Senin, Mei 26, 2014

Semur Bola-bola Daging Cincang

Fauzi sering memintaku mengijinkannya memasak. Biasanya dia hanya mengambil bagian saat mencampur bahan-bahannya saja. Kali ini Fauzi berkesempatan melakukannya semua prosesnya. Dia tidak mengizinkanku untuk membantunya.


Langkah pertama untuk membuat semur bola-bola daging cincang adalah membuat bola-bola dagingnya terlebih dahulu. Pada tahap awal ini, Fauzi harus memotong dagingnya kecil-kecil agar mudah saat menggiling. Proses menggiling daging menggunakan blender kering sehingga Fauzi harus pandai-pandai mengatur volume dagingnya agar blender tidak macet.


Daging giling dibumbui garam dan merica kemudian dibuat bulatan-bulatan kecil dengan dua buah sendok teh. Langsung dengan tangan juga boleh, tapi pastikan tangan dalam keadaan bersih ya...

Setelah bola-bola daging siap, tumis bawang merah dan bumbu halus (bawang putih, kemiri, dan garam) sampai harum. Tambahkan air secukupnya kemudian masukkan bola-bola daging, biarkan sampai air daging keluar.









Beri kecap dan masukkan tomat yang telah disaring. Beri garam dan merica sesuai selera. Masak sampai daging matang .











Begitu semur bola-bola daging cincang ini matang, Fauzi dan adik-adiknya langsung menyantapnya. Seperti sedang menikmati semangkok bakso... 
Semua menyukainya dan Fauzi terlihat sangat puas dengan hasil kerjanya.



Keren Fauzi! Semua tahapannya berhasil kaulakukan dengan sangat baik.


Rabu, Januari 08, 2014

Hadiah Kecil dari Nisrina

Image courtesy of digitalart
at FreeDigitalPhotos.net
"Mama bisa tolong temani Nina?" pinta putri kecilku saat aku sedang mengikuti kuliah online Bunda Cekatan dari Ibu Profesional pagi ini.
"Bisa tunggu sebentar, Sayang? Mama sebentar lagi selesai", balasku meminta waktu padanya karena saat itu memang kuliah tinggal beberapa menit lagi.
"Baiklah", jawabnya menyetujui permohonanku.

Segera kumatikan laptopku begitu kuliah berakhir, kemudian kuhampiri putri kecilku di ruang bermainnya, yang sebenarnya merupakan teras belakang rumah kami. Melihat kedatanganku, tampak raut ceria di wajahnya.
"Ayo Ma, kita main!" ajaknya sambil menyodorkan karakter stiker bongkar pasang kepadaku.
"Kita main apa, Dek?" tanyaku
"Pasang pasang baju. Orangnya Mama yang ini ya...", jawabnya.

Baru sebentar kami bermain, kulihat jam telah menunjukkan pukul setengah dua belas, sudah waktunya untuk menyiapkan makan siang. Dengan hati-hati, aku mengatakan pada putriku bahwa aku harus mulai memasak. Dengan polosnya dia menunjukkan padaku meja belajarnya yang pura-pura dianggapnya sebagai dapur, dikiranya aku masih bermaksud bermain dengannya.
Kemudian kujelaskan padanya apa yang kumaksud sambil mengajaknya turut serta ke dapur menemaniku memasak.

"Mama mau masak apa?" tanyanya
"Mau masak capcay", jawabku
"Pakai sosis ga?" tanyanya lagi
"Pakai baso, sosisnya ga ada", kujawab lagi pertanyaannya
"Aku boleh bantu Mama masak?" akhirnya dia mengutarakan keinginannya
"Boleh", kujawab permintaannya.

Begitu banyak pertanyaan yang diajukannya sepanjang proses memasak capcay, seperti mengapa basonya dibelah dua bukan dipotong dua, mengapa apinya tidak kecil saja, apa itu menumis, apa itu bawang daun, mengapa buncisnya belum boleh dimasukkan, mengapa harus pakai gula, untuk apa diberi merica, apakah garam rasanya asin, dan masih banyak lagi pertanyaan lainnya.
Sambil bertanya, tangannya ikut membantuku memasukkan bahan-bahan ke dalam wajan mengikuti petunjukku. Dengan antusias dia pun turut mencicipi rasa capcay dan mengomentari masih kurang garam serta memberi saran supaya airnya tidak perlu ditambah lagi.

Setelah capcay matang, aku melanjutkan memasak menu berikutnya, dan ternyata putri kecilku masih bersemangat untuk turut serta. Kembali pertanyaan-pertanyaan meluncur dari mulut mungilnya sembari memperhatikanku memasak.

Begitu semua makanan telah siap, dia langsung meminta makan, karena menurutnya aku memasak makanan kesukaannya. Tidak seperti biasa, dia bersikukuh untuk melakukan semuanya sendiri, mengambil lauk sampai memotong ayam dengan sendok garpu menjadi potongan kecil, dan dia menyelesaikan makan siang sampai piringnya bersih. Ditutupnya acara makan siang dengan minum air putih dan doa setelah makan.

Selesai makan, azan Dzuhur berkumandang. Kuajak dia untuk shalat. Biasanya dia akan berkilah dirinya masih kecil dan belum bisa shalat. Tapi kali ini dia menerima ajakan sambil berkata, "Aku mau belajar shalat, Ma!"
Subhanallah walhamdulillah. Sungguh bahagia mendengar jawabannya.
Diambilnya sendiri mukena dari dalam lacinya, kubantu memakainya, kemudian dia berdiri di sampingku bersiap shalat berjamaah. Selesai shalat, kuajarkan dia membaca istigfar, tasbih, tahmid dan takbir. Semua diikutinya dengan tertib.

Putri kecilku akan genap berumur empat tahun besok. Dan hari ini begitu banyak hadiah yang dia berikan untukku.
"Nina, Mama sayang Nina", begitu ucapku setiap akan tidur, dan dia akan selalu membalasnya,
"Nina juga sayang Mama. Aku bahagia bersama Mama."

Minggu, Januari 05, 2014

Sebuah Cerita "Segitiga"

Suatu malam, saat kami bertiga sudah bersiap untuk tidur, Nina bertanya padaku,
"Mama, tau cerita segitiga ga?
"Cerita segitiga? Apa itu?" balasku, balik bertanya.
"Iya, cerita segitiga...", katanya lagi

Terheran-heran aku dan Amira dibuatnya, tidak mengerti maksud perkataan putri kecilku itu.
Amira tersenyum geli, sambil terus melirik padaku mengirimkan kode-kode untuk bertanya lagi.
"Memangnya Nina tau cerita segitiga?" pancingku
"Tau", jawabnya yakin
"Boleh tolong ceritakan?" pintaku akhirnya
"Boleh", jawabnya.
"Segitiga, lingkaran, belah ketupat, jajar genjang, trapesium, segilima, persegi, persegi panjang."
"Begitu ceritanya...", Nina tersenyum menutup ceritanya.

Aku dan Amira tertawa geli mendengar penuturannya. Kemudian Amira berkomentar,"Bagus ya, Dek, cerita segitiganya!"
Nina tersenyum bangga mendengar komentar kakaknya, merasa bahwa dia berhasil menceritakan pengetahuannya kepada kami.

Rabu, Januari 01, 2014

Ulang Tahun Mama

Apa arti tanggal 1 Januari untukku?
 
Hari ulang tahun Mama.
 
Setiap tanggal 1 Januari, bukan pergantian tahun yang kami nantikan, tetapi kami menantikan saat untuk mencium Mama dan mendoakannya. Itu yang kuingat dari masa kecilku. Papa selalu mengingatkan kami untuk menunggu sampai tengah malam, agar tepat di awal 1 Januari kami bisa mengucapkan selamat ulang tahun kepada Mama dan biasanya Papa sudah menyiapkan hadiah atau kejutan untuk Mama. Hingga saat ini, setiap di penghujung malam hari terakhir suatu tahun, yang kuingat hari berikutnya adalah hari ulang tahun Mama. 
 
Tahun ini hampir empatbelas tahun berlalu  Papa  berpulang kepada Yang Maha Pencipta, berarti selama itu pula tidak ada hadiah dan kejutan di hari ulang tahun Mama, karena kami anak-anaknya tidak pernah pandai menebak keinginan sang Bunda. Setiap kali hanya sebuah ucapan doa dan kecupan yang kuberikan untuknya, itu pun tidak lagi kulakukan tepat di waktu pergantian hari.
 
Aku tahu, pasti ada kekecewaan di hatinya. Namun tak pernah sedikit pun beliau menunjukkannya. Mama selalu menjadi sosok yang penuh semangat dan ceria di mataku. Kenyataannya memang seperti itulah mamaku, seorang ibu rumah tangga yang selalu bersemangat, riang gembira, berbahagia dengan apa pun yang Allah berikan kepadanya dan tidak pernah berlebihan dalam kecukupan serta tidak kekurangan dalam kesempitan.
 
Kini aku mengikuti jejaknya, memutuskan untuk menjalankan profesi yang sama dengan dirinya. Setelah dua tahun berselang menjadi ibu rumah tangga, aku harus mengakui kehebatan mamaku, setia dengan profesinya selama 40 tahun, karena aku masih meragukan kesanggupanku untuk bisa sepertinya, apalagi melebihinya. Mamaku selalu menjadi guruku hingga saat ini, mungkin itu juga yang membuatku bertahan.
 
Mama, terima kasih atas semua yang telah engkau berikan kepada kami.
Semoga Allah selalu melimpahkan kasih sayang-Nya kepadamu, menjagamu untuk selalu berada di jalan-Nya, memberikan kelapangan rizki, kesehatan dan keberkahan dalam sisa umurmu, dan menetapkanmu sebagai hamba-Nya yang shalih serta khusnul khatimah. Aamiin. 

Jumat, Desember 13, 2013

Bersih-bersih Blog

Hari ini aku akan membersihkan blogku ini. Blog ini mau kukembalikan ke tujuan asalnya, yaitu menuliskan cerita-ceritaku sebagai wadah untukku belajar menulis.
Saat ini aku pun gerah melihat isi blogku yang campur aduk, antara latihan menulisku dengan usaha rumahku yang sedang kukembangkan.
Jadi kumpulan tulisan promosiku kupindahkan ke Butik Kecil Nisrina.
Semoga dengan demikian, aku menjadi lebih fokus dan bersemangat untuk menulis di blog ini tanpa harus terganggu dengan promosi produk.

Jumat, Desember 06, 2013

Membuat Kartu Cerita

Kesukaan Nina adalah menggunting dan menempel. Dengan kesukaannya tersebut, kucoba mengajaknya membuat kartu cerita. Biasanya dia akan menggunting apa saja, koran, majalah atau kertas-kertas yang sudah digambarinya sendiri. Hasil-hasil guntingannya seringkali terbuang setelahnya.

membuat kartu cerita



Kali ini kuajak dia untuk menempelkan hasil-hasil guntingannya ke kartu-kartu kecil yang telah kusediakan sebelumnya. Kartu-kartu tersebut kubuat dari kalender bekas yang cukup tebal kertasnya.
Gambar-gambarnya kami ambil dari majalah bekas. Nina yang memilih sendiri gambar-gambarnya.

Setelah kartu-kartunya selesai dibuat, kami bersama-sama membuat cerita bebas dari kartu-kartu tersebut. Rame juga...ceritanya ga habis-habis, selalu berubah dan berkembang. Selain itu, bisa disimpan untuk digunakan kembali di lain waktu.



Jumat, Mei 31, 2013

Sudahkah Kaucuci Piring Makanmu?


Setiap selesai makan, selalu kupesankan pada anak sulungku untuk mencuci piringnya sendiri. Meskipun sedikit mengeluh, dia tetap melaksanakan pesanku itu. Tetapi selalu ada saja barang yang disisakan untuk dicuci oleh orang lain, yaitu sendok dan garpunya. Di samping itu, piring yang dicucinya seringkali masih menyisakan bekas nasi atau minyak.

Mungkin baginya mencuci piring bukanlah sebuah pekerjaan yang penting. Namun dalam kenyataannya mencuci piring menyimpan proses pembelajaran dan pembentukan karakter di dalamnya.

Cerita berikut ini kukutip dari buku berjudul Mendidik Karakter dengan Karakter, karya Ida S. Widayanti;

Alkisah, pada suatu masa ada seorang pemuda yang mencari guru terbaik di negerinya. Ia mendengar bahwa guru yang paling hebat tinggal di sebuah tempat yang jauh dan sulit untuk ditempuh. Karena tekadnya sudah sangat kuat, maka berangkatlah pemuda itu dengan membawa perbekalan secukupnya.

Setelah menempuh perjalanan jauh, tibalah sang pemuda di tempat sang guru.

“Apa yang membuatmu tiba di tempat ini, anak muda?” Tanya sang guru.

“Saya ingin berguru agar saya menjadi orang yang arif bijaksana serta menjadi seorang pemimpin masyarakat.”

“Baiklah, sebelum saya bisa menerimamu, saya ingin bertanya, apakah engkau mencuci piring bekas sarapanmu tadi pagi?”

“Tentu saja tidak sempat, Guru. Berangkat ke sini bagi saya merupakan hal yang sangat penting, jangan sampai terganggu oleh hal yang sepele.”

“Kamu salah, sekarang pulanglah dulu. Cucilah piringmu dulu! Bagaimana mungkin engkau bisa menjadi pemimpin yang bertanggung jawab terhadap masyarakat dan negeri, sedangkan engkau tidak bertanggung jawab terhadap barang yang telah engkau pergunakan.”

Sifat tanggung jawab harus dibangun dari hal-hal yang kecil dan dari dalam dirinya sendiri, demikian hikmah yang dapat dipetik dari kisah di atas. Seorang anak sudah sewajarnya diajak untuk menyelesaikan tanggung jawabnya terhadap barang-barang yang dipergunakannya sebelum dia diminta bertanggung jawab untuk hal-hal yang lebih besar di luar rumahnya, baik itu lingkungan sekolah atau masyarakat.  

Melipat selimut, menjemur handuk, menempatkan baju kotor dalam keranjang cucian, mencuci piring bekas makan, dan memasukkan kotak bekal ke dalam tas sekolah hanyalah beberapa contoh hal kecil yang sering dilewatkan begitu saja oleh anak-anakku sebelum berangkat ke sekolah. Agar anak bertanggung jawab akan hal-hal kecil tersebut, orang tua hanya tidak boleh bosan untuk terus mengingatkan dan jangan selalu mengambil alih tanggung jawab tersebut, karena sesungguhnya rumah adalah tempat belajar utama bagi anak.

Sabtu, Mei 25, 2013

Belajar Digital Scrapbooking

Melihat hasil digiscrap karya teman-temanku di grup fb membuatku penasaran ingin mencobanya. Belajar dari ibu teman anakku melalui blognya Nadia Scraps, aku iseng-iseng mulai membuatnya. Karena aku belum rajin mengikuti perkembangan, dengan kata lain masih timbul tenggelam semangatnya, maka aku masih memakai freekits yang itu-itu saja, yang kudapatkan dari FreeDigiScrap setahun yang lalu mungkin. Selain itu aku juga menggunakan kit Tuesday Morning by Aly De Moraes dan Plentiful dari Shabby Princess. Ditambah lagi kemampuanku yang tidak meningkat dalam menggunakan Adobe Photoshop CS3, karena selalu lupa perintah-perintah yang harus digunakan. Meskipun demikian, saat mencoba membuat sendiri scrapbooking ini, aku selalu bersemangat dan bisa setia di depan komputer dalam waktu yang lama. Berikut ini adalah hasil coba-coba seorang pemula:


Saat bermain bersama di halaman depan rumah 
Sekolahku pilihanku
Want to be a popstar



Jumat, Mei 17, 2013

Cerita Pelangi

Suatu sore setelah hujan menyiram kota kami, sebuah pelangi yang indah muncul menghias langit yang telah kembali terang. Kedua putri kecil dengan gembira memanggilku untuk ikut menikmati indahnya pelangi.
"Pelanginya indah ya, Ma", komentar Nisrina, putri kecilku.
"Aku ingin dekat ke pelangi....tapi aku kan ga bisa terbang ya, Ma", lanjutnya
"Kalau aku jadi peri....tiba-tiba aku menjadi kecil! Ga bisa kan...", lanjutnya lagi
Aku terpesona dengan keindahan warna-warna yang menghias di angkasa, dan mendengar komentar putri kecilku yang berusia tiga tahun membuatku tidak dapat berkata-kata, hanya senyuman lebar tersungging di bibirku. Kemudian akhirnya menimpali komentarnya dengan sebuah anggukan dan berkata, "Iya..."
"Aku sangat sukaa pelangi... Oh, betapa indahnya", katanya lagi sambil menangkupkan kedua tangannya di depan dada.
Subhanallah, sungguh tiada yang dapat menciptakan keindahan luar biasa ini selain Allah Azza wa Jalla.

Kamis, April 04, 2013

Ketika Hafalanku Diuji Amira

Potret Amira
Saat itu Amira, putri keduaku, sedang menghafal Al Qur'an Surah An Naba di sekolahnya. Saat dia menghafalkan satu ayat setiap harinya, aku pun melakukannya di rumah. Hal itu kulakukan untuk memotivasi anakku dan juga aku, di samping akupun ingin bisa hafal dan paham Al Qur'an. Aku memacu diriku sendiri untuk selalu bisa selangkah di depannya, meskipun di hadapannya aku tidak menunjukkan bahwa aku lebih dulu darinya.

Ketika Amira mengulang hafalannya di rumah, aku mengikutinya tanpa suara. Sesekali jika dia lupa atau terpeleset, aku membantunya. Terkadang Amira suka bertanya,"Mama udah ayat berapa?" Saat dia tahu aku selangkah di depan, raut wajahnya berubah. Kalau sudah begitu, aku akan beralasan,"Sabtu Minggu kakak kan libur, jadi ga nambah hafalan. Mama kan ga ada libur, jadi lebih cepat dua ayat."

Sampai suatu hari Amira sudah menyelesaikan hafalannya sampai dengan ayat terakhir, namun dia masih lupa di beberapa bagian ayat tersebut. Sambil berpanduan pada Al Qur'an aku membimbingnya untuk memperlancar hafalannya. Setelah lancar ayat terakhir, kuminta ia mengulangnya dari ayat pertama dan permintaanku dipenuhinya dengan baik. Begitu selesai, tiba-tiba dia melihatku dengan pandangan menyelidik dari sudut matanya,"Mama apal ga dari ayat pertama? Jangan liat Qur'an!"
Sedikit kaget aku menanggapinya sikap galaknya dengan tertawa geli. Namun lanjutnya,"Coba kalo apal...!"

Meskipun merasa sedikit keki, tanpa menunggu lama aku lantunkan Surah An Naba dari ayat pertama. Alhamdulillah aku dapat terus melanjutkannya tanpa hambatan sampai dengan ayat terakhir.
Penutup lantunanku langsung disambutnya dengan senyum manis yang terkembang dari bibir mungilnya sambil memujikan,"Iya bener...Mama memang apal ya..."
Aku balas tersenyum sambil mengucap Alhamdulillah. Hatiku senang karena bisa membuatnya percaya bahwa mamanya tidak hanya mendorongnya untuk belajar menghafal Al Qur'an tapi turut melakukannya juga.

Alhamdulillah, dengan ijin-Nya kami masih terus melakukannya sampai saat ini. Sesekali sebelum tidur Amira melantunkan hafalan-hafalannya dan kemudian bertanya kepadaku mengenai hafalanku. Ketika dia mendapati aku lebih cepat darinya dia berkomentar bahwa dia akan bisa mendahuluiku.
Terima kasih sayang, semangatmu menjadi motivasi untuk mama.

Love you always!

Selasa, Februari 26, 2013

Anakku, Darimu Aku Belajar

Gaya FauziKetika kehadirannya melengkapi hidupku

Bahagia yang kurasakan sungguh tiada hingga

Menatapnya bagai melihat harapan

Meski rasa khawatir itu turut ada


Fauzi belajar sepeda
Langkah kecilnya sudah tak ada

Berlari, berlari dan selalu berlari

Melompat, berguling tak kenal henti

Bagai tak ada lelah di diri



Sabarku sering tak bersisa

Menuntutnya untuk sempurna

Padahal diri selalu bertambah baik

Melangkah mantap dari hari ke hari



Engkau selalu membuatku berpikir

Mencari dan terus mencari

Mencoba tak kenal henti

Belajar bagai tak bertepi



Karenamu sabarku teruji

Mendidikmu ikhlasku terasah

Turut pula iman dan taqwaku tertempa

Tempuh jalan melaksanakan amanah-Nya



Anakku,

Tak sedikit salahku padamu

Andai maaf dapat menghapus semua

Sungguh hanya yang terbaik ingin kuberi

Agar hidupmu mantap penuh berkah


Senyum Fauzi

Terima kasihku sungguh tak terhitung

Tak cukup bibir ini hanya mengucap

Namun baru ini yang dapat kuberi

Mendidikmu tak lelah tak henti



Anakku,

Darimu aku belajar

Ilmu yang tak pernah kujumpa

Dari pakar dan para ahli

Menjadi diri seorang ibu yang sejati



Terinspirasi oleh Fauzi Dhiya Arshaad, Juni 2008

Perjalanan Minim Sampah

Minim sampah dalam perjalanan merupakan sebuah tantangan, namun hal tersebut sangat mungkin dilakukan. Memang tidak semua akan ideal seperti...