tapi turut melakukannya juga.
Alhamdulillah, dengan ijin-Nya kami masih terus melakukannya sampai saat ini. Sesekali sebelum tidur Amira melantunkan hafalan-hafalannya dan kemudian bertanya kepadaku mengenai hafalanku. Ketika dia mendapati aku lebih cepat darinya dia berkomentar bahwa dia akan bisa mendahuluiku.
Terima kasih sayang, semangatmu menjadi motivasi untuk mama.
Love you always!
Kamis, April 04, 2013
Selasa, Februari 26, 2013
Anakku, Darimu Aku Belajar
Bahagia yang kurasakan sungguh tiada hingga
Menatapnya bagai melihat harapan
Meski rasa khawatir itu turut ada
Langkah kecilnya sudah tak ada
Berlari, berlari dan selalu berlari
Melompat, berguling tak kenal henti
Bagai tak ada lelah di diri
Sabarku sering tak bersisa
Menuntutnya untuk sempurna
Padahal diri selalu bertambah baik
Melangkah mantap dari hari ke hari
Engkau selalu membuatku berpikir
Mencari dan terus mencari
Mencoba tak kenal henti
Belajar bagai tak bertepi
Karenamu sabarku
teruji
Mendidikmu ikhlasku terasah
Turut pula iman dan taqwaku tertempa
Tempuh jalan melaksanakan amanah-Nya
Anakku,
Tak sedikit salahku padamu
Andai maaf dapat menghapus semua
Sungguh hanya yang terbaik ingin kuberi
Agar hidupmu mantap penuh berkah
Terima kasihku sungguh tak terhitung
Tak cukup bibir ini hanya mengucap
Namun baru ini yang dapat kuberi
Mendidikmu tak lelah tak henti
Anakku,
Darimu aku belajar
Ilmu yang tak pernah kujumpa
Dari pakar dan para ahli
Menjadi diri seorang ibu yang sejati
Terinspirasi oleh Fauzi Dhiya Arshaad, Juni 2008
Rabu, Januari 16, 2013
Ijinkan Aku Belajar Bersamamu
Setiap anak selalu dalam keadaan belajar sejak dilahirkannya. Mereka
selalu belajar dan belajar telah menjadi hidupnya. Belajar bagi mereka seolah
bagaikan bernafas. Seiring tumbuh kembangnya mencapai usia sekolah, banyak
anak-anak yang tidak lagi menjadikan belajar sebagai hidupnya. Seakan-akan
belajar adalah keterpaksaan, kekangan terhadap kebebasannya mengembangkan
dirinya sebagaimana yang dialami oleh anak sulungku.
Putra pertamaku mendapatkan pembelajaran pertamanya di lingkungan rumah
bersama orang-orang terdekatnya, aku-mama, papa dan pengasuhnya, serta nenek
dan paman-pamannya. Hari-harinya selalu diisi dengan kegiatan belajar yang
terjadi secara spontan sebagaimana anak/bayi lainnya. Kegiatan yang sering kami
lakukan adalah bermain, bernyanyi dan membaca, serta mengulang doa-doa
sehari-hari.
Alasan keterbatasan waktu karena bekerja mendorongku untuk
menyekolahkannya di usia dini, dua tahun, di sebuah kelompok bermain di dekat
rumah. Bayanganku sebuah kelompok bermain tentunya berisi sejumlah anak yang
bermain bersama. Seandainya pun ada kegiatan belajar maka hal tersebut
dilakukan sambil bermain sebagaimana yang kulakukan di rumah.
Pada kenyataannya tidaklah demikian, anak telah diajak untuk duduk di
dalam kelas dan melakukan kegiatan terstruktur seperti mewarnai, menggunting
dan menempel di waktu-waktu yang telah ditentukan. Selain itu, ada pembatasan
waktu bermain untuk anak-anak tersebut. Anakku yang sangat gembira melihat
banyaknya mainan di halaman sekolah, seolah tidak pernah bosan untuk bisa
mencoba semuanya, namun keinginannya tersebut harus pupus karena harus
mengikuti program yang telah dibuat. Lama kelamaan, dia enggan mengikuti
kegiatan di sekolahnya, hari-harinya hanya diisi dengan bermain tanpa mau
mengikuti ketentuan yang diterapkan di sekolahnya sehingga dalam laporan hasil
pendidikannya penilaiannya dirinya tidaklah baik. Hasil-hasil karya yang
dibawanya ke rumah selalu dikatakannya sebagai pekerjaan gurunya bukan dirinya,
mungkin itu hanyalah sebagai bukti adanya kegiatan yang dilaksanakan.
Hal tersebut pada akhirnya menimbulkan kebosanan pada anakku. Dia mulai
terlihat tak bersemangat pergi ke sekolah, sampai pada suatu hari, dia berkata
padaku,
“Ma, katanya mama orang pintar…”
“Orang pintar gimana?”
“Iya, mama kan bisa ngajar mahasiswa…, tp kenapa mama ga bisa ngajarin
Aa? Aa ga mau sekolah lagi, ga mau belajar sama bu guru, mau belajar sama mama
aja. Boleh ya..”
Tidak pernah terpikir olehku, setelah sembilan tahun berlalu, keinginannya
di masa kecil itu masih tersimpan hingga kini ketika usianya sudah 11 tahun. Di
saat dia sudah harus mulai memilih dan menentukan ke sekolah mana dia akan
meneruskan pendidikannya di jenjang lanjutan, dia menangis karena sebenarnya
dia tidak mau bersekolah di tempat yang telah dipilihnya yang telah kami ikuti
prosedur pendaftarannya. Di tengah isaknya, dia bercerita bahwa sebenarnya dia
hanya ingin belajar bersamaku, dia ingin belajar di rumah bersamaku.
Teringat olehnya situasi menyenangkan yang dialaminya saat kami membahas
suatu topik bersama, mencari informasi-informasi di berbagai literatur dan
membaca bersama. Kegiatan yang paling disukainya adalah saat aku membacakan
untuknya, baik itu cerita atau puisi-puisi dari buku-buku.
Saat kutanyakan padanya mengapa dia ingin belajar di rumah bersamaku,
dia menjelaskan bahwa banyak hal yang menjadi minatnya dan ingin dipelajarinya
tetapi tidak dapat dilakukannya saat sekolah, karena harus mengikuti
pelajaran-pelajaran yang sudah ditentukan.
Yang menyentuh perasaanku sebagai ibunya adalah ketika kuketahui bahwa
dia masih suka menangis saat di sekolah karena ide-ide yang diajukannya tidak
pernah diterima oleh teman-temannya. Suatu kejadian saat di tahun kelimanya,
para siswa diminta untuk menilai dirinya sendiri dengan salah satu poin
penilaian berupa kontribusi terhadap kelompok, anakku menilai dirinya sendiri
dengan angka 2 dari skala 1 sampai dengan 10. Ketika kutanyakan alasannya
kepadanya, dia menjawab bahwa memang demikian adanya. Kemudian kutanyakan lagi,
tidakkah pernah walau hanya sekali dia menyampaikan ide ketika berada dalam
kelompok, dijawabnya dengan sering tetapi tidak pernah diterima oleh anggota
kelompok yang lain bahkan sebelum ide itu disampaikannya. Sejak itu dia menarik
diri dan tidak mau lagi untuk menyampaikan ide-idenya.
Terus terang aku bingung menghadapi keadaan ini dan memikirkan langkah
apa yang harus diambil. Kembali kutanyakan pada anakku, apa sebenarnya yang dia
inginkan? Sebuah jawaban sederhana disampaikannya kepadaku, bahwa dia hanya
ingin belajar.
Jika kuperhatikan kesehariannya, anak sulungku adalah anak yang aktif
dan kreatif. Kegiatan kesukaannya adalah menggambar, menulis, bermain Lego, dan
membaca serta bermain games komputer.
Dia menyukai musik dan hobinya adalah menyanyi. Dia sangat suka merancang
permainan yang dijabarkannya dalam bentuk gambar dan skenario dalam bahasa
Inggris.
Dia sangat senang membaca, buku-buku yang dibacanya sangat beragam,
terutama sebuah kamus tebal berjudul Visual
Dictionary. Dia mempelajari banyak hal dari buku tersebut mulai dari
astronomi, anatomi tubuh manusia, hewan, tumbuhan sampai ke perkembangan
persenjataan di dunia. Selain itu ketika dia berminat mempelajari sesuatu, dia
akan dengan senang hati mencari sumber dari berbagai buku, seperti saat dia
sangat tertarik dengan laba-laba, dibacanya buku Harun Yahya, Pustaka Sains
Populer Islami tentang Menjelajah Dunia Laba-laba.
Karya Legonya sangatlah unik, tanpa melihat contoh sering dia membuat
bentuk-bentuk yang bagus, seperti dinosaurus, pesawat tempur dan karakter orang
dua dimensi. Permaianan Lego memang telah menjadi kegemarannya sejak dia
berusia dua tahun dan hingga kini dia bisa menghabiskan waktu berjam-jam untuk
berkreasi dan bermain dengannya.
Kegemarannya bermain games komputer
kuarahkan untuk mempelajari cara membuat game
komputer sendiri. Dia mempelajari sendiri program untuk membuat animasi dan
karakter tiga dimensi dengan membaca buku-buku. Kini dia telah dapat membuat
karakter-karakter sederhana serta menjalankan animasinya meskipun banyak trik
yang belum dia kuasai sehingga dia membujukku untuk mengijinkannya mengikuti
kursus.
Ketika dia tertarik untuk belajar bermain biola, tidak ada kesulitan
baginya untuk menguasai pelajaran-pelajaran yang diberikan. Semangatnya terutama
timbul jika ada pertunjukan-pertunjukan yang harus dia ikuti.
Sayangnya dia tidak telaten mengumpulkan hasil-hasil karyanya, tidak
tekun dalam proses penyelesaian pekerjaan, mudah bosan terhadap suatu bidang
jika target yang ditetapkannya sendiri telah tercapai, mudah menyerah dalam
bidang-bidang di luar minatnya, dan minatnya sangat mudah berubah sehingga
ketika dia mempunyai ide atau minat baru dengan cepat dia akan beralih dari
pekerjaan lamanya.
Aku mengenal anakku sebagai seorang pembelajar. Ketika belajar
menimbulkan perasaan tertekan kepadanya, membuatnya kehilangan motivasi, merasa
kebebasannya mengembangkan ide-ide hilang, dan kehilangan kepercayaan diri maka
wajarkah jika aku merasa ada ketidakberesan dalam proses belajar yang
diikutinya? Mungkin bukan programnya yang salah, tetapi karakter anakku tidak
tepat dengan cara belajar dan tuntutan yang ditetapkan. Bila demikian yang
terjadi, maka tugasku pulalah untuk mencari jalan keluar agar dengan potensi
yang dimiliki berikut segala keterbatasan yang ada padanya, dia mendapatkan
kesempatan terbaik mengembangkan kemampuan dirinya.
Berkali-kali kutanyakan pada anakku, bagaimana aku dapat membantunya dan
apa yang diinginkannya. Jawabannya masih tetap sama, bahwa yang diinginkannya
adalah belajar dan pintanya aku mengijinkannya untuk belajar denganku.
Pilihan harus dibuat, kumantapkan hatiku dan kuyakinkan diriku bahwa aku akan mampu memenuhi permintaan anakku meskipun tantangan dan hambatan yang akan kuhadapi tidak sedikit. Pendidikan utamanya adalah tanggungjawab orangtua. Ketika seorang anak tidak mendapatkan kesesuaian dalam memenuhi kebutuhannya akan belajar, mengapa orangtua tidak mencoba untuk kembali kepada dirinya karena semestinya orangtualah yang paling mengenal anak-anaknya.
Pilihan harus dibuat, kumantapkan hatiku dan kuyakinkan diriku bahwa aku akan mampu memenuhi permintaan anakku meskipun tantangan dan hambatan yang akan kuhadapi tidak sedikit. Pendidikan utamanya adalah tanggungjawab orangtua. Ketika seorang anak tidak mendapatkan kesesuaian dalam memenuhi kebutuhannya akan belajar, mengapa orangtua tidak mencoba untuk kembali kepada dirinya karena semestinya orangtualah yang paling mengenal anak-anaknya.
Jumat, Oktober 05, 2012
Lagu Tidur untuk Mama
“Ayo semua tidur,
jangan lupa baca doa dulu…”, kataku kepada ketiga anakku dengan cemas melihat
jarum-jarum jam dinding kami terus bergerak melewati waktu tengah malam.
“Aa dan kakak kan
besok harus sekolah”, lanjutku.
Tanpa banyak membantah
kedua anakku menuruti kata-kataku, setelah membaca doa tidur bersama-sama,
keduanya memejamkan mata dan berusaha untuk tidur.
Tapi tidak demikian
dengan putri kecilku yang berumur 2 tahun 8 bulan, dia malah merengek minta
dibacakan buku cerita Franklin dan Hujan
Badai.
“Sudah malam, De..Bacanya
besok lagi ya, tadi kan udah dibacakan dua buku..”, aku menolak permintaannya
“Mama Ita…ga bisa
bacanya..”, dia terus merengek
Aku pejamkan mataku
dan pura-pura tidur serta berusaha untuk tidak memperdulikan rengekannya,
meskipun hati kecilku tidak tega.
“…petir…kata
Franklin…”, kudengar dia pura-pura membaca. Kemudian diulanginya lagi kata-kata
tersebut sampai tiga kali.
“Mama Itaa….Nina ga
bisa bacanya…”, rengeknya lagi masih berusaha membujukku menuruti
permintaannya.
Aku tetap diam berusaha
tidak menanggapi tingkahnya, sambil mengintip untuk melihat apa yang sedang
dilakukannya. Dari sudut mataku, kulihat ia sedang membuka buka sambil
berbaring seakan-akan sedang membaca. Kulirik jam dinding, jarum panjangnya
sudah melewati angka enam dan jarum pendeknya ada diantara angka 12 dan satu.
Oh tidak…sudah setengah satu, keluhku dalam hati.
Tidak lama kemudian,
rengekannya sudah berganti dengan senandung lagu nina bobo, berikutnya kudengar
dia menyanyi,
”Mamah
bobo..ooh..mamah bobo…kalo tidak bobo digigit..KEBOO
ooh..KEBOO..”
Tidak tahan
mendengarnya, tak sengaja aku tersenyum, kemudian terdengar tawa geli kakaknya.
Mendengar ada respon
dari kami, dia tersenyum lebar dan melanjutkan nyanyinya:
“Aa bobo…ooh…Aa
bobo…kalo tidak bobo digigit..KEBOO
KEBOO…”
Tidak tahan menahan
geli, akhirnya kami berdua tertawa dan dia pun ikut tertawa melihat kami masih
terjaga. Kemudian kupeluk dia, dan berkata,”Ayo bobo…mamah ga mau digigit
kebo!”
Dia tersenyum dan balas memelukku.
Kamis, Juni 02, 2011
Martabak Mini ala Rumah
Martabak mini merupakan cemilan yang bergizi dan cukup mengenyangkan terutama untuk anak-anak usia sekolah yang sedang doyan-doyannya makan. Sebagai ibu tentunya kita harus selalu menyediakan makanan yang sehat dan bergizi agar bisa memenuhi kebutuhannya. Hal tersebut memerlukan kreativitas kita dalam mengolah makanan. Apalagi jika ketertarikan anak untuk makan adalah makan cemilan alias tidak mau makan nasi.
Martabak mini ini kesukaan Amira, anak keduaku. Sayangnya jika kita membelinya di toko, martabak mini tersebut kebanyakan hanya berisikan adonan tepung dan irisan daun bawang, sedangkan dagingnya hampir tidak ada, kecuali kalau kita rela merogeh kocek lebih dalam.
Membuka-buka kembali koleksi kumpulan resep punya mama, kutemukan resep martabak mini. Dengan sedikit variasi menyesuaikan dengan bahan-bahan yang bisa diperoleh di tukang sayur langganan, martabak mini ala rumah kuhidangkan untuk anak-anakku tersayang.
Mau coba, boleh ikuti resep berikut: kulit lumpia 30 lembar (biasanya di tukang sayur langgananku, kulit lumpia ini dijual per sepuluh lembar), daging cincang 250 gr, bawang Bombay yang sedang besarnya 2 buah (sekitar 100 gr) dicincang halus, telur ayam 6 butir, daun bawang 5 batang diiris halus, merica halus, gula pasir dan garam secukupnya, margarine untuk menumis dan minyak goreng secukupnya.
Terlebih dahulu tumislah bawang Bombay yang telah dicincang halus dengan margarine, kemudian masukkan daging cincang sampai keluar airnya. Setelah itu beri gula pasir, merica halus dan garam sesuai selera, aduk rata dan masak hingga matang. Kocoklah telur dan masukkan tumisan daging cincang beserta irisan daun bawang, aduk hingga rata. Siapkan lembaran-lembaran kulit lumpia. Taruh sesendok makan adonan isi ke atas kulit lumpia kemudian lipat. Oleskan sedikit kocokan telur supaya lipatan tidak terbuka. Panaskan minyak goreng dan masukkan martabak. Goreng sampai matang, angkat dan tiriskan.
Pada saat membuat martabak seperti resep di atas, saya sempat menambahkan irisan daun bawang kurang lebih tiga batang karena ternyata kocokan telur dan tumisan daging cincang masih cukup banyak, sehingga pas dengan tigapuluh lembar kulit lumpia. Tidak perlu kuatir adonan isi tidak terbagi rata untuk setiap martabak, karena setiap gigitan dari ujung sampai pangkal, daging cincangnya sangat terasa.
Minggu, Mei 29, 2011
Gehu Pedas Isi Daging
Suka makan gorengan? Pisang goreng, bala-bala, atau gehu alias tahu isi? Itu semua makanan kesukaanku. Murah, enak, dan praktis. Jenis gorengan yang paling aku suka adalah gehu. Tahu dengan isi toge dan sayuran lainnya, dibalut adonan tepung kemudian digoreng, yang selagi panas dimakan ditemani cabai rawit...eehm, selangit enaknya! Sekarang ada lagi jenis lain, mungkin sebagai akibat harga cabai yang sempat melambung tinggi jauh ke awan, dan untuk tetap memanjakan lidah para penggemar gehu, yaitu gehu pedas. yang satu ini tidak perlu pakai cabai lagi saat memakannya karena sudah all in di dalam campuran sayuran dan rasanya...nendang banget! Apalagi bagi pemilik perut sensitif tapi ga tau diri! Dijamin deh perut panas!Tapi bukan itu yang mau kuceritakan....
Ceritaku ini lebih karena merasa keki akibat termakan iming-iming yang ada di counter penjualan gehu pedas di depan sebuah minimarket di daerah bandung utara. Sudah lama sebenarnya aku ingin mencicipi gehu pedas di tempat tersebut tapi karena berbagai alasan keinginan tersebut selalu tertunda.
Satu waktu saat dalam perjalanan menjemput putriku dari sekolahnya, aku mampir di minimarket tersebut. kemudian saat keluar, kulihat tulisan yang tertempel di kaca counter gehu pedas "isi daging Rp. 2000"...eehm, enak nih kayaknya! pikirku. Langsung kukeluarkan selembar uang dua ribu dan kubeli satu. karena masih sangat panas, kulanjutkan perjalananku. Sesampainya di tempat parkir, aku memutuskan untuk memakannya dulu sebelum turun menjemput putriku. Gigitan pertama rasa pedas langsung menyerbu lidahku, tapi tidak ada tanda-tanda daging di dalamnya. Gigitan kedua dan berikutnya dan berikutnya...belum juga ada tanda-tanda potongan daging akan muncul. Penasaran kutengok gehu yang semakin mengecil setiap kali akan kugigit, hanya tampak irisan toge dan kol. Pasrah sudah tak kunjung kudapatkan potongan daging di dalam gehu pedas tersebut sambil terselip prasangka kurang baik terhadap penjualnya. "Wah...nipu nih!"begitu prasangkaku. Tapi apa yang terjadi, saat kuhabiskan suapan terakhir, sepotong kecil daging sapi terasa nikmat di mulut...Spontan aku tertawa sendiri...Ya, iyalah!!! Memangnya dengan harga duaribu rupiah saja, mau potongan daging seperti apa yang kuharapkan ada di dalam gehu pedas itu!!! Harapan yang terlalu tinggi.. :-)
Ceritaku ini lebih karena merasa keki akibat termakan iming-iming yang ada di counter penjualan gehu pedas di depan sebuah minimarket di daerah bandung utara. Sudah lama sebenarnya aku ingin mencicipi gehu pedas di tempat tersebut tapi karena berbagai alasan keinginan tersebut selalu tertunda.
Satu waktu saat dalam perjalanan menjemput putriku dari sekolahnya, aku mampir di minimarket tersebut. kemudian saat keluar, kulihat tulisan yang tertempel di kaca counter gehu pedas "isi daging Rp. 2000"...eehm, enak nih kayaknya! pikirku. Langsung kukeluarkan selembar uang dua ribu dan kubeli satu. karena masih sangat panas, kulanjutkan perjalananku. Sesampainya di tempat parkir, aku memutuskan untuk memakannya dulu sebelum turun menjemput putriku. Gigitan pertama rasa pedas langsung menyerbu lidahku, tapi tidak ada tanda-tanda daging di dalamnya. Gigitan kedua dan berikutnya dan berikutnya...belum juga ada tanda-tanda potongan daging akan muncul. Penasaran kutengok gehu yang semakin mengecil setiap kali akan kugigit, hanya tampak irisan toge dan kol. Pasrah sudah tak kunjung kudapatkan potongan daging di dalam gehu pedas tersebut sambil terselip prasangka kurang baik terhadap penjualnya. "Wah...nipu nih!"begitu prasangkaku. Tapi apa yang terjadi, saat kuhabiskan suapan terakhir, sepotong kecil daging sapi terasa nikmat di mulut...Spontan aku tertawa sendiri...Ya, iyalah!!! Memangnya dengan harga duaribu rupiah saja, mau potongan daging seperti apa yang kuharapkan ada di dalam gehu pedas itu!!! Harapan yang terlalu tinggi.. :-)
Selasa, Mei 03, 2011
Steak dan Pasta di Warung Laos Dago
Makan siang di Warung Laos Dago, Bandung, enaknya pas lagi sepi apalagi kalau sama anak-anak, nyaman banget...putri kecil kami yang berusia 15 bulan bebas berlari-lari ke sana ke mari. Kami memilih tempat duduk di lantai dua. Pemandangan bebas ke arah kota Bandung, meskipun merupakan hal yang biasa karena rumah kami pun punya yang satu itu, menambah asyiknya suasana. Untungnya angin bertiup dengan bersahabat sehingga suasana ruang terbuka sangat pas untuk acara keluarga kali ini.
Acara makan siang diawali dengan secangkir hot lemon tea yang dilengkapi sekeping biskuit jahe untukku dan suamiku, segelas ice chocolate favorit Fauzi dan segelas besar strawberry juice kesukaan Amira.
Hidangan utama dengan menu Spaghetti Bolognaise pesanan Amira yang pertama kali datang dengan porsi cukup banyak untuk seorang anak perempuan berusia 4 tahun. Wah..ga bakalan habis nih, pikirku. Sebelum memesan, saya sedikit membujuk Amira untuk memesan Baked Spaghetti Bolognaise, karena kabarnya menu tersebut istimewa. Sayang anakku tidak termakan rayuan ibunya. Padahal saya berharap mendapat sisanya..:-)
Fauzi memilih Sirloin Steak dengan sedikit terpaksa, karena biasanya dia selalu memilih menu Chicken Steak bila kami makan di restoran sejenis, sayangnya menu itu tidak tersedia di sini. Meskipun sudah kutawari dia untuk memesan pizza tapi dia menolaknya, mungkin sedang tidak selera. padahal kabarnya sekali lagi (!), pizza di sini asyik punya....Aku dan suamiku memesan menu yang hampir serupa dengan Fauzi, hanya bedanya pesananku dilengkapi dengan spaghetti sedangkan untuk suamiku dengan blackpepper fried rice. Kami bertiga sangat puas dengan menu pesanan kami. Fauzi makan dengan sangat lahap, semuanya habis kecuali jamur gorengnya karena memang dia tidak suka. Blackpepper fried rice-nya gurih, bahkan putri kecil kami pun semangat menunggu suapan kecil lagi dari papanya setelah mencoba, tentunya butiran-butiran blackpepper kami bersihkan terlebih dahulu. Cuma sayangnya menurut suamiku, karena dihidangkan dengan piring biasa, steak-nya jadi cepat dingin...maklum, kami berdua harus bergiliran makan untuk menjaga si kecil yang sangat senang bisa berlarian sehingga tidak mau diajak duduk.Oya, kalau memesan steak di sini, jangan lupa untuk menyampaikan kebiasaan atau kegemaran anda menikmati makanan tersebut, apakah senang dimasak setengah matang atau matang, daripada kecewa setelahnya.
Pengalaman kali ini membuat kami ingin datang lagi dan menikmati suasana serta menu di tempat tersebut. Pada kesempatan lain, aku ingin mencicipi pizzanya....
Jumat, Oktober 24, 2008
Rumah Tanpa Televisi
Televisi sudah menjadi kebutuhan yang “penting” dalam setiap keluarga pada masa sekarang ini. Rasanya sangat jarang dan akan sulit sekali menemukan rumah tanpa sebuah televisi. Bahkan dalam sebuah rumah bukan merupakan suatu keanehan terdapat lebih dari satu televisi. Begitu pula dalam keluarga kami, televisi telah menjadi sahabat yang selalu setia menemani hari-hari kami di rumah.
Fauzi sangat suka menonton film-film kartun terutama di Global TV. Pada awalnya kami tidak terlalu khawatir dengan film-film yang ditontonnya, karena masih sesuai untuk anak-anak seperti Dora the Explorer, Diego, dan Backyarddiggans. Kemudian film favoritnya berubah seiring dengan perkembangan umurnya. Jika kuperhatikan, film-film kartun yang ditonton oleh sulungku tidak cocok untuk anak-anak karena mengandung unsur kekerasan, permusuhan dan hal-hal negatif lainnya. Di samping itu, film-film tersebut selalu diulang, tidak hanya sekali dua kali tetapi tak terhitung lagi. Kucoba membatasi jadwal menonton anakku, secara bertahap kukurangi waktunya sampai akhirnya dia boleh menonton dua jam saja dalam satu hari, satu jam di pagi hari dan sejam lagi di sore hari. Saat itu, aku sudah tidak pernah menonton TV lagi, karena Fauzi selalu beralasan untuk menemaniku menonton saat jatah menonton miliknya telah habis hari itu.
Sudah sering kubaca mengenai pengaruh TV terutama bagi anak-anak, bahwa TV dengan tayangannya diyakini dapat meningkatkan agresivitas anak, menjadikan anak tidak kreatif, meningkatkan kemungkinan obesitas, dan masih banyak hal negatif lainnya. Aku juga tidak memungkiri bahwa tayangan televisi ada yang bagus dan menambah pengetahuan bagi anak, seperti acara Si Bolang yang memang menjadi favorit anakku, tetapi persentasenya sangat kecil. Berdasarkan pengamatanku, saat menonton, anakku sangat sulit untuk diajak berkomunikasi, tidak kooperatif menjalankan kewajiban-kewajibannya bahkan mengabaikan kebutuhan dirinya, seperti makan dan mandi. Dia paling tidak suka disela saat menonton, tidak suka jika kuajak bicara, serta mudah marah.
Tidak terbayangkan olehku akan mengambil langkah yang kontroversial. Setelah kukonsultasikan dengan mama dan kudiskusikan dengan suamiku, aku bertekad melaksanakan rencanaku. Akhirnya, di suatu pagi yang cerah di hari Sabtu, kuhapus peran “kotak bergambar” ini dari rumah kami, kuturunkan dia dari tahtanya, kursi kebesaran yang tidak pernah terusik selama lima tahun. Aku tidak berani membayangkan apa yang akan dilakukan oleh anakku saat mengetahui sahabat karibnya tidak lagi menemaninya. Aku hanya berdoa bahwa apa yang kulakukan adalah sesuatu yang baik dan tepat untuk kami sekeluarga. Kemudian kutinggalkan rumah untuk pergi ke kampus karena harus memberi kuliah pengganti. Kutitipkan kedua anakku yang masih tidur kepada pengasuhnya.
Siang hari begitu tiba di rumah kembali, pengasuh anakku memberi laporan mengenai apa yang terjadi selama aku pergi. Sungguh tidak terduga dan aku sangat bersyukur tidak terjadi sesuatu yang buruk terhadap buah hatiku. Saat dia bangun tidur, seperti biasa, dibawanya bantal ke sofa di ruang TV. Begitu dia membuka lemari TV yang biasanya tidak pernah tertutup, dia sangat terkejut, TIDAK ADA TV di dalamnya! TV-nya kemana, tanyanya kepada pengasuhnya. Dibawa mama, ga tau kemana, jawab pengasuhnya. Anakku termenung dan sangat kecewa. Setelah dibujuk, dia mandi seperti biasa. Tetapi saat berpakaian, anakku sangat lama berada di kamarnya, tidak keluar-keluar meskipun telah dipanggil berulang kali. Akhirnya pengasuh anakku menyusul ke kamar, dan kaget melihat yang sedang dilakukan olehnya. Anakku sedang menempelkan lampu belajar ke tubuhnya! Kejadian lain yang cukup menyulitkan adalah dia melemparkan berbagai mainannya ke atas, ke langit-langit ruang keluarga yang memang sangat tinggi. Tutup ember wadah Lego, dijadikannya piring terbang, yang hampir menyambar kepala adiknya. Meskipun demikian, dia melakukannya tidak sambil marah,bahkan cenderung tanpa ekspresi, begitu laporan pengasuhnya padaku. Mungkin karena capek dan kecewa, aku mendapatinya tertidur di sofa.
Semula aku khawatir, keadaan ini akan berlanjut cukup lama. Tapi ternyata tidak. Hari Minggu keadaannya sudah membaik. Fauzi tidak melakukan sesuatu hal yang mengkhawatirkan. Dia hanya minta diijinkan bermain komputer dan kemudian bermain keluar bersama teman-temannya.
“Ma, TV-nya dikemanain?”, tanyanya tiba-tiba.
Aku menatapnya, kemudian kujawab,”Mama singkirin”.
“Disingkirin ke mana?”,tanyanya lagi. “Dikasihin ke yang butuh”.
“Kenapa?”
“Karena mama ga mau Fauzi rusak”
“Rusak kenapa?”, anakku terus mengejar dengan pertanyaan-pertanyaannya
“Gara-gara nonton TV terus, Fauzi jadi susah mandi, susah makan, sering marah-marah, ga mau ngapa-ngapain….”, kujawab panjang lebar.
“Oooo….”
“Kapan kita punya TV lagi?”, lanjutnya.
“Mama ga bisa jawab sekarang, sayang.” Kusudahi percakapan kami.
Hari ini enam bulan telah berlalu. Televisi masih berada dalam persembunyiannya, entah berapa lama lagi. Aku masih bertahan dengan keputusanku, tidak menghadirkan televisi di tengah-tengah keluarga kami. Meskipun keinginan Fauzi untuk memiliki kembali TV masih tinggi, tetapi dia tidak pernah memaksa. Dia hanya bertekad bisa membeli TV dari hasil usahanya sendiri, apakah itu dari tabungannya maupun pencarian hadiah kuis kue-kue kesukaannya.
“Ma, TV-nya dikemanain?”, tanyanya tiba-tiba.
Aku menatapnya, kemudian kujawab,”Mama singkirin”.
“Disingkirin ke mana?”,tanyanya lagi. “Dikasihin ke yang butuh”.
“Kenapa?”
“Karena mama ga mau Fauzi rusak”
“Rusak kenapa?”, anakku terus mengejar dengan pertanyaan-pertanyaannya
“Gara-gara nonton TV terus, Fauzi jadi susah mandi, susah makan, sering marah-marah, ga mau ngapa-ngapain….”, kujawab panjang lebar.
“Oooo….”
“Kapan kita punya TV lagi?”, lanjutnya.
“Mama ga bisa jawab sekarang, sayang.” Kusudahi percakapan kami.
Hari ini enam bulan telah berlalu. Televisi masih berada dalam persembunyiannya, entah berapa lama lagi. Aku masih bertahan dengan keputusanku, tidak menghadirkan televisi di tengah-tengah keluarga kami. Meskipun keinginan Fauzi untuk memiliki kembali TV masih tinggi, tetapi dia tidak pernah memaksa. Dia hanya bertekad bisa membeli TV dari hasil usahanya sendiri, apakah itu dari tabungannya maupun pencarian hadiah kuis kue-kue kesukaannya.
Adakah yang berubah? Banyak sekali. Fauzi jadi lebih menekuni hobi menggambarnya, semakin tertarik untuk bisa membaca, mau berlatih menulis atas keinginannya sendiri, semakin kreatif dengan mainan Legonya, dan semakin sering berinteraksi dengan adik semata wayangnya. Intensitas marahnya juga semakin berkurang, jauh lebih kooperatif dan lebih sehat tentunya.
Tetapi saya tidak melarangnya untuk menonton jika ada kesempatan. Seperti jika dia di rumah Eninnya. Dan itupun tidak lama, selain karena waktu yang singkat, dia juga harus mau berbagi tayangan TV dengan Enin atau Oomnya. Dari hal ini kulihat, kesediaannya untuk berbagi juga menjadi lebih baik.
Tetapi saya tidak melarangnya untuk menonton jika ada kesempatan. Seperti jika dia di rumah Eninnya. Dan itupun tidak lama, selain karena waktu yang singkat, dia juga harus mau berbagi tayangan TV dengan Enin atau Oomnya. Dari hal ini kulihat, kesediaannya untuk berbagi juga menjadi lebih baik.
Sebuah rumah tanpa televisi sangat mungkin untuk diwujudkan. Mungkin ada ruginya tetapi manfaat yang kami rasakan ternyata jauh lebih banyak. Masih ada media lain yang bisa kami gunakan sehingga kamipun tidak perlu khawatir ketinggalan berita.
Kamis, Juli 12, 2007
Delapan Bulan
Putri kecil kami sekarang sudah berumur delapan bulan. Sudah bisa didudukkan, senang berceloteh dan sedikit galak. Hobinya adalah melihat kucing. Setiap bangun tidur di pagi hari, kata pertama yang keluar dari mulutnya adalah "mpuh", maksudnya "pus"... itu artinya "mama, ayo kita keluar lihat pus!"
Mia juga paling senang kalau saat mandi tiba, dia bisa berendam, satu lagi hobinya yang kalau tidak diturut bisa membuatnya menangis sangat keras dan airmatanya berurai deras.
Makannya sudah tambah banyak dan sering, bisa sampai 4 kali dalam sehari, tentunya diluar minum susu mama!
Jalan-jalan keliling kompleks atau meninjau lapangan golf tidak luput masuk daftar kegiatan sehari-harinya. Apalagi kalau papa pulang ke Bandung...bisa 3 kali sehari!!!
Mia juga paling senang kalau saat mandi tiba, dia bisa berendam, satu lagi hobinya yang kalau tidak diturut bisa membuatnya menangis sangat keras dan airmatanya berurai deras.
Makannya sudah tambah banyak dan sering, bisa sampai 4 kali dalam sehari, tentunya diluar minum susu mama!
Jalan-jalan keliling kompleks atau meninjau lapangan golf tidak luput masuk daftar kegiatan sehari-harinya. Apalagi kalau papa pulang ke Bandung...bisa 3 kali sehari!!!
Selasa, April 17, 2007
Tak Mau Susu Formula
Amiraku sudah berumur lima bulan sekarang. Tambah lucu, tambah cantik dan tentunya tambah pintar. Sampai dengan saat ini aku masih memberinya ASI, semampuku. Tiap sore sepulang kerja aku selalu menampung ASI dalam botol untuk bekalnya esok hari. Sayang, ASIku tidak banyak sehingga bekalnya hanya cukup untuk dua kali minum saja. Apa boleh buat, susu formula jalan keluarnya. Tapi apa yang terjadi?...bayi mungilku memilih menahan lapar dan menungguku pulang daripada harus minum susu formula. Usahanya patut diacungi jempol karena dia mengunci mulutnya rapat-rapat agar tidak setetespun susu formula masuk ke dalam mulutnya!!!
Akhirnya kucoba memberinya pisang dan air jeruk sebagai pelipurnya laparnya selagi aku bekerja. Tidak tega rasanya dan selalu gelisah perasaanku saat membayangkan cantikku kelaparan selagi aku di kantor... semoga langkah mama tidak salah, ya Sayang!
Akhirnya kucoba memberinya pisang dan air jeruk sebagai pelipurnya laparnya selagi aku bekerja. Tidak tega rasanya dan selalu gelisah perasaanku saat membayangkan cantikku kelaparan selagi aku di kantor... semoga langkah mama tidak salah, ya Sayang!
Minggu, Maret 05, 2006
Rumah Kardus

Awalnya Fauzi menemukan kardus-kardus bekas komputer, pompa air dan entah apalagi yang sengaja kusimpan dalam keadaan terlipat rapi di kamar garasi (..kupikir siapa tahu ada gunanya kelak). Dengan kardus-kardus itu dia membuat jalan mobil di ruang keluarga kami dan dilintasinya jalan tersebut dengan sepedanya kesana kemari. Mungkin lama kelamaan jalan mobil dirasanya sudah tidak menarik lagi, sehingga dia mulai mencoba masuk ke kardus bekas pompa air yang cukup besar. Dia melipat dirinya supaya bisa masuk. Dipanggilnya aku yang sedang asyik di depan komputer dan disuruhnya mengetuk kardus itu, berpura-pura bertamu... ada-ada saja ide anak kecil ini! Kemudian sedikit demi sedikit mulai dibawanya segala peralatan ke dalam kardus itu; bantal, sebotol air putih, boneka singa kecil Kiara dan Legonya. Terbayang sempitnya di dalam sana...tapi anehnya Fauzi sangat menikmati. Bahkan kardus itu dibawanya juga masuk ke kamar saat waktu tidur tiba (nanti dimakan tikus, begitu alasannya!) dan saat bangun pagi keesokan harinya, barang pertama yang dia ambil adalah … ya kardus itu!
Karena prihatin rumah kardusnya terlalu kecil, papanya membongkar garasi dan membersihkan kardus bekas TV, yang tentunya jauh lebih besar dari kardus pompa air. Kardus TV diubah menjadi sebuah rumah kecil lengkap dengan pintu, jendela dan teras kecil di depannya. Fauzi senang bukan main saat rumah kardus itu jadi dan bisa dipakainya bermain. Semua barang-barang favoritnya masuk ke sana seperti saat dia masuk kardus pompa air. Keinginan dia selanjutnya adalah ... MENCAT rumah barunya....
Hmmm, anak-anak memang mengagumkan. Idenya selalu ada, kemauannya juga begitu banyak, bahkan tenaganya juga seakan tidak ada habisnya. Bermain, bermain, dan bermain , tapi di balik semua itu banyak yang dia pelajari. Sambil bermain rumah kardus, kutanyakan beberapa hal pada Fauzi,
· Kenapa harus ada pintu dan jendela?Kalau mau masuk dan keluar harus lewat pintu, jendela itu buat melihat keluar dan supaya tidak panas
· Kalau atap dan dinding untuk apa?Biar ga kehujanan dan orang-orang ga bisa liat kalau Fauzi sedang ganti baju
· Mama bisa ga masuk ke rumahnya Fauzi?Ga bisa, mama kan besar, rumahnya kecil, mama di teras aja...
· Fauzi bisa bobo di dalam sana?Bisa, tapi kakinya ditekuk (kakinya memang kadang-kadang keluar lewat jendela supaya bisa lurus. Dengan begini dia belajar mengenai konsep ruang, bagaimana dia harus menyesuaikan diri dengan kondisi ruang yang sempit, membungkuk saat melalui pintu dan melipat diri supaya bisa tidur di dalamnya)
· Kenapa harus ada pintu dan jendela?Kalau mau masuk dan keluar harus lewat pintu, jendela itu buat melihat keluar dan supaya tidak panas
· Kalau atap dan dinding untuk apa?Biar ga kehujanan dan orang-orang ga bisa liat kalau Fauzi sedang ganti baju
· Mama bisa ga masuk ke rumahnya Fauzi?Ga bisa, mama kan besar, rumahnya kecil, mama di teras aja...
· Fauzi bisa bobo di dalam sana?Bisa, tapi kakinya ditekuk (kakinya memang kadang-kadang keluar lewat jendela supaya bisa lurus. Dengan begini dia belajar mengenai konsep ruang, bagaimana dia harus menyesuaikan diri dengan kondisi ruang yang sempit, membungkuk saat melalui pintu dan melipat diri supaya bisa tidur di dalamnya)
Memang sederhana tapi aku senang Fauzi menikmati kebebasannya bermain dan bereksplorasi dengan lingkungan dan benda-benda di sekitarnya, sehingga dia bisa belajar sesuai dengan minat dan kemampuannya saat ini.
Langganan:
Postingan (Atom)
Perjalanan Minim Sampah
Minim sampah dalam perjalanan merupakan sebuah tantangan, namun hal tersebut sangat mungkin dilakukan. Memang tidak semua akan ideal seperti...
-
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh Salam kenal teman-teman semua. Apa yang akan saya sampaikan di sini merupakan pengalaman kelua...
-
LET THEM BRIGHT WITH THEIR OWN LIGHTS “Apa yang sebenarnya Aa rasakan, apa yang sebenarnya Aa tidak suka? Apakah tidak suka belajar ...


